reles damai

Mengelola Perbedaan Merayakan Keberagaman

Kuas lukis itu  lincah bergerak-gerak menggores kanvas putih di teras lantai dua Rumah Bersama Komunitas Paparisa ambon bergerak di pusat kota ambon. Berbagai peralatan melukis, alat-alat musik bercampur baur dengan gelas kopi berserakan di lantai putih, dimana terlihat beberapa orang muda sibuk dengan keseriusannya masing-masing.

Petra dan Thesard adalah dua dari sekian orang muda yang telah memanfatkan rumah bersama paparisa ini, Petra yang berasal dari komunitas kanvas alifuru bersama teman-teman komunitas melukis lain menggunakan ruang kosong di lantai dua selain untuk melukis juga untuk diskusi berbagai topik tak hanya tentang melukis, namun ada musik, hiphop, perempuan dll.

Tepat di sebelah teras lantai dua tersebut, sebuah kamar kecil disulap menjadi studio mini untuk merekam lagu-lagu yang diciptakan oleh siapa saja. Dengan peralatan yang seadanya beberapa lagu dari anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas-komunitas musik telah berhasil direkam. Selain dua ruangan tersebut, pada lantai dua juga terdapat satu perpustakaan kecil dan satu ruang kerja, sedangkan di lantai pertama dimanfaatkan untuk ruang pertemuan dan juga ruang bersama yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja.

Paparisa Ambon bergerak, adalah sebuah ruang yang berdiri dengan cita-cita yang sederhana, sekedar untuk menjadi sebuah ruang pertemuan berbagai anak muda yang bergerak maju memulai sebuah perubahan dari diri sendiri secara bersama-sama.

Komunitas sebagai senjata untuk Merajut Perbedaan.

Pasca konflik komunal di Maluku segregasi antar agama begitu terasa di kehidupan sehari-hari. Segregasi yang tak hanya tercipta secara fisik namun sampai pada hal-hal terkecil pun terlihat jelas. Seperti ketika berteman, maka pilihan agama adalah salah satu pertimbangan penting dalam mengambil keputusan.

Namun dibalik, segregasi dan pembatasan-pembatasan itu, banyak anak muda yang gerah terhadap kondisi tersebut, gerakan-gerakan perubahan yang dipelopori anak muda melalui komunitas-komunitas yang berdiri sejak 2006 seperti komunitas musik, komunitas blogger, komuntias film, komunitas lukis, sastra dan lain-lain, Komunitas-komunitas ini mulai bergerak perlahan-lahan, secara independen untukmendorong setiap anak muda untuk meninggalkan konflik dan memilih merajut perbedaan secara kreatif.

Komunitas-komunitas orang muda yang lahir kemudian mampu menjadi sebuah gerakan independen terlepas dari stigma agama ataupun stigma lain yang sudah terlanjur tertanam saat konflik, anak-anak muda pun tertarik dengan berbagai komunitas yang hadir saat itu, komunitas pun tidak hanya menjadi sebuah tempat kumpul. Namun menjadi ruang-ruang bertemunya berbagai perbedaan  hingga memunculkan persahabatan dan melupakan konflik ataupun stigma-stigma yang telah ada.

Dengan saling mengenal di komunitas-komunitas, secara perlahan perbedaan-perbedaan yang ada berhasil dirajut dalam ikatan keragaman yang makin menguatkan komunitas untuk bergerak lebih baik kedepan.

Tak terhitung banyaknya aktifitas-aktifitas yang lahir dari berbagai perbedaan yang melahirkan keragaman dan telah menimbulkan energi positif sebagai modal utama dalam komunitas, Gerakan provokator damai adalah salah satu dari sekian aktifitas yang dilahirkan dari ruang-ruang pertemuan yang tercipta dari aktifitas komuntias-komuntias orang muda ambon.

Provokator Damai yang lahir sebagai sebuah antitesa terhadap provokator jahat dengan kekuatan-kekuatan anak muda yang tersebar di berbagia komunitas menjadi bukti bahwa keragaman adalah sebuah senjata utama untuk melahirkan energi positif dan menciptakan kreatifitas tak terbatas.

<p>Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *