Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Provokator Damai: Dari Maluku untuk Perdamaian

Provokator Damai: Dari Maluku untuk Perdamaian

2Kondisi kota ambon yang pernah mengalami konflik SARA yang sangat parah di tahun 1999 – 2002 masih meninggalkan bekas luka yang belum selesai akibat proses rekonsiliasi yang hanya sekedar perbaikan fisik belaka, sementara perbaikan utama berupa hati maupun perasaan akibat trauma konflik tersebut tidak pernah ada, hingga boleh dibilang masih ada bara api yang siap meletus kapan saja di Ambon.
Sejarah mencatat bahwa konflik ambon sampai hari ini oleh pemerintah belum pernah diusus secara serius untuk mengetahui akar masalah dan siapa aktor intelektual dari tragedi kelam tersebut. Hal ini seperti dibiarkan mengambang oleh pemerintah dengan hanya mensimpelkan pemicu peritiwa paling berdarah perang antar agama di Negara ini selama bertahun-tahun berupa “akibat pemalakan salah satu warga kepada sopir angkot” sehingga terjadi penyerangan massa. Padahal dulu, pemalakan di ambon itu hal biasa. Jaman sekolah, dipalak oleh preman di pasar itu hal lumrah. tidak pernah sampai menimbulkan efek parah seperti pemalakan “ajaib” ini. Tiap gang boleh dibilang ada ‘preman’ yang siap malak orang baru yang masuk ke wilayah kekuasan.

Dan. di jaman sekarang, banyak sekali analisa atau hasil penelitian yang dipublikasi terkait konflik maluku yang menenggarai adanya settingan dari elit-elit untuk meraup keuntungan bersar dari konflik yang terjadi. Semua informasi tersebut dapat dengan mudah diakses oleh siapapun untuk menambah pengetahuan hingga tidak terjebak pada persoalan agama kristen vs islam saja. Namun ada hal lain yang sangat banyak yang mampu menjadi pemicu konflik  dan ini dipahami dengan baik oleh para aktor intelektual untuk melakukan provokasi buat warga agar terjadi konflik sesama.

Pasca konflik tersebut, kota ambon dan orang maluku umumnya memulai kehidupan baru, 2002-2005 adalah tahun-tahun dimana semua orang pelan-pelan mulai membangun kembali. Kondisi saat itu masih terlalu panas sekali. Sedikit pemicu saja mungkin akan bisa meledakkan kota. Kecurigaan dan saling intip antar islam dan kristen seakan mewarnai kehidupan. Sikap hati-hati, was-was, khawatir utamanya dalam melakukan aktifitas sehari-hari merupakan bagian lain dalam kehidupan orang maluku khususnya di kota ambon.

Saat itu juga, segregasi kehidupan mulai terasa. Orang-orang yang beragama kristen akan lebih memilih tinggal di wilayah-wilayah kristen sendiri sebagai wilayah aman dari permusuhan. Begitupun orang islam memilih untuk membangun daerah-daerah kantong islam sendiri. Segregasi ini menjadikan kota ambon terpecah menjadi dua, antara daerah islam dan daerah kristen sampai saat ini. Pemisahan ini tidak dalam bentuk membangun tembok atau apa, namun bisa saja dibatasi oleh jalan raya, sungai atau pun tanah kosong. Yang pada saat tertentu, perbatasan itu bisa menjadi ajang perang antar islam dan kristen.

Pada tahun 2011, tepat pada 11 september 2011 terjadi kericuhan di Kota Ambon yang sangat memanas. Kericuhan yang muncul saat itu dipicu oleh kematian seorang tukang ojek beragama muslim di daerah pemukiman kristen hingga menimbulkan konsentrasi masa dimana-mana dalam kota ambon.. Soal ini bisa dibaca di berbagai media online yang menuliskan semuanya secara bombastis. Meski sampai sekarang para pelaku pembunuhan tukang ojek tersebut belum terungkap oleh bapak-bapak aparat kita.

Saat itulah, provokasi melalui media terutama SMS berjalan sangat masif sekali. Provokasi yang menghasut agar konflik makin besar dan membakar semua kota ambon. Pada siang hari (11/9/11) konsentrasi massa di daerah talake (depan telkom) dan daerah Masjid Annur dan Gereja Silo sudah sangat memanas. Perang batu antar dua kel0mpok islam dan kristen. di Daerah waringin, massa mulai membakar rumah-rumah yang tidak seklompok dengan mereka. Sedang di sekitaran gereja silo, massa berhasil membakar sebuah mobil box. Yang paling saya ingat adalah aparat sangat sedikit sekali, berbeda dengan hari-hari sebelumnya dimana aparat seakan memenuhi seluruh penjuru kota. Namun saat itu, aparat hanya beberapa orang untuk menghalau ribuan massa. Orang-orang yang menghasut untuk terus memanaskan perang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. (Orang-orang inilah kita identifikasikan sebagai para provokator yang bertugas menyulut konflik makin kencang.)

Saya saat itu yang berada dilokasi sempat berpindah-pindah tempat untuk memantau, saat itu pula saya memantau di social media dan media mainstream. Pemberitaan konflik ambon begitu masif seakan-akan kota ambon sudah terbakar semuanya. Padahal, cuma dua lokasi yang terjadi konsentrasi massa, di daerah kota yang lain, suasana aman terkendali seperti contohnya di Desa Galala (sekitar 5Km dari Pusat Kota Ambon). Saat terjadi kericuhan yang memanas didalam kota disana malah mereka sedang bergembira berlomba baris berbaris.

Sore hari, Aparat pun membubarkan massa dengan tembakan-tembakan dan memaksa massa untuk mundur kembali ke basis masing-masing hingga tak membuat konsentrasi massa di jalanan. Suasana agak tenang kemudian. Namun setelah maghrib, perang rupanya makin memanas tapi bukan berpusat dijalanan secara fisik. Namun provokasi mulai dilakukan melalu teknologi SMS, Telpon, Facebook, Twitter.

Isu yang dinaikkan itu terbagi menjadi dua, untuk kelompok kristen maupun islam meski isinya mirip namun hanya di ganti subjeknya. Contohnya isu yang beredar di kalangan Islam bahwa “Telah terjadi penyerangan oleh orang kristen dan membantai hingga membakar habis rumah dan masjid di Desa Waringin” begitupun kebalikannya. SMS yang beredar di kalangan kristen adalah “Orang islam telah menyerang dan membakar serta membantai warga kristen di sekitaran talake dan waringin” atau “lasykar jihad telah memasuki kota, warga kristen diharapkan untuk waspada” Atau SMS-SMS provokasi lainnya yang mengabarkan ambon sedang dilanda penyerangan habis-habisan oleh kelompok lain ke kelompok lain. Lucunya, kebanyakan informasi dan isu tersebut malah datang dari orang-orang yang berada di luar kota ambon dari pada orang yang tinggal di kota Ambon sendiri. Saya yang saat itu tinggal tak jauh dari Mesjid Alfatah Ambon sampai terbengong-bengon dan ngikik2 sendiri membaca sms-sms provokator tersebut.

Bahkan pada satu titik, saya terpaksa harus berjalan jam 1 malam ke Mesjid alfatah hanya untuk memotret suasana mesjid dimana salah satu teman beragama kristen memaksa saya karena dikalangan warga kristen sudah beredar informasi bahwa lasykar jihad telah turun di kota ambon dan sekarang sedang berada di Mesjid Alfatah ambon. Lasykar jihad sedang bersiap-siap untuk melakukan penyerangan besar-besaran ke daerah kristen. Lucunya, kondisi mesjid alfatah malah terlihat sunyi senyap, tidak ada aktifitas apapun apalagi yang berbau kumpulan massa lasykar jihad.

Melihat ekslasi isu yang makin malam makin meningkat karena tidak ada tanggapan dari warga ambon untuk segera turun ke jalan dan melakukan kerusuhan membuat saya sadar bahwa ada tangan-tangan tak terlihat yang memaksa agar konflik benar-benar terjadi. Sampai malamnya, tiba-tiba bunyi tembakan meletus dan malah terjadi provokasi penyerangan di desa mardika yang bersebelahan dengan Desa batu merah. Namun, sayangnya provokasi tersebut tidak ditanggapi oleh warga. Bahkan informasi teman-teman yang berada di Mardika, para penyerang mereka adalah orang-orang tak dikenal, dan bukan diserang oleh desa batu merah.

Melihat masifnya permainan isu dan rumor yang dihembuskan membuat teman-teman yang selama ini bergerak di komunitas-komunitas orang muda ambon baik kristen maupun islam mengambil inisiatif untuk melakukan ferivikasi terhadap semua isu atau informasi yang berkembang, sehingga semua rumor bisa dapat diketahui kebenarannya.

 Provokasi Damai: Verifikasi Informasi 

Kerja pertama yang dilakukan oleh teman-teman adalah dengan membuat group facebook agar semua orang baik kristen dan islam bisa kumpul dan sharing informasi yang muncul. Group ini sendiri yang disetting private dan cuma memiliki beberapa anggota yang dapat “dipercaya” sebagai anggota. Tujuan dari group ini untuk melebarkan sayap untuk menjaring informasi ataupun isu yang belum jelas, melakukan ferivikasi lalu menyebarkan kembali semua informasi yang telah dihimpun sesuai fakta dilapangan kepada masyarakat, baik melalui sms atau perbincangan langsung disekitaran lingkungan. Terutama disebarkan di social media dimana isu provokasi kebanyakan berasal dari luar ambon.

Kedua, membentuk kelompok verifikasi informasi yang terdiri dari perorangan atau beberapa orang dengan jangkauan pemantauan dilokasi tempat tinggal mereka sendiri. Setiap orang yg menjadi anggota wajib memberi nomor telpon mereka dan bersedia melakukan ferivikasi jika terdapat isu atau informasi yang mengenai “kejadian” yang dekat dengan lokasi mereka. Hal ini mencegah agar setiap orang tidak melakukan pemantauan di daerah yang tak terlalu mereka fahami. setidaknya dengan melakukan ferivikasi disekitar mereka, mereka akan lebih paham kondisi lokasi tersebut.

Ketiga, jika ada isu provokasi, maka wajib di masukkan ke facebook, kemudian dilakukan ferivikasi lalu dibahas bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan ke masyarakat luas sesuai fakta tapi tidak untuk memprovokasi. Fakta atas informasi diharapkan memberi damai atau tenang bagi warga di tempat lain.

Ke-empat, melawan provokasi di media social. Ketika kerja-kerja verifikasi dilakukan, maka kami mampu membantah isu-isu yang datang baik melalui sms maupun yang lebih para isu yang berkembang di social media dengan sumber informasi dari media nasional. Saat itu hampir seluruh media nasional memberi judul “Rusuh Ambon” namun kami membantah dan mengatakan itu hanya kericuhan di dua titik dalam kota ambon dibanding kerusuhan diseluruh kota ambon. Dan akhirnya pemberitaan di media nasional pun mulai berkurang.

Ke-empat kerja yang dilakukan terus menerus tersebut mampu membuat banyak orang memahami kondisi yang ada dan fakta yang ada dilapangan. Setidaknya, saat itu kami menghindari untuk menyebarkan informasi palsu. Satu fakta dilapangan maka apa yang kami sampaikan pun harus sesuai fakta tersebut tanpa dikurangi.

Namun, perlawanan melalui social media itu hanyalah salah satu bagian dari kerja keras para relawan yang tidak ingin ambon kembali ke kerusuhan  seperti dulu. Karena kerja yang paling keras adalah bagaimana menenangkan warga kota ambon atau dilingkungan sendiri bahwa kerusuhan adalah sebuah hal yang tidak diinginkan bersama baik oleh yang kristen maupun islam. Kerja-kerja keras tersebut terus dilakukan oleh banyak orang. Pertermuan-pertemuan intens lintas agama terus dilakukan baik oleh pemuda maupun oleh pemuka agama untuk saling menenangkan diantara warga sendiri.

Pada saat itulah istilah Provokator Damai (Peace Provocateurs) mulai didengungkan. Provokator dalam KBBI diartikan sebagai “provokator/pro·vo·ka·tor/ n orang yg melakukan provokasi: perang terselubung itu melibatkan dinas rahasia, — teroris, dan pembunuh“,  dari situlah sebagai antithesis konotasi yang tidak baik itu menjadi Provokator Damai, jika para provokator mengajak orang untuk berbuat jahat/kerusuhan, maka provokator damai bertujuan untuk mengajak orang untuk berbuat damai atau baik. Dan sekarang, provokator damai sudah menginspirasi banyak orang untuk melakukan kerja-kerja provokasi untuk perdamaian dimana saja kapan saja untuk kebaikan umat manusia.

Karena kami percaya, dalam setiap manusia sejahat-jahatnya seseorang terdapat setitik kebaikan yang mampu menggerakkan hati mereka untuk menciptakan kedamaian. Dan kami percaya, kerusuhan yang pernah terjadi di Maluku hanya menimbulkan korban paling parah adalah bagi orang maluku sendiri bukan bagi siapapun diluar sana.

Catatan:  ini hanya sekedar mencicil tulisan-tulisan yang sudah lama bertahan di draft postingan dan tak pernah dipublish. dan semangatnya muncul lagi terkait dengan beragam peristiwa SARA yang mulai meronrong negara ini * Photo: Refleksi Peritistiwa 19 Januari 1999 oleh Gerakan Badati – Provokator Damai. yang kapan2 akan saya ceritakanlah.

 

One comment


Leave a comment