Tentang Mahasiswa

*Disklemer : ini bukan artikel tentang arti Mahasiswa, peran dan fungsi mahasiswa ataupun hal-hal serius lainnya. ini hanyalah tulisan kenangan seorang mantan mahasiswa sahaja.

Gara-gara baca tulisan Jensen yang terinpirasi dari beberapa status FB Joesatch hari ini.  Saya pun jadi gatal tangan untuk nulis cerita tentang contek mencontek saat SMP, SMU & Mahasiswa, kenapa Mahasiswa? aih sudahlah, saat SD, SMP & SMU saya termasuk siswa alim yang jauh dari predikat “Siswa Bermasalah” sangat alim sekali. Satu-satunya yg saya ingat soal “berandal” disekolah hanyalah membagi-bagikan barang2 jualan dari sekolah secara gratis dan ketahuan Guru Kelas jadi terpaksa harus merogoh kocek uang kiriman bulanan untuk menutupi harga barang tersebut juga rela berjemur dibawah terik matahari dipinggiran pantai akibat sekolah yang bersebelahan dengan pantai. Maklumlah sekolah saya di SMEA jurusan Bisnis yang tiap bulan ada pembagian jatah jualan begitu *tapi ga pernah sukses saya untuk menjualnya lebih banyak dibagi2 dan ditomboki sendiri asal jangan ketahuan Guru Sekolah :D*

Etapi itu bukan yang mo diceritain dan bukan topik utama posting ini. Pada saat baru jadi mahasiswa baru yang lagi culun-culunnya, yang menganggap predikat Mahasiswa sebagai “Intelektual Sejati” *halah* Pemikiran bahwa penampilan harus rapi, minimal penampilan standart ala Mahasiswa : Celana Levis, Sepatu, Baju Kaos putih Plus Kemeja kotak2 yang dibuka seperti gambar dibawah ini nih jadi semacam seragam wajib. tanpa itu kerasa bukan mahasiswa deh 😀

Balik ke topik, di Kampus saya itu *edited* saya punya gerombolan yang mendadak terkumpul menjadi satu senasib sepenanggungan sebagai anak2 terlantar dari keluarga pas-pasan yang kuliah di kampus pas-pasan pulak. Gerombolan ini terdiri dari : Agus yang lebih dikenal dgn sebutan “Gundul” aseli bojonegoro pernah kuliah di UPN tapi drop out, Indra “gondrong” aseli dari Lamongan juga pernah kuliah di ITS & entah kenapa memilih kabur ke kampus kami,  Candra “Abang” seorang Doktorandus Teknik Mesin lulusan ITATS dgn Cum Claude tapi karena seribu satu alasan dia mendaftar menjadi mahasiswa baru di D3 sekelas dengan Aku, diapun asli Jombang, bertetangga dengan Cak Nun,  setiap padang mbulan pastilah saya diajak kesana untuk menikmati acara Padhang mbulan-nya Cak Nun itu *kangen*. Andik “Lesus” hanya karena mukanya ada sedikit mirip dengan pelawak “Lesus” maka dipanggil Lesus sampai saat ini, dia produk Asli Jombang. ditambah yang terakhir D[y]oyok, yang entah bagaimana si Anak Babat – Lamongan itu bisa masuk ke kelas kami, karena sifatnya yang pemalu, pendiam dan anak mamih banget. tiap minggu mesti pulang ke Babat menghilangkan rasa rindunya terhadap rumahnya yang cuman berjarak dua jam. Jadi pas lah kami, Satu orang Doktorandus Mesin, Dua mahasiswa drop out dan tiga orang yang bener2 baru di dunia kemahasiswaan. Lesus, Doyok & Saya, menjalin cerita dikelas dan kampus itu.

Semester pertama : kami berenam, (walo tiga orang lain Gundul, Indra, Abang sudah pernah kuliah, tapi terpengaruh kami yang baru berpredikat mahasiswa) lalui dengan semangat yang sangat besar, sebagai mahasiswa harapan bangsa, mahasiswa yang menyadari posisinya sebagai Agen Of Change *halah*. Predikat Mahasiswa itu kami terapkan dengan cara setiap malam jarang sekali kami berenam ikutan nongkrong dengan kakak-kakak mahasiswa yang gencar-gencarnya mengajak kami ikut organisasi gerakan mahasiswa. Jadwal kami sudah tetap, habis Maghrib, ngopi, belajar sampe jam 9 atau 10, makan malam, belajar lagi terus tidur, pagi2 udah ke kampus untuk kuliah kembali, begitu setiap harinya.

