aru-islands

#SaveAru: Solidaritas yang Menembus Sekat-sekat Kemanusiaan

Let us stand in solidarity with them! #SaveAru

Mama Costansa Labue, perempuan berambut putih berusia 63 tahun, kelahiran Doka Barat, Aru Selatan ini mungkin tak pernah mengira sedikitpun perlawanan terhadap PT Menara Group yang berniat membuka perkebunan tebu di kepulauan Aru dengan mencaplok tanah-tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi mereka menjadi perhatian banyak orang di negara ini, meski pada keseharian dia Cuma seorang pedagang di pasar tradisional, menjual ikan, sayur, rempah-rempah dan ubi.

Tak beda jauh dengan Mama Costansa, Selpianus Kwalepa, Sekretaris Lembaga Adat Jargaria mungkin juga tak pernah menyangka bahwa ketika dia dan beberapa ketua adat Ketua Lembaga Adat Jargaria Z. Sair, Ketua Ursia Yoseph Gaite, Ketua Urlima Saleh Jerumpun, aktivis LSM berbondong-bondang datang menuju Balitbang dengan wajah kecapekan setelah sekian lama berusaha untuk bertemu dengan gubernur maluku yang ternyata sedang berangkat ke jakarta. Menghasilkan solidaritas yang dasyat untuk perjuangan mereka.

Mama Costansa, Bapak Selpianus Kwalepa dan tokoh adat lainnya adalah bagian kecil dari ribuan orang yang turun ke jalan pada akhir agustus lalu. Ribuan orang yang bergabung dalam Koalisi Pemuda & Masyarakat Adat Aru melakukan long march dari lapangan Yos Sudarso mengelilingi kota Dobo menuntut pihak berwenang mencabut izin yang telah diberikan kepada PT. Menara Group yang berencana melakukan eksploarsi di Aru. Ribuan orang ini marah karena tanpa sepengetahuan mereka tanah air mereka digadaikan oleh sekolompok orang.

“Kalo beta maso tanpa parmisi ka bapa pung rumah lalu ambel bapa pung barang2 bapa marah ka seng? ” (jika saya masuk ke rumah bapak lalu mengambil barang2 bapak tanpa permisi apakah bapak marah atau tidak?” ucap Bapak Selpianus Kwalepa.

“Orang aru bukanlah para pelaut tangguh, mereka adalah orang-orang yang menggantungkan hidup mereka terhadap hutan” ucap Miguel Garcia, salah satu videographer yang telah berkeliling kemana-mana, di Aru dia jatuh cinta dengan Burung Cendrawasih Aru yang indah dan dijuluki sebagai Birds Of Paradise. Jika hutan2 itu dihabisi oleh perusahaan maka itu adalah pembunuhan terhadap orang aru. Hutan-hutan di kepulauan aru bukan saja menjadi tempat sakral bagi orang Aru, tempat dimana situs-situs adat bagi orang aru hidup selama ini. Juga tempat tinggal habitat terbesar burung Cenderawasih jenis aru yang berbeda dengan cendrawasih papua maupun Kanguru Pohon dan Kakak Tua Hitam akan ikut lenyap dihabisi buldoser-buldoser dan berganti hutan-hutan tebu.

Namun penolakan besar-besaran orang-orang Aru seperti menembus tembok tebal yang secara sistematis dibangun untuk mencegah hal ini keluar dan menjadi informasi publik. Orang Aru menjadi seperti single fighter ketika menghadapi kekuatan para pemodal yang muncul. Kedatangan dan perjuangan orang-orang aru tidak sia-sia, perlahan tapi pasti beberapa orang yang peduli kemudian menyatakan sikap untuk ikut serta bergandengan tangan bersama orang-orang aru untuk menolak eksplorasi itu.

Gerakan #SaveAru kemudian muncul menggunakan media-media yang bisa digapai oleh warga untuk menyampaikan pendapat mereka, social media menjadi salah satu senjata yang dipakai ketika media-media mainstream berdiam diri. Dengan memaksimalkan sosial media untuk mencapai banyak orang, situs www.savearuislands.com kemudian diluncurkan sebagai sebuah media yang secara tidak langsung sebagai corong gerakan perlawanan dari warga Aru. Tak hanya situs itu. lewat twitter maupun facebook kampanye ini terus dilakukan sebagai senjata perlawanan.

Informasi kampanye #SaveAru ini kemudian menyebar dengan munculnya ribuan foto-foto dari lima benua untuk mendukung Aru merebut hak-hak mereka untuk tidak di Eksploitasi. Di Ambon, Akademisi Universitas Pattimura turut bersuara dan melakukan kajian-kajian terkait Aru sebagai bentuk perlawanan, Gereja Protestan Maluku belakangan ini mengeluarkan resolusi dan mengambil sikap untuk mendukung Aru. Aliansi Masyarakat Adat, Komnas Ham, dan beberapa lembaga besar turut serta mengambil peran dalam menyuarakan aspirasi warga aru. Dan juga puluhan komunitas, lembaga kemahasiswaan, tokoh-tokoh pejabat, anggota dewan sampai kepada anak sekolah-sekolah turut berkonstribusi.

Glen Fredly salah satu penyanyi keturunan maluku pun ikut bersuara, dalam berbagai kesempatan Glenn melakukan kampanye-kampanye savearu di panggung-panggung konser dia ataupun di wawancara-wawancara di media. Change.org salah satu lembaga petisi online di Indonesia kemudian turut serta dalam barisan, bersama Glenn Fredlly, change.org mengeluarkan petisi online untuk meminta menteri kehutanan mencabut izin yang sudah dikeluarkan terhadap Menara Group.

Gejolak di dunia online yang selalu hingar bingar kemudian bertambah dengan kreatifitas komunitas muda maluku. Salah satu lagu Tribute SaveAru yang diluncurkan oleh komunitas ini semacam menjadi anthem perjuangan bagi gerakan tersebut. Seniman-seniman lainnya kemudian secara keroyokan membuat antologi puisi savearu yang sampai tulisan ini dimuat akan memasuki buku ke tiga. Tak mau kalah, salah satu event musik paling keren sekota ambon #TrotoArt kemudian melakukan event bertajuk #SaveAru sebuah konser yang ditujukan untuk menggalang kekuatan di kota ambon untuk perlawanan terhadap eksploitasi itu. Juga para pecinta teater pun turut ambil bagian dengan melakukan kampanye turun jalan melakukan kampanye di jalanan kota Ambon.

List solidaritas ini kemudian bertambah panjang, Monica Akihary, salah satu musisi jazz belanda bersama bandnya Boi Akih, pada akhir bulan kemaren melakukan konser Jazz di Pattimura Park, Ambon. Pada akhir konser, sebagai pamungkasnya boi akih menyanyikan lagu save Aru save jargaria yang diciptakan khusus untuk membantu warga aru. Di Belanda, pada hari peringatan Wallacea, dilakukan seminar yang untuk mendukung gerakan #SaveAru bersama pakar-pakar lingkungan yang pengagum Wallacea yang dalam perjalanannya telah menuliskan tentang kekayaan alam Aru.

Mama Costansa, Bapa Selpianus, Saya, dan juga banyak orang tak pernah mengira solidaritas-solidaritas ini akan terus bertambah panjang dari sekian banyak orang yang muncul. Di #SaveAru bukanlah sebuah gerakan yang memaksa setiap orang bergerak mengikuti aturan dari gerakan ini. Namun #SaveAru telah mengetuk pintu setiap hati manusia untuk berkonstribusi sesuai dengan kemampuan mereka untuk membantu kampanye ini.

#SaveAru telah mengajarkan saya bahwa, sesuatu yang kuat tidak hanya butuh hal-hal besar juga, tapi kekuatan adalah berkumpulanya hal-hal kecil menjadi sebuah kekuatan yang semoga mampu membongkar kekuatan orang-orang serakah yang selama ini menang melawan orang-orang kecil.

Ada banyak sekali orang yang sedang melakukan kerja-kerja solidaritas untuk Aru, orang-orang yang muncul bukan karena kepentingan apapun yang tidak bisa saya tuliskan hari ini satu persatu, orang-orang yang bekerja dengan diam-diam jauh dari hingar bingar riuh jaman namun atas rasa kepedulian terhadap kemanusiaan mereka hadir dan berdiri untuk Aru.

Dan sebuah gerakan dari yang dimulai dari sebuah daerah yang mungkin tidak diperhatikan orang di Indonesia, gerakan untuk melawan orang-orang serakah mampu menjembatani sekian ribu orang dalam sebuah bingkai bernama solidaritas. Namun #SaveAru setidaknya sudah menjadi awal bagi solidaritas-solidaritas atas nama kemanusiaan, atas nama orang-orang kalah menjadi sebuah solidaritas bersama bagi siapapun yang menganggap bahwa kemanusiaan adalah diatas segalanya yang ada di permukaan bumi.

untuk informasi lebih lanjut tentang aru. silahkan baca-baca di www.savearuislands.com atau follow mereka di twitter @savearuislands atau gabung dan diskusi di grup Save Aru Islands.

Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *