*Tempat sirih pinang pada hari Pattimura*

Upulatu dan sebait kisah tragis

Upulatu dan Inalatu biasa kedua kata itu bersanding, mengucapkan keduanya seakan-akan kita terbawa oleh aura kemagisan dari dua kata sakral tersebut, tidak saja bermakna sebagai pemimpin tertinggi dalam jabatan adat di tanah rempah-rempah ini, upulatu adalah pemimpin diatas para raja yang bertahta dalam pranata sosial paling rendah dalam sebuah kesatuan sosial masyarakat atau desa, upulatu bahkan kadang menjadi takdir bagi mereka2 tidak hanya memiliki kearifan, kebijaksanaan, kepemimpinan namun lebih dari itu, upulatu bersanding sebagai penerjemah bahasa tuhan kepada para ummatnya. Upulatu menjadi sebuah jabatan turun temurun dalam sebuah kerajaan yang masih berada pada tingkat feodal dimana kepimpinan tidak hanya berada pada kekuasaan uang semata, tapi lebih dari pada tingkat kewibawaan, kearifan dan kebijaksanaan menjadi aura pada seseorang yang membuat orang lain tunduk, terikat sekaligus menggantungkan harapan mereka pada seseorang.

Kekuasaan seorangUpulatu tidak berakar pada sistem pranata sosial dimana dia hadir dan mengejawantah diantara mereka, lebih dari itu Upulatu membawa beban puncak seluruh anak cucu yang percaya bahwa mereka masih berasal dari Nusa Ina, pulau dimana seluruh anak manusia pada kepulauan Maluku berasal sekaligus berpencar menjelajah setiap jengkal tanah dan mendirikan kerajaan-kerajaan mereka sendiri terpisah dari asal mereka pertama, namun keberadaan dan persamaan mereka dari sebuah pulau yang bernama Nusa Ina membuat mereka menjadi yakin akan persaudaraan, persaudaraan-persaudaraan yang menjelma menjadi budaya yang sakral dan pantang dilanggar diantara yang mengucapkan sampai kepada anak cucu, budaya yang sampai sekarang masih menjadi kebanggaan bahkan ikon kebersamaan, persaudaraan, kepercayaan dan hal-hal lain yang membuat mereka masih mengingat tentang asal mereka nusa ina, Pela dan Gandong dua kata yang mempunyai arti lebih bagi pribadi2 yang mengikat sumpah setia dalam ikatan tersebut, Pela dan Gandong kadang mempunyai arti yang sama bagi sebagaian orang, tapi bagi mereka yang terikat dengan sumpah ini, Pela dan Gandong menjadi arti yang sangat penting, “Pela” adalah pembai’atan antara dua desa atau kampung dalam bahasa ambon yang merasa senasib, sesaudara tapi terputus pada pencarian silsilah dimana mereka bermuara pada sungai yang sama, “Gandong” mempunyai arti yang sedikit lebih emosional dan historis karena Gandong atau gandung dalam bahasa ambon mempunyai arti sebagai saudara gandung seayah-seibu, dan Gandong dapat berarti walaupun mereka mempunyai tempat tinggal berbeda namun mereka adalah saudara kandung yang tidak dapat dipisahkan, tingkat persaudaraan yang kadang sudah tidak bisa ditelusuri kejelasan maupun alasan ilmiahnya.

Namun ikatan Gandong menjadi sedemikian kuat sampai2 jika ada seorang gadis yang hendak menjalin hubungan dengan seorang pemuda, maka yang ditelusuri adalah marga gadis maupun pemuda tersebut jika terikat Gandong maka dipastikan terjadi pertentangan atau dengan sukarela mereka memutuskan untuk menjadi saudara dan tidak ada keinginan untuk melanggar sumpah tersebut, kekuatan sumpah Gandong menjadi larangan untuk tidak berkumpul atau bersatu seorang pemuda dan gadis dalam ikatan lain karena diantara mereka terdapat garis keturunan sedarah.