Semangat belajar itu makin menjadi-jadi mendekati Ujian Tengah Semester (UTS), tak mempedulikan apapun kami mengumpulkan tiap catatan. berdiskusi tentang mata kuliah-mata kuliah yang telah di Ajarkan. sampai akhirnya saat UTS itu tiba. Karena Senin adalah ujian pertama kali kami sebagai Mahasiswa, malamnya kami bener2 berusaha keras untuk belajar. Ujian pertama itu mata kuliahnya adalah “Agama Islam” & “Dasar2 Trisula”. sejak siang kami tak keluar dari kost-kostan, membentuk kelompok belajar lalu berdiskusi. saat waktu makin malam mendekati jam 11 malam, mata2 kami pun mulai mengantuk, tiba2 Abang Candra [yang kalo dia cukur kumis dan janggutnya maka tak bisa bedakan antara Candra dengan Bobby temannya Ali Topan di Film Ali Topan anak jalanan itu] memberi usul yang sangat cerdas “Biar makin konsentrasi belajar, putar lagu2 seriossa aja yah” yang entah penyanyinya siapa.. tapi hasilnya bisa dibuktikan kami berenam tertidur dengan sukses ditambah bonus mimpi buruk dikejar2 setan gara-gara tidur diiringi lagu seriossa =))

Pagi datang, masih tetap semangat yg menggebu-gebu, kami berlima pun berangkat ke kampus, keyakinan full charge bisa menyelesaikan soal2 ujian bagaimanapun susahnya. Dan Teng..! saat pembagian kertas Ujian, soalnya sih ga terlalu2 susah amat, masih bisalah dikerjakan. tapi yang terjadi dalam kelas itu membuatku terguncang. Pegimana tidak, usaha 3 bulan penuh untuk selalu belajar keras, ditambah malam belajar penuh semangat + backsound music seriosa rasanya sia-sia belaka. Didalam kelas tak ada suasana Ujian, adanya hanyalah menyalin jawaban dari buku ke lembar jawaban *uh* setelah selesai, baru saya sadari bukan saja saya yang terguncang, tapi semua teman2 sekelas yang sudah berusaha keras untuk belajar pun turut shock. Dan mungkin sejak saat itulah kami semua dalam kelas berhenti untuk belajar keras dalam kuliah, tapi lebih banyak belajar untuk mengatur strategi menyontek secara berjamaah didalam kelas.

Dan strategi yang paling sering kami pakai serta berbuah manis adalah menjejerkan para bintang kelas dibaris pertama kursi-kursi kelas; terdiri dari para wanita-wanita perkasa : Inda Yulita Roma Sari, Nina Mutmainnah, Fitri, Mantab Trianita & Anita. Lalu dibelakangnya mengekor para lelaki-lelaki otak dengkul seperti saya ini serta lainnya, cara ini dimaksud biar para wanita2 itu selesai mengisi bagian awal, yang dikursi belakang bisa menyontek jawabannya kemudian dilanjut di kursi belakangnya juga sampe selesai ;))

Cara ini kadang sukses tapi kadang juga tidak sukses tergantung dari pengawasnya, jika pengawasnya sangat teliti maka dijamin akan sedikit kesulitan tapi tak kekurangan akal menghadapi pengawas macam begini berbagai macam cara sering kami buat biar beliau kehilangan konsentrasi dan kami dengan sukses bisa nyontek sepuasnya. Namun dari semua cara, yang paling saya ingat yaitu sebuah kebodohan yang saya lakukan sendiri *sigh*. Saat itu pengawasnya adalah Pak Budiman, seorang dosen terbang dari ITS yang terkenal sangat teliti walopun ga terlalu galak tapi cukup susah dapetin nilai bagus dari beliau. Saat itu karena datang terlambat, saya, Gundul dan Candra harus rela menempati kursi bagian depan kelas. “Berabe ini, dengan otak yg udah pas-pasan dan ga pernah belajar mesti harus duduk di bagian depan yang notabene adalah barisan kursi untuk para bintang kelas itu“. lalu setelah beberapa waktu, dengan berpura2 membaca lembar soal ujian tersebut. {yang lain udah pada kebat-kebit hati karena soalnya susah + pengawasnya teliti dan dijamin tak bisa nyontek berjamaah} saya pun dengan tanpa dosa tiba-tiba berdiri sambil pura-pura mencari sesuatu dibawah kursi saya.

Pak Budiman : Ada apa? *sambil ikut melihat kebawah kursi berusaha membantu kesulitan saya*
Saya : Anu pak… *sambil terus berusaha membolak-balik kursi dan berharap teman2 punya waktu buat nyontek* {bodoh}
Pak Budiman : ada apa? apa yang kamu cari?
Saya : engggg.. *mulai bingung* *berdiri disamping kursi*
Pak Budiman : ada yang jatuh? apa yang kamu cari??
Saya : Anu pak.. soal nomor 2 ada pertanyaan “Carilah dibawah ini jawaban yang benar” tapi saya cari dibawah kursi kok ga ada yah pak” *jderrr*
Pak Budiman : Oooooo… *dengan wajah datar* Kalo itu ga ada jawaban dibawah nak. Tapi diluar sana, coba deh kamu cari jawabannya diluar, tapi ga usah balik kesini lagi yah *masih tetap wajahnya datar*
Saya : 😐 *dengan senyum kecut melangkah keluar dan tak mengikuti ujian* hiks hiks hiks….

Tapi, anehnya di mata kuliah itu saya lulus dengan nilai B *horeeeeee* rupanya teman2 sekelas sepakat dan berinisiatif mengambil lembar jawaban, lalu meniru tulisan saya dan mengisi lembar jawaban tersebut dan akhirnya saya bisa lulus *aneh tapi seneng* .

Sejak berakhirnya UTS itu, kami sekelas menyepakati beberapa hal dan menjadikannya sebagai Aturan tak tertulis tapi harus dipatuhi oleh kami semua. Diantaranya “dilarang ada persaingan didalam kelas untuk mendapat nilai bagus, nanti setelah lulus barulah kami bersaing untuk mendapat kehidupan yang lebih baik” ;)) *terharu* dan mulai saat itu pula kami membagi tugas, karena para lelaki mulai terkena virus aktifis, nongkrong dan malas kuliah dgn alasan andalan “hanya 25% ilmu yang didapat dibangku kuliah, 75% ada diluar” maka para lelaki dengan sangat sadar dan senang hati untuk selalu berada di Warung Kopi sekitaran kampus dari pada didalam kelas. Dan tugas para wanita-wanita itu untuk selalu mengisi Absen kami jika ga kuliah. Sedang para lelaki bertugas mengerjakan setiap PR dari dosen [jika ada tapi biasanya ada terus sih], jadi setelah kami pulang malam. kamilah yang kerjakan tugas2 itu, dan para wanita bolehlah beristrahat, namun siangnya, kami boleh sesuka hati nongkrong tanpa khwatir Absen tidak terpenuhi. ;))

Suasana begitu berjalan terus sampai akhirnya kami pun selesai kuliah. eh maksudnya teman-teman lain selesai kuliah (sedang saya yang memilih untuk transfer ke s1 dari pada harus berhenti di tingkatan D3 saja), ada banyak cerita sih, kalo diceritakan semua ga bakal habis2 ini posting :)) contohnya seperti Aku & Gundul yang saking kebelet main winning eleven di PS 1 dulu, meski uang tinggal Rp. 3000 yang cukup buat makan malam saja, rela dihabiskan untuk bermain PS meski sudah pasti kami berdua kelaparan sampe pagi sebelum bisa ngutang makan di Kantin kampus. ato cerita tentang perbedaan bahasa (karena saya yang notabene adalah satu-satunya mahluk dari luar pulau jawa didalam kelas yang sudah pasti tidak bisa bahasa jawa) maka pada sebulan pertama, saya mesti jungkir balik memahami apa yang di omongkan teman-teman sekelas. Bahasa jawa pertama saya yang sangat saya hapal adalah “kate neng endi” / mau kemana? *bener kan nulisnya?* setelah itu baru misuh2 ala jawa timuran, dari yang paling kejam sampe yang kecil ala “kriikkkk…” :))

Tapi yang paling menjengkelkan anak-anak sekelas adalah saat rapat dikelas atao lagi ada pembahasan penting mengenai Senat dll., saya dengan muka tanpa dosa dan terus memasang wajah penuh pengertian saat teman2 semua lagi membahas mengenai sesuatu, tapi di akhir pertemuan, rapat biasanya diulang dari awal, hanya karena Interupsi dengan suara cempreng tak merdu sama sekali saya saat2 rapat sudah mengambil keputusan akhir “Maaf.. maaf… pake bahasa Indonesia dong.. aku ga ngerti dari tadi apa yang dibicarakan:mrgreen: dan kadang2 ada tangan yang mendadak mencekik saya dari belakang, ato lemparan kertas tisu ato buku tapi ga pernah kena lempar dengan kursi. :))

Sampe di Artikel ini, saya pun jadi kebelet nulis tentang kampus saya yang ajaib, yang tidak mengenal drop out mahasiswa (sampe angkatan2 tua pun betah dikampus), yang membebaskan mahasiswanya bersendal jepit disekitaran kampus, yang menjadi lahan subur bagi semua jenis manusia untuk menikmati pendidikan disitu. Entahlah, kalo dulu anda lewat di kampus saya, lalu menengok kedalam maka pasti anda akan melihat para mahasiswanya nongkrong dibawah pohon2 beringin, bersendal jepit, lusuh, kumuh *digampar alumni2nya* sampe berpakaian rapi seperti mahasiswa umumnya dan terselip diantara mereka pemuda2 berambut gondrong, bertatto, bahkan berambut ala Punk.. tau kan rambut yang berduri2 di atas sedang bagian samping kiri kanan botak begitu. tapi satu hal yang tak jauh dari mereka adalah secangkir kopi itam.

Dan saya pun masih punya hutang tulisan untuk “K2” sebuah rumah bagi kami, saat kuliah tidak lagi menjadi menarik, saat aktifitas lain lebih menarik.

[K2 Rumah “Anak-anak terlantar dipelihara oleh temannya“]

Rumah mentereng di ujung gang itu masih tegak berdiri. Halamannya tidak begitu luas, tapi masih cukup untuk menampung puluhan bunga dalam pot. Semuanya berubah…….. Masih jelas dalam ingatanku. Dahulu, dalam rumah itu ada gambar bintang merah. Ada juga gambar tokoh fenomenal Tan Malaka dengan ukuran besar. Tidak ketinggalan, sebuah lukisan Che Guevara yang sedang menimati rokok cerutu. Lukisan berlatar hitam putih itu pemberian dari seorang kawan. Selebihnya, aku tidak ingat lagi apa aksesoris yang menempel di ruang tamu. Ah, itu dulu.
Di bawahnya, sebuah karpet merah yang lusuh karena bercampur debu selalu menghampar. Diatas karpet itulah, jika siang hari kami berdiskusi dan jika malam hari kami dibuai mimpi. Oh ya, ada satu lagi benda berharga dirumah itu. Sebuah celengan berbentuk kubus. Dulu kawan-kawan menyebut celengan terbuat dari kayu itu sebagai penyimpan dana revolusi. Walaupun akhirnya celengan itu dibongkar sebelum penuh isinya. [Resitensia : Rumah di Ujung Gang Itu]

#Gambar 1 : Gerbang masuk Universitas Darul’Ulum Jombang
#Gambar 2 : Tipe2 mahasiswa *copot dari google*
#Link ke Joe diparagraf kedua dicopot dari Jensen

Father, Blogger.

38 Comments

  1. holoh. panjang kali ;))

  2. #wahahaha numpang ngakak dulu om, sepertinya nama kampusnya sudah tidak edited lagi:D hihihi

    wah kalo ngomong tentang mahasiswa sih, tak habis waktu untuk menceritakan, tak cukup halaman-halaman blog untuk diceritakan.

    Tapi seru banget om ceritanya, sepertinya hal demikian tak juga terjadi di kampus saya :(

    tapi sekarang dosennya sudah memberikan efek jera, siapa yang ketauan mencontek akan ditempel namanya di papan pengumuman biar ada efek jeranya. Yah diliat mana yang kemaluannya besar ups hahaha :D

  3. Boi, link ke status2 FB Joe dipindah ke sini saja! Saya juga barusan ngedit. :D

  4. wohohohoho, tumben saya bisa baca tulisan panjang ini pelan-pelan sampai selesai. kisah mahasiswa yg lucu tapi mengharukan. ah, semoga kapan2 saya bisa sharing juga tragedi2 zaman saya kuliah dulu :D

  5. ijinkin saya ngakak dulu om...
    wakakakkakakkkkk
    ralat om bukan kate neng ndi, tapi cukup kate ndi??

    wah lain ladang lain cerita nantikan crita kbrutalan sy saat mahasiswa ;)

  6. wah yang kisah ujian lucu sekaligus menggenaskan. kebayang ga nanti kalo diceritakan ke anak cucu *halah* :D

  7. @Arul
    hiihihih.. ayok tulis masa2 mahasiswa yok ahahhaha

    doh itu dosenmu galak banget ui :D

    @Jensen
    walah.. okehlah diganti :D

    @Opa Brad
    hihihihihi.. fast reading ga berlaku yah :D

    @Harri
    husttt... iyah sih lama2 jadi tau juga tapi neng endi yg seiring dipake :P

    @Takodok
    :lol:

  8. wakakakaka....
    wetengku mules moco tulisan iki...
    mari nulis tangan gak kriting ta?

  9. baca kisahnya emg bikin ngakak aja nih mas :D

    lumayan panjang tulisannya tp malah bikin penasaran pengen terus baca ceritanya... :)

  10. tulisannya panjang, tapi karena kisah ini nyata maka menarik untuk disimak :D apalagi saya tidak mengalami kisah seperti ini ketika menjadi mahasiswa dulu. atau bisa jadi dulu saya melirik pun tidak kepada mahasiswa jenis anda, bukan apa2, bukan ngece atau ngenyek, tapi sebetulnya karena ketakutan hahahaha *boong deehhh*

    lagi2 satu lagi kenangan untuk dikenang yang bikin hati senang apalagi sekarang udah hidup senang :)

  11. wah karikatur nya keren,cerita ini persis sama seperti cerita para mahasiswa lelaki di kampus saya, jika malas masuk pasti deh para wanita dirayu untuk mengisi absen mereka

  12. Mahasiswa ya?? Wah... banyak deh yg harus diceritain. Saya dulu mahasiswa biasa2 aja, nggak berandal, alim juga nggak. Namun ada juga riak2 kecil kenakalan yg teringat, walaupun juga banyak hal2 konstruktif yg lumayan berhasil yg saya bangun sejak mahasiswa. Namun masa2 itu emang unik dan pada saat itulah mungkin kita baru belajar melangkah keluar mandiri walaupun masih sebagian. Tapi yg jelas waktu itu belum ada gadget canggih (zaman saya mahasiswa). Gadget canggih yg umum dibawa mahasiswa zaman saya waktu itu adalah: Programmable calculator! Hihihi... garing ya?? :D

  13. Hmm dulu kamu pas mahasiswa sering bikin paper sepanjang ini gak?
    Gue curiga nulis panjang2 gini pas skr doank :D
    *ditendang*

  14. Mahasiswa,, memang predikat tertinggi sebagai murid sekolahan,,
    takkan pernah terlupakan,, sampai sekarang masih akrabkan :D

  15. hohoho
    mencontek adalah seni ketidakpercayaan diri
    saya saat mahasiswa pernah melakukannya
    dan maklum memang amatiran saya pun ketahuan di awal
    ah sudahlah, saya kembali mengandalkan kemampuan
    ternyata nilainya malah bagus :D

  16. hidup mahasiswa!! *lho... :mrgreen:

  17. mahasiswa jangan pacaran melulu ya, bantu mereka yang kesusahan dengan menemaninya. ok

  18. @Dharma
    asyemm. mosok sampe loro wetengmu je :P~ #sepak
    ora keriting, jempol tok cenat cenut :))

    @Mba WIen
    :P~ eh ini bukan lumayan panjang mba, tapi puaannjjjaaanggg banget :))

    @niQue
    selamatlah anda dari godaan contekan yg terkutuk *halah*
    :))

    saya tidak mengalami kisah seperti ini ketika menjadi mahasiswa dulu. atau bisa jadi dulu saya melirik pun tidak kepada mahasiswa jenis anda, bukan apa2, bukan ngece atau ngenyek, tapi sebetulnya karena ketakutan hahahaha *boong deehhh*

    sangat saya percaya.,, takut dan hanya tuhan yang tahu #eh

    @Saptriwati
    karikatur? oh iya. .entahlah siapa yg punya ide bikin begitu.. :D
    termasuk dirimu kah dirayu? #eh :D

    @Pak Yari
    kalo gadget, saya baru pake 2004, simen 35 :D
    sepakat lah pak, kalo pas jaman2 itu kita semacam baru keluar untuk mandiri sebagian :D

    wogghhh kalkulator besar itu? #lospokus :mrgreen:

    @Eka
    seringg tauk. gara2 ga boleh copy paste tulisan, setiap orang harus nulis laporan praktikum 20 lembar tulis tangan T_T
    :))

    @YSalma
    jangan dilupakan, kalo dilupakan berarti belom pernah dijalani *eh

    @Achoy
    kalo sekelas bisa mencontek dan semua secara berjamaah melaksanakan seni ketidakpercayaan diri pegimana? makanya diawal udah susah2 belajar hasilnya malah nyontek semua, mending nyontek semua tapi hasilnya nanti diliat setelah keluar :D

    @Dhila
    *sodorin megaphone* demo gih.. demo... :))

    @M A Vip
    okehhh.. terima kasih
    *tapi saya pikir Bapak tak membaca posting ini biar sebaris pun, paling di bagian judul saja kan?* :D

  19. tentang kampusnya yang ajaib, banyak mahasiswa abadi ya,...
    jadi penasaran kampus mana ni...

  20. hihihi jadi inget jaman kuliah euy

  21. fotonya kayak di depan UNDAR Jombang ya..
    salam kenal

  22. upanya teman2 sekelas sepakat dan berinisiatif mengambil lembar jawaban, lalu meniru tulisan saya dan mengisi lembar jawaban tersebut dan akhirnya saya bisa lulus

    baik banget temennya kang :)

  23. ya ampun.. jadi teringat masa kuliah dulu, ditambah lihat karikatur anak kuliahan diatas... :P ntar kalau sudah bertahun-tahun kemudian reuni palingan ngomongin cerita yang mirip sama mas ceritakan diatas :P

  24. seperti mengingat saat aku ikutan di BEM Kampusnya ..heheh
    salam hangat dari blue

  25. saya dulu waktu mahasiswa sibuk pacaran terus sampai2 nyontekpun sendirian...hiks....

  26. *ngakak njengking mbaca akal bulus kalian pas kuliah dulu*
    dan juga kesepakatannya itu sangat sweet... karena memang persaingan di kampus tak sekejam persaingan di dunia kerja *tsah*

  27. pagi mahasiswa.. :)

  28. Pengen jadi mahasiswa...
    semoga kelak bisa masuk universitas yang saya idamkan :D
    Amin

  29. @Ummi
    di jombang Bu :D ga tau skarang kalo dulu sih macam gitu pas aku kuliah ahahhaah

    @Echa
    share dongs :D

    @Kang Marto
    iyah kang :D

    salam juga kang

    @Angel
    bukan baik... tapi yah begitulah, semacam kompak berjamaah :D

    @3sna
    :P jenis mahasiswa 98 ke atas :D

    @Blue
    yaiy, blue aktivis senat nih :D

    @Boyin
    hahahahhahaha.. untung ga ajak pacarnya ke dalam kelas, biar bisa nyontek bedua pak :D

    @Mba Ira
    yah mungkin itu karena ada Candra dll yg sudah ngerti gimana dunia kerja, jadi kami kebawa kali yah :D

    @Dhila
    pagi ibu dosen :D

    @Danu
    aminnnn.... semoga tercapai :)

  30. keren..tulisannya, inspiratif ni, dunia mahasiswa memang identik dengan pas-pas an, berani jujur..salute om

  31. makasih mas.. :D

  32. saya mantan mahasiswa ;)

  33. hahaha, syukurnya saya tidak bisa dirayu :D

  34. ho'oh...ho'oh...panjang kali...kali panjang..hehe

  35. Waduh2 kebiasaan buruk menyontek mah, bayangin kalau yg nyontek itu para calon dokter bisa berabe mas, setelah lulus lupa lagi dia saat nanganin pasien hrs gmn, jadinya ya kaya sekarang ini banyak Mal Praktik Dokter..salam kenal ya

  36. :LOL:
    jadi berpikir, apakah ujian itu menentukan ilmu para peserta didik?

  37. Kalo udah di tingkat akhir baru terasa "mahasiswanya". :lol:

  38. capeknya jadi mahasiswa....

Leave a Reply