Blogger : Wartawan

Barusan Blogwalk ke blognya Mbak Nieke, dan membaca posting terakhir tentang Sea Games 2011 di Palembang, ada catatan yang menarik perhatian saya ketika membacanya, pada paragraf ke sekian beliau menulis :

Karena dapet undangan media, jadi kami ber-20 itu dapet tempat di tengah, depan panggung, disisi kiri tempatnya Bapak Presiden. Ya, namanya undangan media ya, yang ada di tempat kami itu semuanya para wartawan, baik wartawan lokal, nasional sampe negara asia tenggara lainnya.

dan comment dari bang Anton  dan juga Om Nich yang saya kenal di Focus Group Discussion Etika Internet beberapa saat lalu :

nich : waaa.. luar biasa, mulai berasa ya blogger dapat pengakuan sebagai ‘media’ kak.

anton! : ya, ih. bikin iri. pertama, karena blogger bisa diundang masuk layaknya wartawan media arus utama. kedua, karena acaranya amat meriah.


Menarik sekali ketika seorang blogger yang hoby menulis di blog pribadi mereka dan dianggap bukan seorang “pewarta”  mendapat kesempatan berupa “undangan” menghadiri sebuah acara Resmi serta disamakan derajatnya dengan wartawan yang resmi. Wacana macam begini mungkin sebenernya sudah mulai muncul sejak lama meski belum ada pengakuan lansung, saya sendiri rasakan ketika Ambon mengalami sedikit kericuhan atau kata media kerusuhan Ambon pada tanggal 11 September 2011 yang lalu. Saat itu saya bersama teman-teman yang cukup aktif di sosial media dan juga blogger mulai melakukan upaya pelurusan berita tidak benar dari media mainstream tentang kondisi Ambon saat itu, upaya Provokasi Damai dengan memberitakan kondisi riil di lapangan sesuai dengan apa yang kami saksikan melalui twitter, cuap-cuap itu cukup banyak ditanggapi oleh para pengguna sosial media lainnya. Provokasi Damai 140 karakter itu membuat banyak orang dapat mengetahui kondisi Ambon dengan seimbang, tidak hanya terpaku oleh berita-berita di Media Nasional, Informasi alternatif tersebut yang diperlukan oleh semua orang sehingga mereka mampu menilai sendiri apa yang terjadi di sebuah daerah atau bahkan di lingkungan mereka sendiri.

Selain itu, tercatat juga teman-teman dari Jalin Merapi saat Gunung Merapi di Jogja meletus beberapa saat lalu,  mereka telah melakukannya melalui akun twitter @jalinmerapi dan websitenya, teman2 mengabarkan kondisi Letusan Merapi dan daerah sekitarnya secara lansung dari lokasi yang terkena bencana tersebut. hal itu mampu membuat banyak orang menjadi tenang, saat media televisi mengabarkan kondisi gawat, teman2 di Jalin Merapi  malah membuat sebuah jurnalisme damai. Wacana Jurnalisme Warga atau citizen jurnalism dan pewarta warga yang selama ini saya tau mulai berkembang baik melalui twitter maupun lewat diskusi2 lansung mulai dianggap penting karena semua orang berhak tau kondisi sebenernya ketika media mainstream lebih mengejar rating dan bukan kondisi masyarakat yang terkena dampaknnya. Bahkan saat Mimbar Bebas di Blogger Nusantara 28-30 Oktober 2011 di Sidoarjo, teman2 blogger sempat melaunching buku yang berisi tulisan2 mereka saat berkutat dengan bencana tersebut. Mas Donny dari Internet Sehat sempat melemparkan ide pelatihan Jurnalisme Warga saat Ambon ricuh tersebut dan sekarang dari cerita Pakdhe Blontank, pelatihan Jurnalisme warga itu  gencar dilakukan oleh teman-teman Blogger Bengawan Solo.

Saat saya dan Irfan di undang Internet Sehat untuk mengikuti Focus Group Discussion untuk merumuskan “Etika Internet”, disana kami sempat berdiskusi tentang pentingnya setiap warga memberitakan mengenai kondisi lingkungan disekitar dia melalui kegiatan Jurnalisme Warga atau Pewarta Warga.

Namun ada pertanyaan yang muncul tentang legalitas dari seorang pewarta warga, karena kita taulah sendiri, kalo bapak-bapak wartawan itu udah pasti punya “pengakuan dan legalitas” sehingga mereka bisa menyelesaikan Kaidah Jurnalisme 5W 1H, karena mereka secara hukum memang Sah untuk mendapatkan semua itu, lah kalo seorang blogger yang sekaligus pewarta warga? apa yang selama ini terjadi adalah kita hanya menulis  apa yang kita lihat di sekitar kita, blogger juga bisa mendapatkan 5W 1H tapi bisa saja tidak dipercaya karena ada opini pribadi di tulisan tersebut. *Haduh, malah melebar, okehlah kalo mau bahas soal wartawan vs blogger nanti sama eyang2nya saja yah, =_=*

Okeh, kembali ke masalah kita diatas *kita? elu kali* saya ambil poin percakapan dengan Mas Donny saat itu aja tentang sebuah “pengakuan legalitas” tersebut, saat itu saya tetap berpikir bahwa legalitas ini pasti akan terkait dengan Lembaga yang memberi izin tentang itu dan sudah pasti birokratis sekali, sedangkan blogger hanyalah menulis sesuka hatinya dia, bagaimana mau mengurus legalitas itu? namun seperti di awal tulisan ini, “pengakuan” itu muncul dengan sendirinya, undangan dari sebuah even besar berskala international dengan menempatkan blogger setara dengan media-media mainstream, artinya eksitensi seorang blogger atau pewarta warga yang meski begitu2 saja mulai di anggap sebagai sebuah “kekuatan besar” yang bisa membuat perubahan seperti media mainstream lain. Pengakuan ini sudah pasti tidak datang dengan sendirinya, tapi perlahan secara pasti atau tidak jalan ke arah sana mulai ada.

Dulu saat saya menghadiri beberapa acara di Ambon sini, saya mungkin di pandang dengan wajah penuh tanda tanya ketika ditanya “Mewakili apa mas? Dan dengan PD-nya saya jawab “Blogger”, sekarang ketika ditanya saya dengan santai tetap menjawab dari Blogger meski masih memandang terpana terhadap saya *mungkin karena terlalu ganteng kali yah* :)) Hal lain adalah kadang saya mendapat Name Tag dengan nama yang sudah diisi “Almascatie : Blogger Maluku” terpampang dengan jelas meski tak ada foto. Beberapa waktu lalu ada Seminar tentang Jurnalisme Damai yang diselenggarakan oleh Dewan Pers, dengan tema dan pelaksananya saja sudah bisa kita pastikan bahwa itu akan di isi oleh wartawan-wartawan dari media mainstream semua, saya sempat tanya apakah blogger bisa ikut kepada Ibu Uni Lubis dan jawaban beliau “blogger silahkan ikut”, namun saat itu saya mendengar kabar dari teman-teman yang melakukan Provokasi Damai  bahwa mereka sudah ke tempat acara untuk mendaftar namun di tolak karena bukan dari Media yang sah, tapi Alhamdulillah saat Acaranya berlansung rupanya teman-teman blogger dipersilahkan masuk semuanya, sayang saya ndak bisa ikut karena ada masalah keluarga sedikit 🙁

Fenomena “Pengakuan” kesetaraan antara Blogger dan Wartawan ini bagi saya adalah hal menarik, meski simpel pengakuan itu berwujud “undangan sebagai media” namun ini adalah langkah awal bagi terwujudnya “blogger” yang tidak hanya sekedar menulis apa yang ada di kepalanya tapi juga bisa menjadi seorang “pewarta warga” secara lansung yang akhirnya membuat tidak hanya masyarakat tapi mungkin juga para pemimpin negeri ini untuk mendengar “suara rakyat”nya secara lansung tanpa melalui proses berbelit2 melalui dunia maya. Tapi sudah tentu, untuk menjadi seorang blogger sekaligus pewarta warga itu setidaknya ga melupakan Etika Internet yang meski masih berupa Draft Rumusan namun setidaknya sudah menjadi pegangan bagi seorang blogger seperti yang tertulis di Naskah Acuan Etika Online Indonesia :

Siapapun tanpa terkecuali, ketika online (menggunakan Internet), harus menjunjung tinggi dan menghormati:

  • nilai kemanusiaan
  • kebebasan berekspresi
  •  perbedaan dan keragaman
  • keterbukaan dan kejujuran,
  • hak individu atau lembaga
  • hasil karya pihak lain
  • norma masyarakat
  • tanggung-jawab

Saat ini blogger sedikit demi sedikit mulai mendapatkan “Pengakuan”, lalu bagaimana Legalitas Blogger untuk menjadi seorang pewarta warga yang dapat di dengar, dipercaya dan lain2 selayaknya seorang wartawan di media mainstream itu?

Aba dari Nadi, pecinta senja, jalan-jalan.

16 Comments

  1. syukurlah kalau sudah ada yang mengakui blogger setara dengan wartawan :)

  2. rasanya seneng banget pas dikasih invitation media gitu :)

  3. @ikhsan
    masih sedikit sih :D

    @nike
    sama.. apalagi di jejerin sama wartawan.. wuih rasanya bangga banget dah

  4. wah... meskipun bukan saya yang diundang, tapi terbersit rasa bangga di hati tatkala mendengar blogger disetarakan dengan wartawan. Semoga kedepannya akan lebih banyak pengakuan terhadap blogger. Namun tentu saja harus dibarengi dengan peningkatan kualitas personal si blogger sendiri :D

  5. wuih senangnya... semoga saja blogger makin eksis dan makin diakui bukan hanya sebagai blogger tapi sahabat media juga

  6. Jangan lupakan kopdar...!! :)

  7. jawaban pertanyaan diatas.. menurut saya kembali kepada blogger sendiri. seberapa kompetenkah dia bisa disebut pewarta warga. blogger kan bermacam-macam. dari niche hingga tujuan yg berbeda. overall, semoga saja posisi blogger semakin menjual. :)

  8. HA? Itu Nike kali, bukan NiEke!
    btw, ditunggu postingan ABCBali nya ya mas. Awas kalo ga ada nama&photku! *siap2 ngambeg*

  9. Selamat ya...selama etika online dijalankan, aq pikir blogger fine2 aj menjalankan aktifitasnya sebagai pengolah sekaligus pendistribusi informasi...apa kabar kaka?

  10. @Kakaakin
    sama mbak... bangga rasanya mendengar begitu :)

    @Yank
    ga ah..blogger harus tetap di akui sebagai blogger, mau sahabat apa saja yg jelas harus jadi sahabat rakyat :D

    @MHC
    dan naik pesawatttttt.. kurang kapal aja yah mas :D

    @Azaxs
    :) hal itu sepertinya waktu yang akan menjawabnya, secara tidak lansung pilihan nge-blog juga sudah turut mempengaruhi kompetensi seorang blogger :)

    @Nieke
    nah kan... :|
    yaow. Sudah terposting tapi.. photomu.. engggg.. :D

    @Hariesaja
    apa kabar bro? Semoga blogger menjadi orang yg terpercaya dan mendapat pengakuan sebagai pewarta warga selain media mainstream selama ini

  11. Di Semarang, blogger sudah mulai disejajarkan dengan wartawan juga lho ...
    cuman untuk acara khusus sih ....

    ^__^

    karena mereka sebagian sudah tau tentang pentingnya online media dan citizen journalism gitu deh ...



    salam manis,

  12. Fenomena ini mulai muncul mas, dan ini menarik sih :)

  13. Masih atas partispasinya yah atas nama panitia mohon maaf kalau ada kekurangan disana sini :)

  14. ah, tulisan-tulisanmu itu keren ya mas.. kapan kita ngopi-ngopi cantik lagi di pinggir jalan?

  15. Lapor bang, di Medan sudah dua kali aku dapat undangan. Sebagai Blogger. Pewarta :D

    Dan ya, apa yang kita bicarakan di FGD kemarin selalu kukenang *bahasanya* Demi kemajuan dan kesempatan untuk blogger Indonesia di masa mendatang.

    *lagi bergidik baca ulasan #ABC*

  16. @Mbak Ajeng
    :D Malah saya yang harus berterima kasih banyak buat panitia, bukan soal sudah dikasih jalan-jalan kebali tapi emang ada hal-hal tertentu yg bener kami sangat berterima kasih mbak.. soal kekurangan oh tentu dimaafkan kan pembelajaran juga bagi kami :D

    @Sibair
    om kangen ngopi depan IAIN om.. :( bulan depan aku kesana, tunggu ae mas :D

    @Nick
    =)) jangan bergidik, ini belom ada apa2nya nih, entah nanti ke depan siap-siap tikam kepala dah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *