Tual; Negeri di Atas Tiga Pulau

Jejak kaki dan tangan di pantai pasir putih

Pandangan mata saya nanar menatap ke jendela pesawat Wings Air yang perlahan mendarat di bandar udara Dumatubun Langgur,  pendar bulat matahari senja terlihat begitu indah dari balik jendela pesawat membuat hati langsung bergetar tak sabar untuk segera turun. Nun di bawah sana, barisan pulau-pulau kecil besar di hiasi selat yang berkelok-kelok membentuk barisan sungai dan laguna-laguna kecil yang indah.
Ketika pesawat mendarat sempurna, tak sabar kaki langsung berlari turun dan hendak mencari tepi pantai. dan tiba-tiba saya sadar, saya bukan berada di Ambon, yg mungkin saja dekat laut pas. Di atas laut yang indah membentang beberapa pulau besar dan kecil. Kotamadya Tual ada pintu masuk Maluku tenggara, sebagai kota pelabuhan yang menjadi daerah transit bagi pulau-pulau sekitarnya juga karena posisinya lebih dekat ke papua dan menjadi jalur kapal ke kaimana dan sorong.  Tual sendiri mempunyai sekitar 66 buah pulau, diantaranya 13 pulau berpenghuni sedangkan 53 lainnya tidak berpenghuni dan digunakan oleh warga disana untuk berkebun atau sebagai tempat berlabuh ketika mencari ikan di Laut.
Yang unik di sana adalah Tual sebagai kota kabupaten mempunyai wilayah yang kecil saja dan bersebelahan dengan Kabupaten Maluku Tenggara yg cuma dibatasi oleh Selat Rossenberg.  Bandara Dumatubun sendiri masuk pada wilayah kabupaten maluku tenggara dengan ibu kota Langgur, sedang tual membentuk wilayah Kotamadya, diantara langgur dan Tual terdapat lagi sebuah wilayah yakni Ohoijang. Dulunya Tual mempunyai wilayah yg cukup besar, sampai di sebut kota diatas tiga pulau, namun sekarang akibat Otonomi Daerah, Langgur pun berdiri sendiri menjadi Kabupaten Maluku Tenggara dan Tual menjadi Kota Madya.

Dari atas pesawat, kota Tual, Langgur dan Ohoijang yg cantik

Saya tiba menggunakan pesawat dari kota ambon dengan lama perjalanan sekitar 1 jam 20 menit, bandara yang sederhana dan langit bersih menyambutku. Ewin, salah satu teman saya di Tual rupanya sudah menjemput saya di bandara tanpa di rencanakan. Sambil naik motor kami langsung menuju kota Tual. Di perjalanan saat sampai di jembatan usdek, mata saya langsung terpaku melihat gradasi warna langit senja hari yang sangat indah. Tanpa komando saya langsung menyuruh ewin untuk menghentikan motor dan menikmati senja yang indah di sebuah tempat yang saya kira di tepi sungai karena ada jembatannya, belakangan baru saya tau bahwa itu adalah selat rossenberg setelah dan jembatan tersebut merupakan penghubung antara Kota Tual, Langgur dan di sebelah barat terdapat sebuah jembatan lagi yang menghubungkan dengan Pulau Fair di depan dua pulau indah ini.

Suasana yang tenang, udara yang sejuk dan kondisi alam yang indah membuat saya jatuh cinta, setelah ke penginapan dan mengurus-urus segala keperluan, saya pun berniat ke pasir panjang mengikuti kegiatan Ripple Effect sebuah grup seniman yang bergerak di bidang perdamaian di Pasir Panjang, seharusnya sih acaranya sudah di mulai sejak sore jelang senja seperti yang di Infokan oleh Opa Rudi ketika saya masih berada di Bandara, namun karena sambil menanti teman2 lain kami baru tiba di pasir panjang sekitaran jam 9 malam. Dimana kami disambut suasana malam yang sangat indah. gemerlap lampion, obor dll serta bintang-bintang di langit yang cerah membuat malam itu tak terlupakan deh.

Selamat pagi dari pelabuhan Tual

Suasana jalanan di Kota Tual, sepi, bersih, nyaman dan enak buat jalan kaki atau gowes

Selama di Tual, seperti daerah2 lainnya di luar kota Ambon, jaringan telkomsel tidak terlalu bagus, pada beberapa titik saya hanya nemu Edge ut berinternetan dengan lelet2an. Ketika tau XL lebih bagus dari pada telkomsel saya berupaya memmburu kartunya, etapi pada di borong abis deh. akhirnya mau tidak mau saya pun hunting ke warnet2 terdekat. yah dengan koneksi yg lumayan kenceng, harganya pun kencang. 12 ribu rupiah perjam itu lumayan bikin kantong kempes juga sih kalo mo online tiap hari :) )

Salah satu warnet di Tual yg lumayan cepet koneksinya juga cepet harganya :D

Selat Rosenberg & Sarraba

Di tepi selat rosenberg, tataplah pantai timur
ombak bergulung, awan mengepulkan warna
seribu musim sudah pernah merekah di sana
percayalah, kali ini dia datang hanya padamu.
(Rudi Fofid)

Berada di tepi selat rosenberg, waktu seakan terdiam. keindahan alam, suasana tenang dan aktifivitas nelayan yang mencari ikan masih dapat di nikmati disini, apalagi ada sebuah cafe di atas laut, yang entah bagimana caranya di sebut sebagai “saraba”, mungkin karena ada minuman saraba disitu, pada hari pertama saya menikmati live band yg diselenggarakan oleh salah satu operator telepon selanjutnya saya pun jatuh cinta dengan tempat itu dan menjadikan cafe saraba sebagai tempat kongkow. Rupanya cafe ini adalah tempat kongkow paling favorit disana, anak muda segala umur sampai keluarga pun sering merapat disini, jangan heran kalo anda akan melihat berbagai jenis pengunjung yang tidak akan anda dapatkan saat nongkrong di cafe2 lain. Namun yang paling berkesan disini adalah pemesanan makanan yang sangat lama. =__= hampir seminggu saya kadang mesti nunggu setengah jam untuk mendapatkan segelas kopi atau lebih dari itu jika ada tambahan pisang goreng atau makanan lain. Dengan harga yang bagi saya masih wajar untuk ukuran Maluku cafe ini menawarkan sesuatu yg unik selain pelayanan yang lama. hihhihiih

Sarraba, Tempat nongkrong semua orang di sanayang berada di tepi Selat Rossenberg.

Pemandangan Selat Rossenberg, bersih dan jelas banyak ikan

Tual seperti memanjakan pecinta senja seperti saya. Ini negeri seakan menyediakan komposisi senja yang tak habis-habisnya. Golden Sunset sejak bulatan matahari terbenam sampai jingga senja membuat beta dan tidak ingin beranjak kemana pun juga. (foto2 senjanya ada di posting lain).

Di hari terakhir, setelah shalat jumat saya pun langsung bersiap2 ke Pasir Panjang atau dalam bahasa asli Ngurbloat, warga disana lebih menyukai pantai itu disebut sebagai pantai Ngurbloat dari pada pasir panjang lho. Bagi saya, Pantai Pasir panjang & Pantai Oholilir di sebelahnya adalah dua tempat yang tidk boleh di lewatkan oleh siapapun, sebaiknya anda kesana pada saat sore atau pagi karena siang matahari terlalu panas untuk di nikmati. Selain itu jangan lupa untuk menyediakan kaca mata gelap karena matahari sangat silau. tapi jangan khawatir meski panas namun udara di Tual itu sungguh sejuk, jadi ga kerasa panas, mendadak saja kulit sudah gosong terbakar :) ).
Suasana di dua pantai ini sangat nyaman dengan bangunan2 yang di buat oleh warga sekitar menggunakan bambu dll. cafe-cafe yang berjajar menyediakan makanan di sepanjang pantai terlihat rapi dan asri. “ini semua di buat oleh warga, tidak ada bantuan pemerintah ataupun desa, itu bantuan pariwisata dari pemerintah sudah rusak tidak terawat” pantai-pantai ini dipelihara oleh warga masing-masing.

Suasana Pantai Ohoililir

Hampir sama, di Ngurbloat atau pantai pasir panjang juga suasananya enak

Saat tiba di pasir panjang saya pun menikmati sepiring Sanggar atau pisang goreng dan ubi-ubian beserta kopi, kuliner di pasir panjang rata-rata saat di pesan baru di buatkan, jadi kita selalu mendapat makanan yang panas dan segar. “Dulu air minum tidak boleh dijual” kata ewin, “itu adat, karena meski didaerah sini air susah namun jika warga menjual air itu melanggar adat dan bisa menjadi bala bagi kita sendiri, sehingga warga sering menyediakan air minum bagi siapapun, namun sekarang dengan munculnya air mineral yg dijual maka meski ada yg jual air mineral namun air putih dapat kita minum kapan saja.

Mengeluarkan jurus kameha-meha di tepi pantai Ngurbloat Tual

Pantai Ohoililir, pasir putih dan pepohonan yg rindang

Kopi, Pisang Goreng, Ubi Goreng teman menikmati pantai

Kadang saat di ambon saya sering melihat orang tual berfoto dengan kacamata gelap, dan saya kadang merasa mereka hanya sekedar bergaya biar telrihat keren. okeh dan pandangan itu berubah drastis, panasnya tual memang memaksa tiap orang ut menggunakan kacamata apalagi pada saat mengendarai motor biar tidak terlalu silau.
Di tual saat mencari ojek sebaiknya anda langsung berteriak atau menyapa si tukang ojek yang lagi parkir ataupun yang sedang berjalan. “orang tual itu gengsi saat ngojek, jadi harus di teriaki baru mereka mau naik, kalo ga ga bakalan mereka nyamperin kita” kata ewin. dan saya pun tertawa geli mendengar ungkapan yang lucu ini.

Senja senja senja

Sekalian deh tips kalo mo ke tual nih. Kalo mo kesana ada tips.

1. Angkutan Pesawat
– Dari Kota Ambon -> Tual, dengan perjalanan sekitar 1,20 menit dan tiket pada kisaran 600ribu – 1 juta. (pesan lebih awal lebih enak)
– rekomended sih yg pesawat berlogo singa, saingannya rada mengkhawatirkan, kemaren mesinnya sempat hangus di tual dan penerbangan di tunda tuh.
– kalo pengen lebih murah lagi bisa lah bawa perahu dan dayung sendiri aja.

2. Kapal Ciremai : Ambon – Banda – Tual : dengan perjalanan selama 2 hari. harga tiket kisaran 230-an (ini bonus mampir di pulau banda sekitar 4 jam, kalo mo lebih silahkan beli kapal sendiri aja #eh)

3. Penginapan.
– Sudah banyak penginapan/hotel disana dri 100rb sampai lebih dari 1 miliar (ini beli pulau lansung kali yah)
– Tapi lebih murah dgn lama tinggal lebih dari 3-4 hari disarankan sih cari kost yg perminggu bisa dapat 200ribuan fasilitas lebih bagus dari penginapan jga sih )
– GRATIS, untuk gratis silahkan cari temen yg ada punya rumah disana biar enak numpang, makan dll semua terjamin

4. Paling baik ke tual pada bulan2 agustus – september, saat cuaca panas sedang menerjang. senja akan selalu ada disana dari mana ke mana.

5. Angkot di tual ada tapi lebih enak menggunakan ojek yang lumayan banyak. jauh dekat 5ribu, keluar kota tergantung nego, kalo ke pasir panjang gitu bsia dapat 20ribuan.

6. Informasi lebih lanjut silahkan hubungi saya aja. *nyamar jadi petugas imigrasi + pariwisata*

*sebutan ini muncul dari Obrolan dengan Opa Rudi Fofid suatu malam di Cafe Sarabba.
*Terima kasih buat Ewin, Fitri, Epen, Rio dll yg sudah menemani saya dan membuat kota Tual menjadi lebih nyaman.
*dan Ini tulisan sebenernya ga selesai, tapi  publish aja deh. udah capek edit, dari pada ga ke publish nanti malah bikin draft saja. 

Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *