Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Dialog Secangkir Kopi Untuk Perdamaian

Dialog Secangkir Kopi Untuk Perdamaian

Lebih kurang 100-an anak muda duduk mengelilingi Monumen Gong Perdamaian di Kota Ambon malam ini. Menilik raut wajah mereka, bisa diperkirakan usia mereka berkisar antara 19-23 tahun (kecuali beberapa arang tua yang turut mendampingi mereka). Malam ini, mereka berkelompok datang dari berbagai wilayah di Kota Ambon. Kemudian diketahui bahwa anak-anak muda ini merupakan kelompok pemerhati dan pekerja perdamaian, yang mulai bergiat bersama sejak meledaknya kericuhan sosial pada tanggal 11 September yang lalu di Kota Ambon.

Awalnya kelompok-kelompok ini bekerja secara terpisah di wilayah-wilayah perbatasan antara komunitas Muslim dan Kristen di Kota Ambon. Mereka melakukan kegiatan pengamanan lingkungan perbatasan, yang melibatkan warga beragama Kristen dan Muslim. Aktifitas ini merupakan inisiatif spontan warga di wilayah-wilayah perbatasan, yang bertujuan untuk menjaga wilayahnya dari berbagai kemungkinan terjangkitnya benturan antara komunitas berbeda agama. Alhasil, sebagaimana kita ketahui bersama, kericuhan 11 September hanya menyambar 3 wilayah pemukiman dan tidak menyebar secara masif di seantero kota, sebagaimana yang terjadi pada konflik tahun 1999.
Adalah sekelompok kecil anak muda lintas agama yang kemudian berinisiatif untuk mengunjungi komunitas penjaga perbatasan ini, dan membangun persahabatan dengan mereka. Kelompok penggerak awal yang berjumlah sekitar 15 orang ini terbentuk berdasarkan relasi pertemanan yang sudah terjalin sebelumnya, yang kemudian mengental menjadi kelompok peduli damai ketika peristiwa 11 September merebak. Sebagian besar dari mereka merupakan orang-orang muda usia yang mewarisi cerita-cerita tentang kegetiran konflik Maluku tahun 99 dari orang tua dan saudara-saudaranya. Di saat itu usia mereka baru berkisar antara 7-10 tahun. Usia yang belum cukup matang untuk mencerna makna kebencian, permusuhan dan dendam. Sekalipun begitu, alih-tutur cerita konflik 99 dan dampaknya, telah menginisiasi sebuah kesadaran diantara mereka untuk membangun mekanisme pertahanan bersama, guna mencegah berulangnya prahara tahun 99.

Dari beberapa kali perjumpaan diantara sesama teman, kelompok kecil ini, yang biasa mangkal di kantor Balitbang GPM, kemudian memutuskan untuk melakukan aktifitas perkunjungan ke pos-pos jaga, di wilayah perbatasan antara komunitas Muslim dan Kristen. Tidak saja mengunjungi, mereka juga bersepakat membawa kopi dan panganan kecil lainnya, untuk dibagikan kepada teman-teman lintas agama yang berjaga bersama di wilayah-wilayah perbatasan di Kota Ambon. Aktifitas itu kemudian mereka namakan “badati,” suatu ungkapan lokal yang artinya “menanggung bersama.” Apa yang mereka lakukan kelihatannya kecil, bila dibandingkan dengan berbagai seremoni perdamaian yang sering digagas kelompok lainnya. Meskipun demikian, dari aspek sentuhan kemanusiaan, boleh dikatakan ini merupakan aktifitas cerdas. Suatu upaya untuk membangun inisiatif dialog perdamaian lintas komunitas basis berbeda agama, dengan menggunakan media sederhana, namun efektif untuk membangun relasi kemanusiaan. Secangkir kopi panas dan panganan kecil adalah kebutuhan dasar bagi setiap kelompok, yang meluangkan waktunya semalam suntuk untuk berjaga-jaga di pos perbatasan; dan mereka menyediakan itu.

Kopi dan kue merajut persahabatan, itulah yang kemudian terjadi antara kelompok penggerak ini dengan teman-teman di setiap pos jaga. Keintiman sebagai sahabat perlahan terbangun, dimana aktifitas percakapan kemudian berkembang menjadi sharing bersama tentang pengalaman-pengalaman kemanusiaan di dalam kericuhan sosial yang terjadi. Saling contact via telpon genggam berlanjut, sekedar untuk mengetahui keadaan masing-masing.

Dari rangkaian pertemuan yang dialami, komunitas perbatasan ini kemudian mengembangkan gagasan untuk saling berjumpa antar kelompok penjaga perbatasan. Gagasan itu dimatangkan kemudian melalui sejumlah pertemuan, yang ditindak lanjuti dengan pertemuan-pertemuan berskala kecil lintas pos perbatasan. Rajutan lintas kelompok inilah yang kemudian berkembang sampai pada perjumpaan bersama malam ini, di pelataran monumen Gong Perdamaian.
Pada malam perjumpaan ini, gerimis yang mengguyur sejak sore ternyata tak menyurutkan langkah seratusan anak muda dari berbagai pos jaga perbatasan untuk bergabung bersama. Beralaskan lembaran koran bekas, mereka menduduki lantai yang basah sambil bercengkerama satu dengan lainnya. Terlihat beberapa orang tua bergabung bersama, tanpa merasa canggung untuk melantai diantara komunitas muda ini. Beberapa kali sound system pinjaman terdengar macet dan suaranya tak seberapa jelas terdengar. Demikian juga padamnya lampu seputaran monumen, akibat tunggakan listrik pemerintah daerah yang belum terbayarkan, membuat wajah ceria komunitas muda usia ini tak jelas terlihat. Walaupun begitu, suara-suara canda diantara sesama teman ternyata mampu melumat seluruh keterbatasan tekhnis penyelenggaraan acara malam ini.
Beberapa orang diantara komunitas ini kemudian menuturkan narasi damai yang mereka tulis. Kisah-kisah perjumpaan yang menyentuh nurani, dan mengalirkan kesejukan batin bagi mereka yang menyimaknya. Saling berbagi perasaan, pengalaman dan aspirasi tentang damai terungkap silih berganti. Beberapa orang yang merupakan korban langsung dari peristiwa 11 September yang lalu, mengharukan perjumpaan malam ini ketika mereka dengan gamblang bercerita tentang upaya mereka untuk menghapus dendam dan menggantikannya dengan pengampunan, demi hadirnya damai bagi Maluku. Satu kelompok musik rap kemudian menghentak dengan lantunan lagu tentang damai. Aksi teaterikal dan pembacaan puisi silang menyilang menghangati perjumpaan, di tengah ribuan tirus hujan yang mulai membesar. Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada aktifitas hening bersama, untuk mengenang semua korban kerusuhan, sebelum akhirnya diahiri dengan penandatanganan bersama pesan damai pada dua lembar kain putih yang dipegang beberapa aktifis damai.

Malam ini pintalan damai berbasis komunitas terlaksana dengan sederhana namun bersahaja. Suatu upaya merajut damai berbasis komunitas, yang dilakoni oleh para pemuda muda usia. Meskipun tanpa dilengkapi oleh berbagai teori rekonsiliasi ataupun dialog, mereka mampu menyentuh jantung komunitas basis dan membawanya ke dalam perjumpaan dialogis yang bernas. Tentunya kegiatan ini dilakukan dalam skala kecil, namun ia berhasil menjangkau hal prinsipil yang hendak dicapai melalui setiap upaya dialog lintas agama, yakni terlibatnya masyarakat basis berbeda agama, sekaligus mereka yang menjadi korban dari konflik berdarah komunitas berbeda agama.

Model dialog di dalam perjumpaan lintas agama semacam ini merupakan kontras dari model dialog konvensional, dimana dialog lintas agama semata-mata dianggap sebagai urusannya lembaga-lembaga agama. Dalam model konvensional dialog lintas agama, aktifitas dialog cenderung berorientasi pada teks-teks suci, sejarah dan kepemimpinan, ketimbang pengalaman-pengalaman lokal dari komunitas basis. Sebaliknya, pendekatan berbasis komunitas mengaplikasikan dialog sebagai pengalaman praktis berbagi ruang dan aktifitas, yang mana keduanya dipengaruhi, dan sekaligus mempengaruhi, pengertian kolektif komunitas tentang realitas bersama yang dihadapi.

Pendekatan berbasis komunitas seperti ini setidaknya menekankan 3 aspek penting. Pertama, pendekatan ini melibatkan berbagai segmen sosial. Para pemuda yang hadir malam ini nyatanya berasal dari berbagai latar belakang lapisan sosial dan profesi. Ke-dua, pendekatan ini berorientasi pada proses ketimbang hasil. Hal ini berbeda dengan pendekatan dialog teologis yang kerap dilakukan oleh para wakil dari lembaga-lembaga formal, dimana orientasi dialog cenderung diletakan pada hasil yang mau dicapai ketimbang proses. Orientasi proses tidak saja memperhatikan issue-issue bersama yang dibicarakan, tetapi juga bertujuan untuk memperkuat relasi-relasi kemanusiaan diantara peserta perjumpaan dialogis. Karenanya, mengeratkan jalinan pertemanan lintas kelompok perbatasan lalu menjadi salah satu tujuan dari komunitas muda yang berjumpa di tengah gerimis hujan malam ini. Hal ini tentunya penting untuk memperkuat upaya saling mendukung, sebagai prinsip utama untuk melanjutkan aktivitas mereka pada tahapan selanjutnya. Ke-tiga, pendekatan ini juga penting membuka ruang bagi berkembangnya partisipasi komunitas secara alamiah karena, sejak awal, proses ini melibatkan kelompok-kelompok komunitas basis secara fair dan berimbang.

Perjumpaan malam ini tentunya tak saja berujung pada penanda-tanganan kain putih berisikan pesan-pesan damai. Adalah jauh lebih bermakna untuk menangkap sebuah harapan bagi merebaknya kelompok-kelompok muda usia pencinta, dan sekaligus pekerja dialog perdamaian lintas iman di Kota Ambon. Kelompok muda usia yang mencintai dialog perdamaian sebagai sebuah proses, yang dikerjakan dengan militansi dan konsistensi tinggi dan terukur. Dialog antara sesama “orang basudara,” demi tercapainya masa depan masyarakat Maluku yang bermartabat. Selamat!

badati-damai-di-gong-perdamaian


Sumber dari tulisan “KOMUNITAS KOPI BADATI – Merajut Dialog Perdamaian Lintas Iman Berbasis Komunitas
Oleh: Jacky Manuputty.-“

 


Leave a comment