perahu daan transportasi

Perahu & Sejarah Panjang Transportasi Kota Ambon.

Penyebrangan di Teluk Ambon menggunakan perahu sudah berlangsung cukup lama, saat perdagangan disekitaran benteng “Nosa Senhora de Anunciada” semakin ramai dengan munculnya sentra-sentra ekonomi masyarakat.

Warga diwilayah seberang teluk pun memanfaatkan peluaang ekonomi dengan perahu untuk membawa hasil bumi dari desa-desa di seberang teluk dengan cepat ke pasar di Kota Ambon. (Dari pada jalan kaki memutar teluk yang sudah pasti akan sangat jauh). Kayu bakar dan sagu adalah dua komuditas utama yang sering dijual dari seberang teluk ke kota ambon untuk memenuhi kebutuhan warga kota yang semakin ramai tersebut.

Beberapa foto hasil karya Woodbury and Page sekitar tahun 1870-an menggambarkan pantai kota ambon sangat ramai dengan perahu-perahu dan transaksi sagu mentah maupun kayu bakar.

Namun dengan semakin berkembangnya jaman, transportasi perahu pun mulai tergerus, kehadiran mobil serta jalan yang makin memudahkan masyarkat membuat transportasi menggunakan perahu-perahu tersebut perlahan mulai ditinggalkan.

Pada tahun 2016, peresmian Jembatan Merah putih yang membelah teluk ambon membuat pilihan warga untuk menyebrang teluk dengan perahu tidak lagi menarik hati. Perahu-perahu yang tersisa di penyebrangan Desa Galala – Poka mungkin saja akan menjadi cerita terakhir dalam sejarah transportasi penyebrangan teluk Ambon.

Namun, dengan melihat sejarah panjang dan berkembangnya pariwisata, perahu-perahu tersisa mungkin saja bisa dijadikan sebagai transportasi pariwisata untuk menikmati teluk Ambon. Pariwisata teluk ambon bisa saja menjadi opsi untuk terus menjaga tradisi panjang perahu sebagai penopang perkembangan kota ambon.

Memang, sudah saatnya teluk ambon dijadikan destinasi pariwisata, minimal dengan menjadi destinasi pariwisata maka pemerintah dan masyarakat mau menjaga teluk dengan segala efek-nya demi kepentingan bersama-sama.

Foto perahu yang digunakan untuk menyebrang ke Desa Rumah Tiga di Pantai Batu Merah sekitar tahun 1928. Sumber: KITLV

<p>Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *