Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Harmoni : Dialog Dini Hari

01 Dec Posted by in Musik | 20 comments
Harmoni : Dialog Dini Hari

Dialog Dini Hari Foto by musikator.com

Almas, mau ikut nongkrong ke Art Cafe ga habis makan ini? Bareng Nike dan Tuteh” Notif Watsapp dan beberapa bait pesan dari Bang Anton muncul di handphone-ku, Saya masih di pojok dekat meja makan saat acara Gala Dinner Confrence Asean Blogger di Bali, menanti chas hp saya yang sering nge-drop dan juga asyik ngobrol bersama Mbak Widi, selain itu saya masih bimbang untuk ikut apa ndak, soalnya gerombolan Om Sehat pada ngasih ajakan juga, tapi akhirnya saya putuskan untuk ikut Bang Anton ke Art Cafe yang saya ga tau tempatnya dimana pokoknya ikut saja, apalagi di ajak Bang Anton yang teman blogger dari Bali, pikiran saya hanya satu “jika ingin jalan-jalan di negeri orang, sebisanya jalanlah dengan warga lokal disitu apalagi kalo yang diajak adalah teman kita maka selera kita setidaknya sudah diketahui meski sedikit.

Setelah sesi photo-photo di gala dinner selesai, saya pun lansung beranjak menemui Tuteh, Nike dan Bang Anton yang sudah menanti di depan Musuem Pasifika, menggunakan taksi kami menuju lokasi Art Cafe yang berada di seputaran Seminyak Bali, perjalanan masih seperti biasa namun ketika di suatu tempat, taksi berbelok memasuki sebuah lorong yang sisi kiri dan kanan hanyalah tembok, perjalanan lewat lorong ini membuat saya bertanya-tanya, ini cafe apaan sih udah masuk lorong2 yang sepi begini jauh lagi, cafe apa yang sedang kami tuju ini, apa tempatnya enak atau ah pokoknya hati saya mulai merasa ga enak menuju kesana namun ga saya omongkan, saya hanya menanti apa yang bakalan terjadi nanti saja -rasa begini ini yang saya suka- :)) *menjura ke Bang Anton*

Jam sudah menunjukkan sekitar jam 21.30, ketika taksi berhenti yang saya, Mbak Nike, Kaka Tuteh dan Bang Anton berhenti di sebuah pertigaan jalan kecil yang dibagian kanannya berdiri tembok pagar dari beton, pandangan saya menangkap sebuah rumah mirip gazebo yang besar di sebelah kiri jalan – bentuknya mengingatkan saya kepada bundaran kantin di kampus saya dulu tempat ngopi sekaligus pacaran mahasiswa/i– di dalamnya ada meja-meja yang sudah terisi penuh sekilas, ada beberapa orang bule dan juga beberapa orang indonesia, pada bagian luar terhampar rerumputan dan beberapa pohon kamboja, dua meja yang masih kosong terlihat sendiri mengisi bagian pojok dari teras itu. Dari dalam taksi terasa suasana agak sepi, namun ketika saya membuka pintu taksi lalu menginjakkan kaki di tanah. Telinga saya menangkap denting-denting gitar akustik, tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil. Saya sempat terdiam sejenak dan berusaha mendengar lebih jelas. Dan tanpa spontanitas bibir saya lansung berbisik “Waow, kerennnnn!!!”.

art cafe

Saya masih terpana ketika di ajak masuk oleh Bang Anton yang setelah bernegosiasi sejenak kemudian memutuskan menempati meja di halaman cafe yang belakangan saya tau bernama Art Cafe di wilayah Seminyak Denpasar Bali, setelah duduk, saya pun lansung mulai memperhatikan suara musik akustik yang masih terus mengalun tersebut diselingi ngobrol-ngobrol bersama yang lain. Bang Anton kemudian memperkenalkan kami kepada Mas @Saylow – dan kalo ndak salah Mas Aco ini pemilik Art Cafe itu- saya pun lansung memesan segelas kopi itam yang oleh pelayan dan Bang Anton lansung direkomendasikan kopi bali. Okeh! Lansung saya iyakan, gimana tidak menikmati kopi bali di Bali dengan sentuhan musik akustik yang pertama mendengarnya saja saya sudah tertegun.

Ketika menanti pesanan datang itulah, alunan musik mulai menggema kembali, bait-bait yang dilantunkan si penyanyi membuat saya seperti terhipnotis -lebay- yah suara yang unik dari sang vokalis benar-benar nikmat di dengar, tubuh saya yang kecapekan rasanya seperti di buai-buai oleh lantunan melodi dan bait-bait lagu Nyanyian dari Langit itu :

Perjalanan hati, maknai kuasa cinta sejati
Menjelejah langit, kepasrahan diri mengagumi
oh indah, indah… oh indah, indah..

Dalam hati saya berkata, ini baru namanya Cafe mennn.. suasananya nyaman, musiknya sedap di nikmati kopinya lezat dan.. uhhmmm saya baru rasakan saat duduk disana rasanya tak enak menikmati suasana cafe tersebut dengan mengobrol. Lebih nyaman duduk diam sambil mendengar musik live itu. Rupanya grup yang sedang bermain sekarang adalah Dialog Dini Hari, dengan musik campuran Blues, Folk dan Ballads yang dikemas secara tepat dan ringan dengan lirik-lirik yang cerdas, indah nan aduhai tapi membawa pesan yang kadang membuat kita bisa berpikir tapi dengan rileks. Tentu saja vokal bariton ala Mas Dadang yang kadang melengking tapi tidak tinggi sesekali rendah tapi bukan rendah *noh kan mbulet sendiri* selalu menyeruak dari balik ketukan suara gitar aksutik yang khas, plus selingan gesekan steel-slide yang kasar dan ekspresif mampu menjaga ritme nuansa live music di Art Cafe itu tetap indah. Ketika sedang menikmati alunan nada-nada itu, pikiran saya melayang pada sebuah ucapan yang entah dikatakan siapa tentang Nirvana, kira-kira seperti ini “Mendengar musik mereka membuat kita melayang tapi masih tetap berpijak pada bumi” kalimat tersebut sempat saya tempelkan di dinding kamar kost waktu mahasiswa dulu, dan kalimat tersebut saya temukan di sebuah sudut pulau bali, bukan di Eropa sana. Celetukan Tuteh tentang vokalnya Mas Dadang ini, suara beliau 50% Iwan Fals, Jhon Mayers, dan…. *saya lupa* :)) pokoknya nikmat sekali dah.

Di depan Art Cafe Foto By Bang Anton

Bang Anton yang kebetulan adalah Marketing dari Dialog Dini Hari – ini kata mas dadang lho bukan saya – =)) kemudian memperkenalkan kami dengan mas Dadang, nah kan! Berkenalan dengan mas Dadang ini seperti bertemu dengan Cacuk – Teman mahasiswa dulu, Slankers dan Fans Berat Iwan Fals, Bimbim “Bandot” – Teman mahasiswa, slankers juga serta – Kaka Dalens Ultra kinyol-kinyol – Teman dari komunitas reggae di Ambon, ketiga orang ini seperti bersatu dalam diri Mas Dadang itu, sambil ngobrol2 saya, Tuteh dan Nieke lansung membeli Album Dialog Dini Hari yang kedua, saya beli dua. Yang ditanda tangani lansung oleh seluruh crew Dialog Dini Hari –asyekkkk

Grup Dialog Dini hari ini punya jadwal manggung setiap hari Rabu, namun katanya karena ada manggung di tempat lain jadi jadwalnya di undur ke malam kamis, maka kami pun beruntung menyaksikan mereka, Tapi bukan itu saja, tiba-tiba saya ditawari kain Tenun Ende oleh Tuteh, dan tentu saja lansung saya sambar tanpa basa-basi *rejeki ga boleh di tolak kaka* dan untuk bagian ini, saya terpaksa ga bikin skrinsyut deh maafkan

Setelah ngobrol dan berphoto-photo sejenak kami pun lansung berangkat pulang ke Hotel karena mengingat besok masih ada acara lagi, sesampainya di hotel rupanya masih seperti biasa, tidur itu sebuah hal yang haram, maka acara pun dilanjutkan dengan ngobrol bebas tapi santai di samping hotel yang bisa menghalalkan saya dengan bang Anton melakukan ahli hisab alias merokok sambil menikmati Jus pala.

Terima kasih banyak buat Bang Anton yang sudah memperkenalkan saya ke sebuah sudut lain dari hingar bingar-nya bali. Sebuah ruang yang akan selalu saya ingat tentang pulau itu sampai kapanpun.

#note : pstttt. Dialog Dini Hari baru kemaren luncurkan lagu #pelangi lho… saya belom dapat tapi semoga bisa dapatin lagu #pelangi itu secepatnya..

 

20 comments


Leave a comment