jalan_lain_ke_tulehu

Tentang Novel “Jalan Lain Ke Tulehu”

Berapa jarak antara kenangan dengan seseorang yang sebenar-benarnya? Empat meter seperti yang dikatakan Said kepada anak didiknya?

Salah satu pertanyaan dalam novel Jalan Lain Ke Tulehu yang membuat tersenyum mengajak anda untuk menjawab dengan pendapat anda tentunya. Dan sudah pasti akan ada banyak sekali pendapat tentang ‘jarak’ yang dimaksud itu. Namun ketika membaca novel ini, maka bisa dibilang kenangan itu mungkin saja cuma setipis lembaran buku pada novel yang memang tidak tebal sampai pada lembaran terakhir. Kenangan yang bernama ingatan kolektif orang Maluku tentang tragedi paling gelap sepanjang hidup orang basudara di negeri raja-raja. Novel ini membuka bagian-bagian kenangan secara perlahan-lahan, menjalinnya sebegitu rupa hingga menciptakan kilasan-kilasan peristiwa yang seakan masih terasa sampai sekarang meski sudah lebih dari 15 tahun tragedi itu ada.

Jujur saja, novel ini tak sesederhana sinopsis di sampul belakang buku ini yang mungkin saja agak dibuat dramatis, sejak awal  membaca sinopsis dan melihat cover buku ini, saya ga terlalu Tertarik. Mungkin karena covernya masih agak mirip dengan Film “Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang disutradari Angga Sasongko yang akan tayang pada 19 juni nanti, sehingga pemikiran novel ini agak mirip dengan cerita film tersebut sedikit mempengaruhi saya. Namun Zen RS pada tulisan di blognya beberapa hari lalu mengatakan “Novel ini bukanlah adaptasi film atau novelisasi dari skenario film. Secara cerita, novel ini ditulis secara mandiri, tak terkait dengan skenario film CDT. Konfliknya berbeda, tokoh-tokohnya juga berbeda. Satu-satunya kesamaan dengan film CDT adalah setting cerita yang berlangsung di Tulehu, sebuah desa di Pulau Ambon

Dan hal ini memang menjadikan “Jalan lain ke Tulehu” memberi kejutan yang tidak pernah disangka. Ekspektasi saya yang biasa-biasa saja itu hancur sejak pertama membuka bab satu lalu membaca novel ini, Novel yang dibuka dengan ketegangan saat Gentur – Tokoh Utama dan salah satu wartawan yang dikirim ke Ambon untuk melakukan liputan terhadap peristiwa kerusuhan Ambon – sudah menusuk tepat di rimbun kenangan kolektif tentang kerusuhan itu. Perlahan tapi pasti Gentur membawa saya kepada jelajah ingatan sekaligus memberi saya ruang yang luas untuk menguras sampai habis kembali kenangan tentang itu pelan-pelan.

Saya juga ingin mengatakan bahwa dalam sebuah konflik yang panjang antar dua saudara, hampir pasti berlangsung permainan ingatan dan kenangan. Dalam kecamuk konflik yang membakar antara dua tetangga yang saling mengenal, saya percaya, ada ingatan yang disunting, ada kenangan yang diedit, ada memori kolektif yang diacak-acak, ada pengetahuan tentang masa silam yang dikocok ulang dan ada pemahaman tentang identitas yang dipermak. Konflik Ambon, menurut hemat saya, adalah ilustrasi sangat bagus tentang bagaimana politik ingatan menjadi elemen penting yang tak terpisahkan dari baku serang antara dua saudara.” ~ kata Zen di Blognya.

Memang novel ini tidak bercerita tentang usaha-usaha damai dari sekolompok orang atau seseorang. Namun hal tersebut malah menjadi kekuatan novel ini yang kemudian menjadikan ceritanya mengalir dengan alami tanpa harus memaksakan untuk memperlihatkan bagaimana proses perdamaian itu ada. Tidak ada tokoh antagonis ataupun orang yang benar-benar baik yang bertugas untuk perdamaian. Setiap tokoh, setiap orang yang bersentuhan semacam melakukan peran masing-masing meski tidak saling berhubungan namun ketika sudah berjalan sekian lama. Begitu pula dengan Gentur yang masih trauma akibat tragedi ’98. Gentur mengalami dilema sendiri dengan trauma masa silam yang masih menghantui sedangkan dia berada di daerah konflik yang panas. Setiap cerita saling terjalin dengan peristiwa-peristiwa yang menegangkan sampai Gentur terdampar di Desa Tulehu.

