Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Tradisi Cuci Negeri Soya

13 Dec Posted by in Ambon, Maluku | 24 comments
Tradisi Cuci Negeri Soya


Gerimis dan kabu tipis perlahan turun dari pucuk-pucuk pohon di sekeliling Desa Soya membawa hawa dingin seakan menyambut saya dan teman-teman di kawasan pegunungan sirimau, sesekali beberapa ibu-ibu yang berpakaian kebaya membawa payung berjalan perlahan menuju ujung desa yg menuju ke gunung sirimau, di teras-teras rumah, beberapa warga lelaki berpakain baniang hitam dengan kalungan lenso merah di leher bergerombol di teras-teras rumah menanti rangkaian prosesi Cuci Negeri yang sudah berlansung sejak hari sebelumnya. Suasana sepi sedikit terasa dan sesekali bunyi tifa dan gong terdengar dari sudut-sudut desa, tak menunggu lama kami lansung bergegas menuju ujung desa mengikuti beberapa orang Mata Ina (ibu-ibu) yang berjalan perlahan-lahan, sesekali kami berteduh di pinggiran rumah di sepanjang jalan sekedar menanti hujan reda, meski memakai jaket hujan tapi camera dan hp setidaknya mesti diselamatkan. Di ujung desa sudah terlihat keramaian, beberapa Mata Ina sudah berdiri di tengah jalan meski hujan masih turun dengan deras namun tidak diperdulikan oleh mereka, tak begitu lama bunyi tabuhan tifa yang mengikuti nada-nada tertentu sudah terdengar di selingin tiupan kuli bia (siput), suara koor nyanyian Suhat (lagu pujian) seperti membawa suasana yang sakral begitu terasa. Dari sudut kampung muncullah dua bendera yang dibawa oleh dua orang lelaki muda, bendera merah putih dan satu bendera berwarna merah diikuti oleh sekumpulan orang laki-laki yang berasal dari Rumah Tau tertentu (Soa Pera) mulai muncul, rombongan ini sejak hari sebelumnya sudah naik ke puncak gunung Sirimau untuk melakukan prosesi Adat di sana. Di ujung desa Soya yang disebut Rulimena, Proses penyambutan oleh salah satu Tua Adat dari Soa Erang (Teong Rulimena marga Soplanit) memulai Pasawari (kata-kata penyambutan) terhadap rombongan ini yang kemudian di jamu sirih pinang, rokok serta sopi.

Rasa penasaran saya sejak dulu sampai sekarang pada kalimat Pasawari ini adalah sebuah ucapan yang menyebut gelar dari Raja Soya I yang paling terkenal yakni Latu Selemau dan bergelar LATU SELEMAU AGAM RADEN MAS SULTAN LABU INANG MOJOPAHIT, gelar ini didapat oleh raja Soya karena hubungan dagang dan perkawinan, namun catatan tentang hubungan Soya dan Majapahit ini sungguh sedikit bahkan boleh dibilang tidak ada sama sekali padahal rasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang hubungan itu bagi saya menarik sekali.

Rombongan

 

Pasawari di Rulimena

Setelah penyambutan di Rulimena, rombongan ini kemudian menuju Baileo Samasuru untuk melakukan upcara lanjutnya, Baileo samasuru yang berbentuk lapangan ini terasa sangat sederhana, di kebanyakan desa di maluku, baileo adalah sebentuk rumah namun di Negeri Soya baileo ini hanyalah berbentuk lapangan, di dalam baileo sudah terlihat puluhan ibu-ibu yang disebut Mata Ina menari mengikuti tabuhan tifa sambil melambaikan daun gadihu di tangan. Setelah itu beberapa mata ina dan laki-laki meninggalkan baileo negeri untuk mmenjemput Raja Soya di Rumah Raja yang berada di Samping Gereja Tua negeri ini.

Mendekati rumah raja saya sempat terhenyak sebentar ketika menatap beberapa pemuda di pinggir rumah raja, ketika melihat mereka saya menemukan sebuah keanehan pada ikat kepala mereka yang berbeda dengan pemuda-pemuda soya seperti saya lihat sebelumnya, ikat kepala beberapa pemuda ini seperti ikat kepala Suku Huaulu di Seram Utara yang sempat saya lihat di perjalanan ke Desa Sawai beberapa saat lalu, saya sedikit bisa membedakan karena pernah melihat cara ikat kepala Suku Nuaulu di Seram Selatan. Pertanyaan itu makin bertambah ketika saya melongok ke dalam rumah raja, terlhat beberapa wanita berkerudung dan beberpa lelaki berpakain putih memakai ikat kepala yang sama juga, pikiran saya pun lansung mengingat apakah mereka adalah warga batu merah yang mungkin pela dari negeri Soya ini, saat Raja Soya yang dikawal dua mata Ina keluar di belakang beliau terdapat seorang raja juga yang pada akhirnya saya tau itu adalah raja Salemang yang merupakan Gandong dari Negeri Soya, hubungan Gandong antara Negeri Soya dan Negeri Saleman di pulau seram utara masih tetangga desa dengan Sawai itu adalah Gandong Adik, dimana Soya merupakan Kakak dari Negeri Salemang.

Dan dengan kehadiran Raja Saleman beserta saniri Salemang adalah pertama kalinya sejak perpindahan leluhur orang-ornag Soya dari Pulau Seram menuju Pulau Ambon untuk bertempat tinggal, hal ini menjadi sejarah tersendiri bagi warga soya dalam membangun hubungan “Gandong” dengan keluarga mereka di Pulau Seram sana.

Di Baileo Samasuru beberapa rangkaian acara, dengan diiringi tabuhan tifa dan gong, Beberapa Mata Ina dari Negeri Soya dan Salemang kemudian membersihkan Baileo Samasuru menggunakan Sapu Lidi dan Gadihu sebagai simbol selesainya upacara cuci Negeri, kemudia dilanjutkan dengan Titah Raja kepada warga Desa Soya yang bisa disebut sebagai pidato tahunan dari Raja Soya, pembacaan Kapata-kapata oleh tetua Adat Soya, kapata berbahasa tanah ini secara garis besar adalah permohonan doa untuk kebaikan Negeri Soya. Rangkaian acara ini ditutup dengan Nyanyian Suhat dan jamuan Anggur Persaudaraan.

Baileo Samasuru

Penjemputan Raja Soya dan Raja Saleman

Tarian Cakalele Mata Ina Soya - Saleman

Gandong Negeri Soya dari Saleman

Ucapan Kapata oleh tetua desa di buka oleh tiupan Kuli Bia

Raja Soya dan Raja Saleman

Kegiatan Cuci Negeri yang sudah berlansung sejak turun temurun ini rupanya tidak hanya sekedar bernilai sebuah upacara tradisional tapi memiliki banyak pengertian bagi warga Soya, antara lain: bagaimana menjaga persatuan, musyawarah, gotong royong, kebersihan, dan toleransi diantara warga desa soya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang harus tetap dijaga sampai saat ini.

 

PS. Foto punya teman2, saya dapat bagian nulis2 dan ngetwit sahaja =_= T_T

 

24 comments


Leave a comment