Harmoni : Dialog Dini Hari

Dialog Dini Hari Foto by musikator.com

Almas, mau ikut nongkrong ke Art Cafe ga habis makan ini? Bareng Nike dan Tuteh” Notif Watsapp dan beberapa bait pesan dari Bang Anton muncul di handphone-ku, Saya masih di pojok dekat meja makan saat acara Gala Dinner Confrence Asean Blogger di Bali, menanti chas hp saya yang sering nge-drop dan juga asyik ngobrol bersama Mbak Widi, selain itu saya masih bimbang untuk ikut apa ndak, soalnya gerombolan Om Sehat pada ngasih ajakan juga, tapi akhirnya saya putuskan untuk ikut Bang Anton ke Art Cafe yang saya ga tau tempatnya dimana pokoknya ikut saja, apalagi di ajak Bang Anton yang teman blogger dari Bali, pikiran saya hanya satu “jika ingin jalan-jalan di negeri orang, sebisanya jalanlah dengan warga lokal disitu apalagi kalo yang diajak adalah teman kita maka selera kita setidaknya sudah diketahui meski sedikit.

Setelah sesi photo-photo di gala dinner selesai, saya pun lansung beranjak menemui Tuteh, Nike dan Bang Anton yang sudah menanti di depan Musuem Pasifika, menggunakan taksi kami menuju lokasi Art Cafe yang berada di seputaran Seminyak Bali, perjalanan masih seperti biasa namun ketika di suatu tempat, taksi berbelok memasuki sebuah lorong yang sisi kiri dan kanan hanyalah tembok, perjalanan lewat lorong ini membuat saya bertanya-tanya, ini cafe apaan sih udah masuk lorong2 yang sepi begini jauh lagi, cafe apa yang sedang kami tuju ini, apa tempatnya enak atau ah pokoknya hati saya mulai merasa ga enak menuju kesana namun ga saya omongkan, saya hanya menanti apa yang bakalan terjadi nanti saja -rasa begini ini yang saya suka- :)) *menjura ke Bang Anton*

Jam sudah menunjukkan sekitar jam 21.30, ketika taksi berhenti yang saya, Mbak Nike, Kaka Tuteh dan Bang Anton berhenti di sebuah pertigaan jalan kecil yang dibagian kanannya berdiri tembok pagar dari beton, pandangan saya menangkap sebuah rumah mirip gazebo yang besar di sebelah kiri jalan – bentuknya mengingatkan saya kepada bundaran kantin di kampus saya dulu tempat ngopi sekaligus pacaran mahasiswa/i– di dalamnya ada meja-meja yang sudah terisi penuh sekilas, ada beberapa orang bule dan juga beberapa orang indonesia, pada bagian luar terhampar rerumputan dan beberapa pohon kamboja, dua meja yang masih kosong terlihat sendiri mengisi bagian pojok dari teras itu. Dari dalam taksi terasa suasana agak sepi, namun ketika saya membuka pintu taksi lalu menginjakkan kaki di tanah. Telinga saya menangkap denting-denting gitar akustik, tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil. Saya sempat terdiam sejenak dan berusaha mendengar lebih jelas. Dan tanpa spontanitas bibir saya lansung berbisik “Waow, kerennnnn!!!”.

art cafe

Saya masih terpana ketika di ajak masuk oleh Bang Anton yang setelah bernegosiasi sejenak kemudian memutuskan menempati meja di halaman cafe yang belakangan saya tau bernama Art Cafe di wilayah Seminyak Denpasar Bali, setelah duduk, saya pun lansung mulai memperhatikan suara musik akustik yang masih terus mengalun tersebut diselingi ngobrol-ngobrol bersama yang lain. Bang Anton kemudian memperkenalkan kami kepada Mas @Saylow – dan kalo ndak salah Mas Aco ini pemilik Art Cafe itu- saya pun lansung memesan segelas kopi itam yang oleh pelayan dan Bang Anton lansung direkomendasikan kopi bali. Okeh! Lansung saya iyakan, gimana tidak menikmati kopi bali di Bali dengan sentuhan musik akustik yang pertama mendengarnya saja saya sudah tertegun.

Ketika menanti pesanan datang itulah, alunan musik mulai menggema kembali, bait-bait yang dilantunkan si penyanyi membuat saya seperti terhipnotis -lebay- yah suara yang unik dari sang vokalis benar-benar nikmat di dengar, tubuh saya yang kecapekan rasanya seperti di buai-buai oleh lantunan melodi dan bait-bait lagu Nyanyian dari Langit itu :

Perjalanan hati, maknai kuasa cinta sejati
Menjelejah langit, kepasrahan diri mengagumi
oh indah, indah… oh indah, indah..

Dalam hati saya berkata, ini baru namanya Cafe mennn.. suasananya nyaman, musiknya sedap di nikmati kopinya lezat dan.. uhhmmm saya baru rasakan saat duduk disana rasanya tak enak menikmati suasana cafe tersebut dengan mengobrol. Lebih nyaman duduk diam sambil mendengar musik live itu. Rupanya grup yang sedang bermain sekarang adalah Dialog Dini Hari, dengan musik campuran Blues, Folk dan Ballads yang dikemas secara tepat dan ringan dengan lirik-lirik yang cerdas, indah nan aduhai tapi membawa pesan yang kadang membuat kita bisa berpikir tapi dengan rileks. Tentu saja vokal bariton ala Mas Dadang yang kadang melengking tapi tidak tinggi sesekali rendah tapi bukan rendah *noh kan mbulet sendiri* selalu menyeruak dari balik ketukan suara gitar aksutik yang khas, plus selingan gesekan steel-slide yang kasar dan ekspresif mampu menjaga ritme nuansa live music di Art Cafe itu tetap indah. Ketika sedang menikmati alunan nada-nada itu, pikiran saya melayang pada sebuah ucapan yang entah dikatakan siapa tentang Nirvana, kira-kira seperti ini “Mendengar musik mereka membuat kita melayang tapi masih tetap berpijak pada bumi” kalimat tersebut sempat saya tempelkan di dinding kamar kost waktu mahasiswa dulu, dan kalimat tersebut saya temukan di sebuah sudut pulau bali, bukan di Eropa sana. Celetukan Tuteh tentang vokalnya Mas Dadang ini, suara beliau 50% Iwan Fals, Jhon Mayers, dan…. *saya lupa* :)) pokoknya nikmat sekali dah.

Di depan Art Cafe Foto By Bang Anton

Bang Anton yang kebetulan adalah Marketing dari Dialog Dini Hari – ini kata mas dadang lho bukan saya – =)) kemudian memperkenalkan kami dengan mas Dadang, nah kan! Berkenalan dengan mas Dadang ini seperti bertemu dengan Cacuk – Teman mahasiswa dulu, Slankers dan Fans Berat Iwan Fals, Bimbim “Bandot” – Teman mahasiswa, slankers juga serta – Kaka Dalens Ultra kinyol-kinyol – Teman dari komunitas reggae di Ambon, ketiga orang ini seperti bersatu dalam diri Mas Dadang itu, sambil ngobrol2 saya, Tuteh dan Nieke lansung membeli Album Dialog Dini Hari yang kedua, saya beli dua. Yang ditanda tangani lansung oleh seluruh crew Dialog Dini Hari –asyekkkk

Grup Dialog Dini hari ini punya jadwal manggung setiap hari Rabu, namun katanya karena ada manggung di tempat lain jadi jadwalnya di undur ke malam kamis, maka kami pun beruntung menyaksikan mereka, Tapi bukan itu saja, tiba-tiba saya ditawari kain Tenun Ende oleh Tuteh, dan tentu saja lansung saya sambar tanpa basa-basi *rejeki ga boleh di tolak kaka* dan untuk bagian ini, saya terpaksa ga bikin skrinsyut deh maafkan

Setelah ngobrol dan berphoto-photo sejenak kami pun lansung berangkat pulang ke Hotel karena mengingat besok masih ada acara lagi, sesampainya di hotel rupanya masih seperti biasa, tidur itu sebuah hal yang haram, maka acara pun dilanjutkan dengan ngobrol bebas tapi santai di samping hotel yang bisa menghalalkan saya dengan bang Anton melakukan ahli hisab alias merokok sambil menikmati Jus pala.

Terima kasih banyak buat Bang Anton yang sudah memperkenalkan saya ke sebuah sudut lain dari hingar bingar-nya bali. Sebuah ruang yang akan selalu saya ingat tentang pulau itu sampai kapanpun.

#note : pstttt. Dialog Dini Hari baru kemaren luncurkan lagu #pelangi lho… saya belom dapat tapi semoga bisa dapatin lagu #pelangi itu secepatnya..

Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.

20 Comments

  1. kok ga ditampilin foto sama mas Dadangnya, Al?
    trus foto CD yg kita beli mana?

    untuk #pelangi udah bisa diunduh kok Al :)

  2. gak ngajak-ajak sich loe... gak temenan dech... huh...!!!

  3. aku kok gag diajak #syedih

  4. @nike
    huwakakkaka. masih aku edit itu photo :D

    @Hendri
    ya oloh, jangan marah, nanti tahun depan yah *halah*

  5. @anno
    engg... saya diajak juga sih :(

  6. Oh jadi yang naik taksi ramai-ramai itu pergi ke sini tho.
    Huh! nggak ajak-ajak. Nggak temanan:p

  7. hahaha. ulasanmu sungguh keren, al. terharu membacanya. maka, terbongkarlah salah satu rahasia persekutuan gelap kita gara2 tulisanmu ini. hahaha..

    btw, itu rabu malam dan malam kamis bukannya sama saja. kita kan ke sana malam kamis alias rabu malam usai acara di nusa dua.

    lalu, aku bukan marketing. asli bukan!! juga lagunya DDH bisa diunduh tuh di website mereka.

  8. @Mbak Indah
    ini edisi di culuk mbak :D

    @Bang Anton
    hahahah,, sepertinya di bali ini saya mengalami penculikan terus2 ui..
    btw makasih banyak lho bang udah diajak ut menikmati DDH, teman2 disini pun ikut keracun lagu2nya :D

  9. uooooooo acaranya seru. Aku gak diajak ke Bali :( *mutung*

  10. horeeee akhirnya ada juga sesi pelarian. hihihihi. mantap Almas!!!

  11. Koq mirip vokalisnya gunroses yah ...

  12. kirain yg paling bawah poto pre wedding #eh

  13. penasaran juga dengan dialog dini harinya mas. hem semoga bisa ke bali lagi dan mengetahui secara langsung :-)

  14. weeeeeeeee.... ga ngajak2... gitu yah... awas decch... hihihi

  15. salam kenal mas dari Pontianak :))

  16. hmmm, banyak adegan penculikan begitu Gala Dinner usai ya. Sayang badanku lg ga bisa "diajak diculik" :( *masih membayangkan mas Anton jd marketing, gmn ya?? pissss mas anton ;))*

    btw, ada namamu di postingan terbaru ku lho Al. Ahihiii

  17. Wuih, Bang, jam segitu sih saya mending tidur. :mrgreen:

  18. @sibair
    lah katana kemaren kau kan ikut berangkat to om?

    @Om Brad
    hahwhahwhahhwa kayaknya ini virus dari para senior deh :D

    @Ahsan
    aku malah inget kaka slank :D

    @aRai
    walahhhh :))

    @Dafhy
    yok ke bali lagi yok kemarn kan ga terlalu puas :P

    @Datuk
    pas malam itu datuk kemana om?

    @Honey
    salam kenal juga :)

    @Nieke
    lah dirimu terlalu capek sih.. adegan2 penculikan ini butuh stamina tinggi lho *halah*
    Ga usah bayangkan, emang udah jadi seperti itu kok :))
    *menuju tkp*

    @Om Asop
    woloohhhh.. masak jam segitu udah molor? ih

  19. bang Almas, ngak sengaja kembali mampir ke sini.
    Aku langsung nyari albumnya Dialog Dini Hari.

    Kerennnn!
    Jadi my fave playlistq sekarang:)

    Thanksfor sharing

  20. @erik
    ga sengaja pun gpp kok om.. silahkan ae ahahahaha


    sipppp... pokoknya yg baru denger sekali aja bisa lansung jatuh cinta lho :D

Leave a Reply