Panitia bersama pembangunan gereja silo dan Masjid Annur ~ sebuah bentuk usaha damai saat kerusuhan di maluku terjadi

Panitia bersama pembangunan gereja silo dan Masjid Annur ~ sebuah bentuk usaha damai saat kerusuhan di maluku terjadi

Selain cerita tentang suasana ketegangan di ambon saat tragedi itu. Novel ini pun memuaskan rasa penasaran orang tentang keunikan Desa Tulehu sebagai desa penghasil tunas-tunas sepakbola sudah terkenal di ingatan orang Maluku, siapapun itu. Tulehu sejak dulu kala memang sudah dihormati sebagai desa penghasil bibit terbaik dari sepakbola. Meski di kancah nasional orang lebih senang mengatakan pemain bola dari Ambon, namun dengan melihat marganya saja orang ambon akan maklum bahwa mereka adalah orang-orang Tulehu yang sejak lahir sudah mengenal apa itu bola kaki.

Dari sejarah Sepak bola di Desa Tulehu (bagi orang Tulehu dan siapapun sejarah ini menarik sih) dan bagaimana iklim sepakbola di desa ini terbangun begitu jelas dituliskan, menjadi kontras dibandingkan suasana ketegangan sebuah daerah yang dilanda kerusuhan. Setiap peristiwa yang tersimpan di ingatan-ingatan orang Tulehu tentang apapun digali pelan-pelan lalu di uraikan dengan sangat indah. Seperti ingatan orang Tulehu saat mereka bermain seri dengan Tim dari Makassar yang diperkuat oleh legenda sepakbola makassar tersebut. “Ramang”. Meski tidak semua orang mengingat siapa yang mencetak gol tapi semua tau bagaimana proses gol itu tercipta.

Kekurangan novel ini mungkin bagi orang yang berada di luar maluku tidak terlalu kerasa, tapi bagi orang ambon ada sedikit terasa meski tidak terlalu mengganggu, seperti pada percakapan-percakapan antara penggunaan melayu ambon dan bahasa indonesia kadang agak terasa janggal. Karena mungkin saya orang ambon kali yah. Jadi sedikit berkerut-kerut jidat. Juga ketika cerita tentang Gentur yang sudah berada di Desa Tulehu namun tiba-tiba beralih ke kisah hidup “Robert”, pembaca seperti mengulang lagi dari awal ketika sudah menikmati kehidupan Gentur di Tulehu dengan permasalahan-permasalahan yang ada. Meski pada akhirnya kisah robert ini mampu di tutupi dan dikembalikan lagi ke suasana Tulehu dengan bolanya. *ps. saya ga mau ngasih bocoran banyak2″ silahkan beli deh lalu dibaca”

Novel ini juga tergolong serius karena sejak awal memang sudah dibangun dengan ketegangan-ketegangan yang seakan tak habis-habis lewat cerita-cerita tragedi maupun kejadian-kejadian menegangkan. Agak susah menarik napas atau tersenyum lepas menikmati sebagai novel yang ringan untuk dibaca begitu saja. Meski ada satu adegan yang bikin ketawa saat Said sedang main bola lalu tiba-tiba teringat istrinya karena tali sepatu lalu Said berkata kepada Gentur: “Katong samua pemain bola tahu cara tahan bola. Tapi kalo beta tiba-tiba sa inga maitua gara-gara tali sapatu, beta harus bagimana? :D ups tali sepatu dan kerinduan terhadap maitua emang bikin galau :)))

Ending dari novel ini memang menggantung alias tidak tuntas. Namun bagi saya, itu tidak penting lagi karena keseluruhan buku ini adalah sebuah cerita yang memang belum berakhir. Perjuangan orang-orang Maluku untuk melawan ingatan kolektif tentang tragedi Maluku serta membangun perdamaian dalam hidup orang basudara masih terus berlangsung, hari ini, besok dan selamanya. Buku ini mungkin saja adalah salah satu keping puzzel yang melengkapi proses itu selain buku “Hidup Orang Basudara” yang telah terbit beberapa waktu lalu.

Dan pada akhirnya, saya harus mengatakan, novel ini telah ‘berhasil’ membuat cerita tentang Maluku, Kerusuhan, Tulehu, Sepakbola dan Hidup Orang Basudara ke dalam perspektif lain. Sebuah petualangan menarik tentang kerusuhan bagi anak-anak Maluku yang pernah merasakan kerusuhan untuk menjelajahi ingatan mereka sendiri dan juga ingatan bagi yang baca tulisan ini untuk segera pergi ke toko buku lalu belilah buku ini secepatnya.

Panitia bersama pembangunan gereja silo dan Masjid Annur ~ sebuah bentuk usaha damai saat kerusuhan di maluku terjadi

Cover Buku Jalan Lain Ke Tulehu

Father, Blogger.

Leave a Reply