Sumpah-sumpah maupun bai’at yang dibuat secara sadar maupun secara sosial mengangkat mereka dalam kebersamaan nasib dalam perjuangan hidup, saat para raja dalam kehidupan mereka menjadi semakin lemah untuk bersikap sebagai pemimpin adat, spritual, ekonomi, sosial bahkan lebih lemah dari pemerintah yang mencabik2 kehidupan mereka menjadi penjara-penjara manusia yang berjalan, saat Sasi telah berganti dengan kegiatan penghijauan, saat pala dan sagu diganti padi dan kelapa hibrida, maka saat itulah rakyat negeri ini menjadi kehilangan pemimpin, saat pendidikan yang katanya penjamin masa depan malah menjadi pencabut generasi mereka dari lingkungan tempat tinggalnya yang menjadikan anak-anak mereka menjadi generasi pemimpi sekaligus generasi Baut dan Mur pelengkap struktur, saat itulah Upulatu yang seharusnya ada menjadi semangat dan ruh kehidupan bagi mereka dibutuhkan.

Tapi Upulatu dan Saniri serta Kapitan menjadi semakin lemah, ketidakberdayaan seorang upulatu untuk memimpin bukan karena ketidakmampuan pribadi, tapi lebih pada ketundukan seseorang pada sistem yang berlaku yang mengikat kedua kakinya sampai akhirnya sang upulatu pun bersimpuh menyerah terhadap waktu yang terus berlalu. Upulatu masih menjadi kebanggaan tersendiri, namun makna upulatu sudah bergeser jauh, upulatu tidak lagi sebagai angin sibu-sibu saat terik panas matahari, upulatu bukan lagi colo-colo untuk menemani ikan bakar sambil berdendang dipinggiran pantai, upulatu menjadi simbol ketidak berdayaan sekaligus penyerahan total nasib generasi ini dikepala-kepala yang tidak mengerti tentang sasi dan papeda, upulatu hanyalah gelar untuk memuaskan hasrat primitif sahaja, hasrat yang dibentuk tanpa ingin membuatnya hidup, hasrat untuk dipertahankan sekaligus dilumpuhkan secara total dan permanen.

Upulatu masih menjadi kata yang magis setidaknya hampir magis dengan Upu Latane dan Upu Hanite tapi dibalik itu, upulatu telah menjadi tombak-tombak bersejarah, pancang-pancang bersilang berbendera merah kain adat tempat Sasi dipatuhi puluhan tahun lalu*, upulatu telah menjadi angin sibu-sibu yang menidurkan tanpa bangun kembali. Upulatu menjadi pohon tua dan para ilalang merambatnya tanpa ampun seakan-akan diatas pohon itu tidak ada lagi kebijaksanaan yang perlu dipelajari, Upulatu perlahan-lahan tenggelam dibalik meti tempat ikan-ikan cakalang maniso menunggu para Tanase memimpin arumbai menari diatas mereka sambil mendengdankan lagu kehidupan.

*Tempat sirih pinang pada hari Pattimura*

*Tempat sirih pinang pada hari Pattimura*

Keterangan.
– Upulatu : Tuan Raja / Bapa Raja
– Inalatu : Ibu Raja / Istri dari Upulatu
– Nusa Ina atau Pulau Ibu sekarang bernama Pulau Seram tempat suku asli maluku berdiam yaitu “Alifuru”
– Sasi : merupakan Hukum adat yang melarang pengambilan hasil hutan atau laut dalam jangka waktu tertentu dan yang melanggarnya mendapat hukuman adat yang jauh lebih efektif dalam pengelolaan keseimbangan hutan dari pada UU perhutanan yang dibuat dan diterapkan secara sporadis.
– Saniri : Para Pembantu Upulatu atau dijaman skarang dikenal sebagai pegawai administrasi
– Kapitan : Para panglima perang untuk menjaga keamanan sekaligus sebagai para pejuang dalam mempertahankan maupun menyerang tempat lain.
– Colo-colo : amper mirip coca-cola *halah* makanan khas maluku yang.. uhmmm susah dijelaskan hihiihihi
– sibu-sibu : angin sepoi-sepoi
– Upu Hanite : Tuhan yang mengasai langit dan angkasa
– Upu Latane : Tuhan yang menguasai Bumi serta isinya
– Tanase : pemimpin penangkap ikan dalam arumbai.
– Arumbai : perahu besar tanpa layar yang digunakan untuk menangkap ikan

* Sasi biasa ditandai dengan tanda silang dua batang bambu dan diikat kain merah, selama tanda tersebut masih berdiri maka itu tandanya Peraturan sasi masih berlaku sampai diputuskan oleh Upulatu dan para pembantunya untuk memberhentikan sasi dalam musyarawah adat.

*ReBlog

Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *