erik menema

Tentang Lelaki dari Negeri Tulip

Erik di atas tembok-tembok tebal Benteng Amsterdam desa Hila

*Sajak bulan dan 4 Botol Bir.

Ada bulan sepotong jatuh di taman
Meninggalkan bayangan persahabatan di batu bata
Pattimura berdiri kaku menyodok langit dengan parangnya
Wajah Pattimura terlihat seram, katamu sambil tersenyum
Di Pelataran, 4 botol bir berpindah dari satu tangan ke tangan lain
membawa kehangatan tentang persahabatan
Saat bulan masih muda, katong bakudapa di galunggung
Dan malam ini, bulan tua menggenapi persaudaraan dari langit
(Pattimura Park, 1.03 : 04/05/12)

Sepenggal kata-kata yang saya beri nama sajak biar terlihat keren dibuat malam kemaren saat kita kumpul-kumpul untuk merayakan perpisahan dengan Erik, salah satu Bule yang sempat beberapa lama tinggal di Ambon dan bergaul dengan kami, waktu sudah sangat malam dan mendadak beberapa teman membuat kado puisi ataupun pantun untuk Erik yang akan kembali ke Belanda pada jam 5 paginya. Mungkin terkesan gimana gitu saat saya menulis “pesta perpisahan” tapi memang bukan karena si Erik bule dari belanda dan kami harus membuatkan sebuah acara kecil-kecilan untuk kembalinya dia, tapi Erik mungkin bagi kami, komunitas muda di ambon adalah seseorang yang unik di antara kami.

Saya mengenal Erik  beberapa minggu yang lalu, saat saya lagi bersama teman-teman komunitas lagi berencana untuk berkumpul dan membahas tentang perkembangan komunitas-komunitas orang muda di Ambon, di perjalanan menuju tempat acara, saya di telpon oleh Bapak Jacky M. yang memberitahukan dan meminta kesediaan kami menerima seorang bule yang ingin hadir di kumpul2 komunitas tersebut.  Sesampainya di tempat acara di kawasan Galungggung Ambon beberapa teman sudah hadir, dan tak lama pun muncul seorang wanita yang membonceng seorang bule gondrong dan terlihat masih muda. Saya lupa Ibu yg membonceng si bule tadi, tapi beliau pun langsung mencari saya untuk di kenalkan dengan Erik atas pesan Bapa Jack tadi.

Erik Meinema,  mahasiswa S2 di Groningen University, yang sedang melakukan penelitian tentang Gerakan Anak Muda untuk membangun perdamaian *kalo ga salah sih gitu* dan kebetulan studi kasus yang dilakukan adalah di Ambon dengan gerakan Peace Provocateur atau gerakan Provokasi Damai yang dilakukan oleh teman-teman komunitas muda semenjak peristiwa 11 september 2011 beberapa waktu lalu. Sebenarnya dia ingin melakukan penelitian perdamaian itu di daerah Afrika, namun dari email-email yang di kirim ke setiap lokasi yang ingin di teliti hanya Ambon yang merespon email dia, sehingga dia pun  terdampar di kota kecil kami yang panas namun indah ini .

Awalnya sih kami terlibat obrolan yang sedikit kaku (baca : ga nyambung, gegara bahasa inggris sayah yang lumayan cuman Yes No sahaja dan kosakata indonesia dia yang standart pulak maka lengkaplah sudah 😆 ). Sambil ngobrol2 santai, Erik pun bercerita sedikit tentang penelitian dia tersebut. Saya tertarik ketika mengetahui Erik membuka buku dan menulis apa yang kami obrolkan. Beberapa informasi yang kalo bagi saya itu hanyalah sekedar pengenalan ato cerita-cerita yang ndak penting tapi semuanya di tulis oleh dia *rajin amat itu erik nulis* selain itu dia pun meminta kesediaan kami untuk di wawancarai oleh dia terkait dengan penelitian dia itu. Selama kami rapat komunitas itu pun Erik terlihat serius sekali mengikutinya meski harus di terjemahkan  setiap isi diskusi kami ke dia biar lebih paham.

Minggu-minggu berikutnya kami pun mengajak Erik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas, mulai dari Kelas Akber sampai kelas kongkow2 dengan materi ketawa ketiwi di warung-warung kopi kesukaan kami. Interaksi dia yang pada awalnya sekedar Mahasiswa yang sedang melakukan penelitian perlahan mulai berubah, yah awalnya dia terlihat resmi tapi kemudian mulai di ajak oleh teman2 komunitas untuk ngider satu persatu dari mulai ngopi-ngopi sampe nge-jam bareng komunitas Ambon Band – Erik jago mainin gitar yang klasik2 rock -. Jalan-jalan bersama kami ke pantai atau snorkeling, saya sempat tertawa saat snorkeling di Tanjung Setan, Erik yang sepertinya udah kebelet banget masuk air dan snorkeling maka secepatnya Saya pun memberikan peralatan snorkeling. Namun ketika saya ikut masuk ke dlam air, tiba-tiba terdengar suara orang batuk-batuk dan tercekik akibat minum air laut, “Hei, tolong ajarkan saya snorkel, ini kali pertama saya snorkel nih”. *kemudian hening*

Dan saat kami berada di atas tembok-tembok tebal Benteng Amsterdam di desa Hila, senja begitu indah, ketika saya melihat ke arah Erik, saya berpikir, mungkin ratusan tahun lalu ada seorang serdadu kerajaan hindia belanda duduk mencongklang di atas benteng sambil memanggul senjata dan menatap senja. Lalu merindukan bunga-bunga tulip di negerinya sana, atau merindukan kekasihnya yang sudah lama ditinggalkan untuk menunaikan tugas *halah* tapi tentu saja, hari ini, saya bersama seorang generasi mereka, memanggul Tas dan datang dan menikmati senja yang sama dari benteng Amsterdam – Entah kalo Erik pun saat melihat senja kemudian merindukan tanah air dia.

Sampai pada akhir-akhir ini saya kok ga ngerasa Erik itu bukan lagi orang lain bagi kami semua, mungkin ketika dia mulai ngobrol pake bahasa inggris ato kadang-kadang berbahasa Belanda dengan Shasa yang juga seorang Belanda Keturunan Maluku yang kebetulan juga sedang belajar di Ambon, saya baru sadar kalo Erik orang belanda, Erik pun tak seperti Bule-bule lain yang kalo makan mesti milih-milih, apapun di coba sama dia, Pisang goreng, sukun goreng, kuliner2 ambon lainnya di coba sama dia bahkan Nasi Kuning bagadang di tempat biasa kami nongkrong menjadi favorit dia. Erik tanpa sungkang berbaur dengan kami seakan-akan dia adalah bagian dari kami disini.

Saya sempat bertanya ke Erik, ketika kami menyuruhnya untuk memanggul kardus berisi kabel-kabel untuk acara Workshop Open Bts, “Erik, sepertinya kamu sudah harus mulai memilih akan mengikuti komunitas mana di Ambon inih, silahkan pilih diantara Photography yang di wakili Yeszco, Malukupedia yang diwakili Piere, ato saya yang mewakili Arumbai?” dan Erik pun menjawab kalo dia lebih memilih Arumbai Blogger karena dia juga suka nulis. ;)) *meski saat malam kemaren dia memilih untuk masuk ke dalam Komunitas Kopi Badati dan Ambon Band* LOL. Saat tadi malam kami nongkrong bersama untuk sekedar mengucapkan selamat berpisah dengan dia, mungkin kami malam itu semacam merasa sedih atau entah perasaan macam apa terhadap Erik.

Mungkin salah satu yang membuat kami dan Erik merasa dekat adalah Erik tidak memperlakukan negeri ini sebagai sebuah objek penelitian tapi Erik menjadikan Maluku dan isinya sebagai bagian dari dirinya.  Sudah puluhan orang peneliti yang mendapat gelar S2, S3, Professor ataupun lainnya dari negeri ini. Tapi sampai kini, mereka hanya datang meneliti lalu pergi begitu saja, kami tak pernah mendengar ataupun membaca tentang penelitian mereka sehingga kami disini pun dapat belajar dari mereka.

“Tugas kami untuk memberikan informasi kepada Erik sudah selesai, sekarang adalah tugas untuk Erik untuk mengolah apa yang sudah kami berikan dan tolong sampaikan juga kepada kami anak-anak muda di Negeri ini, sehingga kami akan lebih banyak belajar untuk membuat negeri ini makin damai” kata Wesly malam itu yang didaulat untuk memberikan sambutan =___=

Selamat jalan Erik Meinema, seperti kata-katamu “Dimanapun kamu berada di dunia ini, kita tetap melihat matahari yang sama” semoga suatu saat kita dapat bertemu entah di bagian dunia mana dengan matahari yang sama menikmati secangkir kopi.

———–
*judulnya di bikin karena malam kemaren bulannya indah dan 4botol bir penghangat malam (sudah pasti saya dan beberapa teman lain tidak mengambil bagian dari botol bir tersebut cukup air mineral dan rokok) btw itu kalimat2 diatas jangan anggap sebagai puisi atopun sajak, saya ndak berbakat untuk bikin puisi.

Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.

29 Comments

  1. Indahnya persahabatan :)

    Hmm... senja di Ambon terlihat begitu indah, pantai apakah itu namanya? i wish...i'll be there, someday. :)

  2. Memang seperti itulah persahabatan, deritanya tiada akhir.. lho, kok jadi cu patkai?, :D.

  3. @zukko
    Mungkin disini anugerah bagi kami karena dimanapun tempatnya senja selalu indah.
    kalo yg diatas itu senja di Benteng Amsterdam desa Hila mas.

    @Fattah
    sampean ga galau kan? :))

  4. kok gak cerita2 ada mas belanda hehehehe

    Melihat matahari yang sma, bulan yang sama, senja yang sama atau bahkan bintang yang sama :D

    Eitu kakak Almas pandai membuat puisi. Nanti dapet julukan baru "Lelaki Senja dan Puisi"
    #halaghhhhhhhhhh

    • @Anaz
      mas belandanya ndak mau diceritain. maunya menceritakan saja boleh :D

  5. Indah betul persahabatan, Bang. *ikutan Zukko*

  6. Kalo lelaki sawo matang dari negeri tulip, ada cerita apa, Om?

  7. Siapa suruh bilang itu jangan disebut sajak atau puisi? Jangan merendah kau, penyair teluk Ambon! :twisted:

  8. @Amd
    kalo soal beliau yg kata orang sini "Mister Palsu" nanti habis ini sajalah :))

    @Alex
    kenapa kau marah2 disini? sabar om.. sabar. :D

  9. salam kenal e buat erik...

    mau dong dapat hasil penelitiannya juga. (sini yg org maluku aja g penah buat penelitian, eh org dr luar malah lbih tertarik)

  10. Nikmatnya Dunia....

  11. Indahnya sebuah persahabatan..

  12. woh. mainannya almas sekarang sama bule belanda. hihihi. itu si bule pasti seneng main di ambon. apalagi dia dari belanda, negara di mana banyak banget orang2 keturunan ambon. :)

  13. Emang itu ginjal masih kuat minum bir ha?
    :))
    Btw Erik ganteng
    *celinga-celinguk, gak ada abangku kan di sini? Eh :P

  14. kepengen juga punya teman dari beda dunia gitu ya, dunia paralel #halah
    dunia yang beda lah pokoknya..
    apalagi yang tulus memang ingin berteman gitu

  15. marvelous, lovely ambon ;O
    semoga damai sejahtera selalu bersama negeri moluccas

  16. pemandangan ambon memang indah terlihat dari poto di atas

    (maaf di edit sedikit pada bagian link : almas)

  17. Almaaaaaa!!
    Kangen loh! Aq juga punya serangkaian cerita yg sama mengenai pria dr negeri kincir angin itu!!
    Koq bisa pas ya? Hehehehe...

  18. Koq gak bisa comment?

  19. Emm... ngebayangin ada di Maluku sana :)
    kapan yaah.. beta bisa pi jalan2 disana ^^

  20. @Novi
    semoga selesai dan dikirim erik secepatnya

    @Jauhari
    nikmatnya persahabatan :D

    @ysalma
    baru pertama kali sih

    @bang anton
    wakakakakka
    tapi di kroningen ga banyak ambon bang. malah disini dia lebih mengenal itu.

    @eka
    aku ga minum :|
    wakakakka hust hust hust

    @icit
    aku lak dari dunia berbeda cit :P

    @bang alie
    aminn...

    @simungil
    heh kok bisa sih? serius ini ??

    @sibelo
    kapan mas? kalo mampir sini kontak2 yah sapa tau bisa ngopi bareng heheheh

  21. xixiixix padahal aku udah mau serius memahami puisimu lho, jadi lost focus gara-gara baca komennya anaz "indah nian kata-katamu dek anaz" *Lho?

  22. Dimanapun kamu berada di dunia ini, kita tetap melihat matahari yang sama <<<< ini sangat bagus

    Pas di solo kmaren sempat dijamu ciu bekonang ? :D

  23. Krenn....... Emang situ Komunitas apa sih.. kalo anak ambon di luar ambon boleh gabung ga atau ada persyaratan tertentu..

  24. keren sunsetnya
    jdai pengen motret disana ^^

  25. sempat ngga ngeh diawal tadi. karena bulenya bule belanda. ngobrolnya di benteng amsterdam, kirain bang al yang lagi di belanda :D

  26. gitu ngeliat pagar dan senja-nya,beta langsung tau itu pasti di benteng amsterdam desa Hila..ehehe.

  27. rame bangeeeet :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *