Presiden Jokowi diatas Kapal Tanjung Sole

KMP Tanjung Sole, Tol Laut Dan Pemerataan Pembangunan

Tadi siang, Presiden Jokowi melalui akun facebooknya menulis sebuah postingan tentang penyerahan dua kapal laut untuk provinsi Maluku sebagai komitmen membangun Tol Laut untuk menurunkan harga-harga bahan pokok di Maluku. Jokowi menulis “Dua kapal feri Ro-Ro ini adalah bantuan Kementerian Perhubungan untuk memudahkan arus barang dan manusia di Maluku. Kapal Ro-Ro Lelemuku melayari rute Saumlaki-Adaut-Letwurung, sementara Kapal Ro-Ro Tanjung Sole di jalur Namlea-Manipa-Waesala. Dua kapal 500 GT (Gross Tonnage) ini berlayar di jalur tol laut!”. Dan sampai saat ini postingan itu dibagikan lebih dari 2000 kali dan menuai komentar positif yang sangat banyak.

Di timeline social media, postingan tersebut dibagikan oleh beberapa kawan di Maluku dengan pandangan positif maupun dari orang2 yang berada diluar Maluku meski kadang tanggapannya agak jauh dari substansi yang akan diangkat oleh jalur tol laut ini. Saya sebenernya ingin menulis status namun karena agak panjang jadinya menulislah ke blog, pun saya menulis ini bukan untuk memuji kinerja dari presiden, ada beberapa hal didalam postingan  soal penyerahan kapal tersebut yang memaksa saya untuk sedikit menjelajahi tentang rute-rute yang dipilih dalam Jalur Tol Laut tersebut, karena transportasi laut bukan hanya persolan sebuah kapal yang mengangkut manusia dan barang namun bagaimana soal efek domino imbas dari transportasi tersebut dirasakan oleh warga di daerah yang menjadi rute perjalanan kapal tol laut tersebut.

Namlea – Manipa – Waesala 

Namlea adalah ibukota dari Kabupaten Buru, di Pulau Buru. Seblumnya, orang mengenal Buru dan Namlea hanyalah cerita tentang sebuah pulau tempat pembuangan tapol/napol PKI, Pulau Buru dan Tapol PKI adalah dua sisi uang yang tak bisa dipishkan. Karya-karya terbaik Pramoedya Ananta Toer lahir di pembuangan Pulau Buru ini, Tetralogi Pulau Buruh bahkan dianggap sebagai karya terbaik Pram sebelum beliau meninggal.

Namun, Berapa tahun terakhir, penemuan emas di beberapa lokasi membuat Namlea seakan mendapat durian runtuh, pengenalan orang terhadap Pulau Buruh kemudian bergeser dari tempat pembuangan Tapol PKI menjadi daerah harapan yang berlimpah emas. Berbagai pertambangan rakyat dibuka untuk mendulang emas oleh warga di Pertambangan Gunung Botak. Tidak hanya warga sekitar yang mendapat untung, ribuan warga dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju Gunung Botak untuk mengais emas yang dibuka secara umum itu.

Efek lanjut dari pertambangan tersebut, mengakibatkan Namlea harus mememenuhi kebutuhan pokok dari para penambang, hal ini mengakibatkan pula transportasi dari Kota Ambon ke Namlea menjadi meningkat. Jika dulu cuma ada kapal ferry dan kapal kayu. Maka akibat pertambangan, rute kapal makin banyak bahkan kapal-kapal besar Pelni pun membuka rute menuju Namlea untuk memanfaatkan arus barang dan ribuan manusia tersebut. (Berbagai referensi tentang pertambangan maupun kota namlea bisa didapatkan dengan mudah lewat pencarian internet)

Manipa, Pulau Manipa hampir terlupakan dalam pembicaraan dewasa ini, mendengar tentang Manipa mungkin saja bayangan terlintas tentang sebuah pulau di pelosok yang entah dimana. Jangankan orang dari luar Maluku, mungkin orang Maluku sendiri (tidak termasuk penduduk Pulau Manipa) akan dengan tepat menunjukkan dimana Pulau Manipa itu berada. Orang hanya mungkin pernah mendengar soal Pulau Manipa, tapi pengetahuan tentang pulau itu pun perlahan makin menipis.

Ilustrasi Pulau Manipa di Jaman Belanda (Sumber: KITLV)

Padahal dalam sejarahnya, manipa merupakan salah satu pulau yang sangat penting bagi VOC dan pemerintah Belanda. Pulau Manipa merupakan pulau strategis yang menghubungkan Pulau Seram, Pulau Buru, Pulau Buano dalam jalur perdagangan laut. Bahkan pada jaman dulu, hubungan antara orang-orang manipa dengan pulau-pulau sekitar sudah sangat erat. Hubungan kekerabatan diantara beberapa pulau ini masih ada sampai sekarang, cuma terputus oleh transportasi yang tidak memadai. Sedangkan di beberapa dokumen, bahkan foto-foto koleksi belanda, masih terdapat beberapa foto tentang Pulau Manipa, hal ini menunjukkan betapa penting pulau Manipa sebagai salah satu jalur perdagangan rempah pada jaman dulu.

Waisala, merupakan sebuah kecamatan kecil di ujung barat Pulau Seram, dan sekarang masuk dalam Kabupaten Seram Bagian Barat, pada posisi sekarang Waisala tidak terlalu potensial dan strategis, ditambah tidak ada transportasi laut yang mendukung aktifitas warga serta jalan yang memadai dari ibu kota provinsi maupun dari ibu kota kabupaten yang berjarak cukup jauh. Maka perkembangan daerah sekitar sini berjalan cukup lambat. Jalanan rusak tanpa ada pembangunan dari pemerintah selama puluhan tahun makin menambah terisolasinya daerah-daertah tersebut untuk mencapai pusat pemerintahan dan distribusi barang pokok.

Menguji Tol Laut dan efek peningkatan ekonomi Manipa – Waisala 

Upaya pemerintah pusat dalam memperhatikan transportasi laut ini patut diacungi ratusan jempol, karena berbicara soal Maluku sekarang maka yang lebih banyak dibicarakan adalah Kota Ambon, padahal Maluku bukan cuma kota ambon belaka. Maluku adalah jejeran kepulauan dari ujung ke ujung. Pemerintah selama ini lebih banyak fokus pada bagaimana mempercantik kota Ambon, namun upaya-upaya membangun pulau-pulau kecil kalau boleh dibilang perhatiannya sangat kecil, warga dipulau-pulau kecil ini selalu mengalami kesulitan terutama bagaimana mengakses berbagai hal ke pusat kota. Transportasi yang terbatas jumlahnya, jenis transportasi yang hanya berupa kapal kayu atau kapal perintis kadang bahkan sangat tidak memanusiakan manusia. Pun di beberapa pulau, kapal perintis bahkan cuma ada sebulan sekali. sehingga informasi atau pengiriman barang hanya mampu sebulan sekali.

Harapannya tol laut ini akan menjadi jawaban bagi persoalan yang dialami masyarakat dan juga menjadi bermanfaat terutama transportasi antar pulau dari pusat provinsi sampai ke kabupaten dan kecamatan bahkan desa-desa. Sedikit gambaran tentang transportasi Tol Laut ini bisa dilihiat dari ilustrasi berikut ini:

Jalur distribusi barang dan manusia yang beralan selama ini

 

Pada gambar diatas, kita bisa melihat bagaimana distribusi bahan pokok dan manusia untuk mencapai Pulau manipa atau Waisala. agak sedikit berbelit namun jelas, hubungan antar pulau (Buru, Manipa, Seram bagian barat) terputus sama sekali, semua hal didistribusikan dari pulau Ambon, dengan menempuh jarak dan transportasi yang lumayan bikin degdegan – entah lewat laut maupun darat -. terutama ke arah waisala dimana transportasi darat tidak didukung oleh sarana jalan yang sangat tidak memadai. Pulau Manipa masih berhubungan dengan pulau buru dan pulau ambon untuk transportasi barang dan penumpang. meski dilayani oleh kapal-kapal kayu yang jika ombak besar maka semua akan berhenti.

Jalur Tol Laut

Sedangkan pada jalur tol laut (Warna merah) kita melihat ada upaya untuk melakukan koneksifitas antar pulau terutama dipusatkan dari pulau Buru ke Pulau Manipa berakhir di Waesala. Meski tetap pusat dari semua itu masih dari Ambon. Meski perpendek jarak distribusi barang ini yang dimaksud adalah dari Namlea, bukan dari pulau Ambon yang menjadi pusatnya.

Kekurangannya disini adalah solusi yang diberikan oleh pemerintah hanya berada pada garis merah. Tidak secara efektif memperpendek jarak ke kota provinsi, hanya membuat pendek jarak ke Kabupaten, padahal pusat distribusi lebih banyak di Ambon. Jarak ke kota ambon masih sama karena mereka harus melewati Namlea lagi (terutama dari waisala) hasil pertanian akan menuju Namlea, kemudian membutuhkan biaya sediikit lagi menuju pulau Ambon. Disini, tol laut sedikit kalah dari jalur lama yang meski menggunakan kapal-kapal kayu tapi bisa mendistribusikan langsung dari pulau ambon ke pulau Manipa (Tidak berlaku untuk Waisala dan Namlea). Masalah lain adalah, jika distribusi barang itu sampai di Waesala, maka akan berhenti disitu. Barang tidak akan bisa berlanjut dengan efektif ke wilayah-wilayah sekitar Waesala (Piru, Luhu, Pulau Buano dll) karena persoalan transportasi jalan darat yang tidak memadai. Meski ada jalan, namun jalan belum beraspal. masih berupa tanah yang jika musim hujan maka akan sangat berbahaya.

Jalan transportasi Waisala – Piru terutama meski statusnya jalan Nasional namun sudah berpuluh-puluh tahun cuma dijanjikan kepada warga akan diaspal. Sampai saat ini warga akhirnya menerima nasib terhadap kondisi jalan. Bahkan terakhir, jalan ini dengan nama Jalan trans Seram dijadikan korupsi oleh anggota dewan kita yang terhormat. Salah satu berita yang bisa dibaca tentang kasus Korupsi jalan trans seram ini disini.

Jalan Tran Seram Menuju Allang Asaude-Waesala. Foto Dok MC

Jalan Tran Seram Menuju Allang Asaude-Waesala. Foto Dok MC (Roesda L)

Pilihan mengakhiri distribusi barang di waisala, sebenernya sangat bagus. Namun dengan kondisi transportasi yang jelek. Maka efek dari  tol laut tidak akan terlalu memacu arus pertumbuhan ekonomi yang bagus. Pun, dengan pilihan harus ke Namlea dulu kemudian berlanjut ke ambon, maka ada sedikit memutar lagi, terutama penumpang akan punya pilihan yang jauh.

Mungkin jika tol laut ini melayari rute Namlea – Manipa – Waesala – Ambon, maka efek perputaran dan pertumbuhan ekonomi akan sangat bisa didorong tidak hanya berupa distribusi barang masuk. Namun juga hasil pertanian warga akan mempunyai pilihan dengan harga murah untuk dijual ke Namlea dan Ambon. Warga terutama di Seram Bagian Barat jika fasilitas jalan diperbaiki maka pilihan tol laut adalah pilihan paling efektif dan menguntungkan bagi warga Pulau Manipa dan sekitaran Waisala untuk memanfaatkan tol laut ini.

Sehingga apa yang diharapkan bahwa Jalur dari Tol Laut tidak akan hanya mengakibatkan efek ekonomi dan harga barang yang murah namun efek domino dari ekonomi sampai ke sejarah hubungan warga antar pulau yang selama ini hampir terputus dapat dirasakan manfaatnya. Tol laut pun akan menambah alternatif untuk mendistribusikan hasil pertanian dengan berbagai pilihan kota tujuan. Tidak hanya Ambon, Namlea dan sekitarnya pun akan menjadi pasar bagi hasil pertanian warga.

………………………………………

 

Pada akhirnya, Tol Laut yang diresmikan Jokowi sedikit banyak mengingatkan orang bahwa Maluku terdiri dari berbagai pulau-pulau dan selama ini tidak tersentuh pembangunan. Jika berbicara politik, maka ini merupakan pilihan yang sangat salah bagi Jokowi dan pemerintahnya dalam membangun, karena daerah tersebut pusat perhatian orang, pun suara yang bisa didulang dari beberapa pulau ini termasuk sangat-sangat kecil untuk ukuran Indonesia.

Tol laut yang telah diserahkan oleh Presiden kepada Pemda pada satu sisi harusnya dianggap sebagai menjadi tamparan keras bagi pejabat-pejabat dan para wakil rakyat yang selama ini sudah mendapat mandat dan tugas untuk memimpin Maluku. bahwa membangun Maluku bukan hanya membangun pulau Ambon yang terlihat setiap hari di depan mata mereka, atau membangun jembatan-jembatan megah didalam kota. Juga Mall-mall bagus yang berdiri menawarkan berbagai produk mewah. Kunci membangun Maluku adalah membangun dari pulau ke pulau memaksimalkan potensi kepulauan dan membangun untuk seluruh rakyat.

Tol laut dengan KMP Tanjung Sole dan KMP Lelemuku  yang melayani rute Saumlaki-Adaut-Letwurung adalah sebuah upaya kecil pemerintah dalam memenuhi hak-hak rakya untuk menikmati kue pembangunan dan pemerataan pembangunan. Karena pembangunan bukan hanya menjadi milik orang yang tinggal di kota-kota besar maupun kota propinsi. Pembangunan adalah hak semua rakyat, dari orang kota sampai di pelosok-pelosok desa yang jauh di kepulauan-kepulauan kecil.

Sama seperti tema hari pers nasional yang baru berakhir yakni “Maluku dan Pers bangkit dari laut”, slogan ini semoga tidak hanya akan menjadi slogan belaka ketika moment terlewati maka terlewati pula. Namun bangkit dari laut bisa diterjemahkan dengan tidak hanya berkiblat pada potensi isi lautan namun juga pelayaran-pelayaran antar pulau yang sudah dimulai oleh dua kapal tol Laut ini.

tabik.

Jokowi di atas kapal tanjung sole ~ Foto: Biro Pers Setpres

<p>Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.</p>

One Comment

  1. Hai om, kalau masih ingat saya, hebat! Hehe. Sejak bekerja di Maluku Utara, jadi sepemikiran dengan tulisan Om Almascatie :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *