Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Sawai: Surga di Sudut Pulau Seram

Sawai: Surga di Sudut Pulau Seram

senja

Senja yang tak akan terlupakan di Sawai

Peringatan Postingan ini sangat panjang sekale ditambah foto2 narsis yang aduhai nan menggoda. titik, jangan salahkan saya kalo anda ngamuk2 :D

“Nekat” adalah kata pertama yang terlintas di pemikiran untuk jalan2 ke beberapa tempat di Ambon saat Trip ke Sawai dilaksanakan padahal beberapa hari kemudian saya harus mencapai Namlea untuk sebuah urusan juga, tercapai kata sepakat dengan beberapa teman yg ingin ke Sawai juga, maka akhirnya dengan nekat kami menyebrang ke Pulau Seram menggunakan Kapal Cepat untuk ke pulau Seram sebelum memakai mobil ke Saka sebagai jalur terdekat untuk ke Sawai.

Negeri Sawai merupakan sebuah negeri adat yang terdapat di Kecamatan Seram Utara Kab. Maluku Tengah Provinsi Maluku, dengan memiliki petuanan dan 5 anak dusun yaitu Masihulang, Rumaolat, Besi, Opin dan Olong. Desa Sawai juga masuk dalam daerah Taman Nasional Manusela sehingga tidak heran kondisi alamnya sangat terjaga, meski seperti pada tebing2 karang yang menjulang terlihat coretan2 tangan yang mengotori dinding alam ini. Untuk mencapai desa Sawai dapat menggunakan dua cara dari Masohi Ibu kota kabupaten Maluku tengah yaitu dengan menggunakan mobil lansung ke Masohi – Sawai dengan rute melalui pegunungan yang terkenal dengan lekukan SS yang lumayan bikin merinding sekitar 4 Jam, atau mengambil rute ke Masohi – Dusun Saka sekitar 2 Jam perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Long Boat sekitar 30 menit untuk mencapai Sawai.

Bersama teman2 kami sepakat untuk menginap di penginapan Lisar Bahari milik Pak Ali, Penginapan ini adalah pilihan alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana desa, terletak diujung kampung  dan berdiri diatas laut berbentuk rumah panggung selain tenang akan tetapi tidak terisolir dari orang2 lokal, di sekeliling penginapan masih terlihat warga kampung yang melakukan aktifitas sehari-hari sehingga pilihan untuk berlibur sekaligus memotret Human Interest dapat terlaksana. Sesampainya di penginapan kita disambut oleh kicauan burung-burung yang masih liar di gunung sebelah belakang penginapan juga bunyi suara ikan yang berebut makanan di laut. Menurut Pak Ali Penginapan ini sudah berdiri lumayan lama sejak tahun 90-an, pengungjung yang datang kesana rata2 adalah orang Bule, sedangkan pengungjung dari Indonesia bisa dihitung dengan jari saja. Yang mengejutkan menurut Pak Ali, kami adalah orang-orang Ambon yang bisa dibilang pertama kali datang ke situ untuk menikmati Alamnya, biasanya yang datang ke daerah situ hanyalah orang-orang dari luar jika ada orang ambon pun yang datang maka hanyalah melaksanakan tugas, biasanya PNS dari dinas Kehutanan yang paling banyak.

Sambil melepas penat di beranda penginapan, kami pun menikmati alunan senja yang perlahan mulai memasuki malam, meski hujan turun membasahi bumi, akan tetapi di ufuk sana senja terlihat indah tanpa terganggu gerimis itu. Rencana kami malam itu adalah full beristrahat untuk aktifitas 2 hari berikutnya yang cukup panjang dan pasti melelahkan. Jadi kami lebih memilih untuk mengembalikan energi setelah perjalanan panjang tersebut tentunya tidak lupa untuk jepret2 sekitarnya yang kesemuanya menarik untuk di abadikan.

senja saat hujan

Hujan & Senja : Harmoni yang indah.

Selain menyediakan tempat menginap, penginapan ini pun menyediakan semacam paket-paket tour keliling untuk menikmati panaroma dan sensasi alam sawai. Beberapa tour yang disajikan seperti Tour Rumah Pohon (Bird Watching) di Dusun Masihulang, Tour Salawai River untuk menikmati burung-burung di sepanjangan aliran sungai dan buaya liar sungai tersebut, Tour ke Pulau Kelelawar dan Gua Bawah laut. Dan masih banyak lagi.

damai

Ngopi di depan kamar dan disuguhi pemandangan fresh macam begini.

*halah* malah kebanyakan cerita, jadi karena saya ini mengikuti mahzab “biarkan foto bicara” maka sebaiknya dinikmati sajalah hasil jepretan amatir saya ini selama main-main di Sawai. *seperti tak sadar kalo diatas pun sudah ada foto-fotonya* huh!

 

 

 

sawai

Pemandangan yang selalu bikin hati tergetar

*Posting Update*

Sesuai direncanakan maka pada hari pertama kami pun melakukan perjalanan menyusuri sungai Salawai untuk memotret burung dan buaya, menurut penduduk setempat buaya-buaya tersebut adalah buaya liar yang sudah mendiami Sungai Salawai sejak lama. Dulu pada hulu sungai pun sudah ada buayanya akan tetapi dengan semakin ramainya transportasi di Sungai dan dibukanya jalan Trans Seram maka buaya-buaya ini pun makin tersingkir ke bagian Hutan yang semakin jauh ke dalam.  Tipikal sungai salawai tidak sama dengan sungai-sungai yang berada di pulau seram ini *seperti selama ini yang saya tau* Sungai Salawai lebih mirip sungai2 besar di Pulau Jawa, Kalimantan atau Papua, dengan air berwarna coklat dan mengalir dengan arus yang lumayan tenang, Sungai ini pun tidak terlalu lebar mungkin sekitar 6-7 meteran saja dan di tepi sungai  banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon seperti pohon aren atau juga pakis *ga tau sayah :D*.  Semakin ke dalam maka pepohonan pakis/aren di pinggiran sungai berganti dengan pohon2 sagu kadang-kadang ditemui “talaga” atau tempat produksi sagu di bagian pinggir sungai. Setelah melewati Jembatan Tran Seram, maka kita disuguhi pemandangan khas hutan-hutan tropis yang keliatan menyeramkan sekaligus indah. sepanjang perjalanan ini telinga kita dihibur oleh berbagai suara-suara burung dari dalam hutan dipinggiran sungai. dari Burung nuri, burung siang sampai pada bebek-bebek yang beterbangan mencari makan di sepanjang sungai. Kadang-kadang malah terlihat ayam hutan sedang mencari makan juga. Sungai yang berkelok-kelok merupakan tipikal sungai ini, kadang2 kelokan tajam membuat long boat yang kami naiki terpaksa harus melakukan manuver2 yang mengerikan, tidak hanya kelokan2 tajam sungai, akan tetapi halangan2 berupa pohon tumbang yg membuat kami terpaksa menundukkan kepala atau pohon tumbang didalam air membuat long boat terseok2 melewatinya.

Sungai Salawai

Rute Sungai Salawai yang harus dilewati, kadang tertutup dahan2 sagu dari sekeliling sungai

 

 

Dalam perjalanan menyusuri sungai ini, kami berlima tidak yakin akan menemukan buaya dalam sungai ini, kami lebih fokus untuk menikmati hutan dan keindahan karena dari informasi penduduk buaya sungai ini lebih sering ditemukan oleh mereka yang menggunakan perahu dayung tanpa keributan. Sedang kami, ah jangan hitung lengkingan mesin 20 Pk di belakang longboat, setiap melihat pemandangan yang indah saja, mulut kami sudah berkicau lebih keras dari pada suara burung di pepohonan. Pada sebuah kelokan tajam, saat mata dan kamera kami lagi siap2 untuk memotret beberapa ekor bebek yang terbang mengiringi kami, tiba Bang Alay, pengemudi longboat berteriak kalo ada buaya didepan kami, saya yang duduk paling depan kaget setengah mati lalu mencari2 dimana buayanya.. rupanya.. omaigat.. hanya berkisar beberapa meter saja dari depan longboat, mungkin sekitar 4-5 meter si buaya sedang asyik berjemur menikmati cahaya matahari di pinggiran sungai.

buaya salawai

Buaya liar sungai Salawai yang kami temukan dalam perjalanan ini. Dengan modal lensa kit dan jarak beberapa meter dari buaya lumayan membuat hati berdebar juga.

Dengan tanpa pikir panjang lansung kamera bergerak untuk menjepret buaya tersebut, hampir 7 menit kemudian saya bertanya-tanya dalam hati ” ini buaya plastik apa ga sih, dari tadi kok ga gerak2,diam seperti patung aja nih” eadalah.. tak sampai dua menit saat perahu yang terkena arus sudah mundur agak jauh dan kami meminta untuk mendekat sedikit, mungkin karena saking ributnya kami ditambah suara mesin, tiba2 dengan kecepatan kilat si buaya lansung meloncat dalam air. “Oh Tuhan, saya baru percaya saya gerakan buaya yang sangat cepat dan itu buaya liar asli dari alam” *gobliks* :mrgreen: Setelah itu tanpa pikir panjang kami pun lansung bilang ke Bang Alay untuk berbalik arah pulang, karena kami ga berani lagi untuk lebih jauh masuk kedalam sungai tersebut. Ngeri harus ketemu buaya2.

Pulau Sapalewa : photo by Alvin Lee Hahuly

Dalam perjalanan pulang kami masih sempat mampir ke sebuah tempat produksi sagu, saya tak menyangka ada tempat seperti itu. Menurut pekerjanya, pada satu bak bisa menampung 100 tumang lebih sagu tumang (tumang : adalah tempat yang digunakan untuk menampung sagu mentah). Setelah mampir dan photo2 sebentar kami pun melanjutkan perjalanan untuk menikmati kelapa muda di Hulu sungai salawai ini. perut lapar dan stamina yang mulai melemas adalah kombinasi tepat untuk menikmati kelapa muda. :))

Saat melihat jam yang sudah menunjukkan waktu 12 siang, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Kecil Sapalewa untuk menikmati makan siang, pulau kecil tanpa penghuni ini pemandangannya sangat indah, dengan

Pantai di Pulau Salawai

komposisi pasir putih di sekeliling pulau dan pepohonan rindang membuat pulau ini terasa sejuk sekali, apalagi masih terdengar suara2 burung makin menambah nikmatnya pulau ini. Setelah makan siang lalu beristrahat, tak lupa kopi dibuat untuk menikmati suasana alam pulau sapalewa ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Kelelawar, tapi sebelumnya kami berencana untuk Birding di sebuah gundukan pasir alam di tengah laut yang biasanya menjadi tempat persinggarahan burung2 laut, akan tetapi kami harus kecewa karena pulau pasir itu tertutup air laut yang sedang pasang. Jadi kami pun melewatkan photo2 burung disitu dan terus menuju pulau Kelelawar.

Beberapa anak kecil sedang membersihkan rumput laut

Mendekati Pulau Kelelawar kita melewati beberapa pulau kecil, dari kejauhan terlihat ada beberapa rumah warga yang keliatannya sebagai tempat atau gudang penyimpanan rumput laut *bener tidak? soalnya ane tidur selama perjalanan dari Sapalewa ke Pulau Kelelawar nih* Terbangun beberapa saat kemudian setelah mendekat ke Pulau kelelawar, Pulau kelelawar ini bisa dibilang bukan sebuah pulau tapi lebih

Jalan masuk kedalam untuk melihat kelelawar *abaikan yang lagi pingsan ditengah itu*

mirip kumpulan tanaman bakau sejak dulu sehingga bisa menjadi saran bagi kelelawar Sawai.  sedang pulau-pulau disekeliling pun terlihat seperti itu ditambah pasir laut. Perjalanan ke pulau kelelawar hanya bisa dilakukan pada waktu air laut sedang pasang, jika air laut surut maka longboat tidak bisa masuk karena lautnya sudah dangkal, penduduk menanami sekitar pulau2 itu dengan bakau serta juga tanaman Rumput laut.

Terdapat sebuah dermaga dari kayu berbentuk huruf T menyambut longboat yang merapat ke pulau ini, dermaga kayu sekaligus pintu masuk kedalam pulau kecil ini dibangun pemerintah setempat untuk para pengunjung melihat kelelawar dari jarak cukup aman. Keseharian dermaga ini selain pintu masuk pulau kelelawar penduduk sekitar menggunakan tempat ini untuk membersihkan bibit ataupun hasil panen rumput laut sebelum di bawa pulang ke Desa Sawai. Selama perjalanan menggunakan Long boat ini pemandangan di sekitar sangat rugi kalo terlewatkan, aktifitas penduduk maupun burung2 di sela pepohonan memberi kesan sendiri dalam perjalanan ini.

Burung Laut (By Mas Nanang)

Di pulau ini habitat kelelawar sangatlah banyak, mereka tinggal di beberapa pohon Bakau yang besar-besar, sayang jika dilihat pembuatan jalan masuk tersebut sedikit mengganggu karena menebas  pohon-pohon bakau untuk mendekati pohon besar tempat berdiamnya para kelelawar ini, mungkin jika dibuat dengan konsep alam tanpa perlu merusak terlalu banyak bakau-bakau tersebut suasananya akan lebih menyeramkan kali yah :D

habitat kelelawar

Setelah dari pulau kelelawar, karena kondisi badan sudah sangat capek, kami pun memilih beristrahat sambil ngobrol2 dengan beberapa nelayan rumput laut yang baru saja membeli bibit rumput laut dari sebuah desa. Rencana istrahat sebentar rupanya tidak cukup, setelah membuat kopi *lagi* untuk dinikmati, rupanya teman2 tidak tahan untuk lansung menggulingkan badan beralaskan papan dermaga, capek + angin sepoi2 + musik lawas jaman 80-an jadi obat manjur untuk mata lansung tidur. Saya yang lagi menikmati suasana lansung menjepret teman2 yang sudah tidur duluan ;)) tapi rupanya nasib ga berpihak, setelah menjepret beberapa kali dan berniat tidur. Ealah, abang tukang long boat udah meminta kita untuk segera balik karena laut makin surut sehingga dikhawatirkan longboat tak bisa pulang ke Sawai. Di langit, awan gelap perlahan mulai muncul dari sebelah timur meski di sebelah barat langit masih terlihat cerah sekali. Apalagi kami masih harus menyimpan energi untuk perjalanan besok ke Rumah pohon maka kami pun segera kembali secepatnya dengan niat tentunya tidak ingin istrahat tetapi snorkeling di sekeliling penginapan yang tenang serta jepret senja tentunya.

Rumah Pohon

Platform Rumah Pohon aka Bird Watching Taman Nasional Manusela setinggi 45 meter; dari Sawai berjalan kaki sekitar 1 jam untuk menuju lokasi ini

Keesokan harinya, menurut rencana perjalanan ke Rumah Pohon di Dusun Masihulang Desa Sawai dimulai setelah makan siang, maka pagi setelah sarapan dan jalan-jalan di sekeliling penginapan untuk jepret2 sana sini kami pun kembali istirahat dengan tenang, tenang itu maksudnya tidur dengan nyenyak tanpa perlu khawatir terganggu oleh suara bising. Tapi akibatnya lumayan nendang, sakit kepala akibat kebanyakan tidur mulai kerasa akhirnya jam 11 siang, karena isi kepala mulai berdenyut2 saya pun memutuskan bangun dan bikin kopi di depan teras penginapan sambil menikmati aktifitas para nelayan disekeliling penginapan. Saat jam mulai menunjukkan tepat tengah hari, awan gelap perlahan mulai muncul, rasa khawatir terhadap rencana ke Rumah pohon mulai menyelusup, jika hujan turun maka kami akan sangat kesulitan sekali berjalan kesana dibawah guyuran hujan.

Setelah menikmati makan siang, hujan turun perlahan, oleh Pak Ali kami disarankan untuk menunggu hujan reda sedikit sebelum memulai perjalanan, laut yang terlihat pasang sampai bebrapa sentimeter dari biasa hampir menenggelamkan jembatan kecil di depan penginapan tersebut. Akhirnya hujan berhenti meski di langit masih terlihat awan berarak

Rute bakau teluk dalam

tapi matahari sudah mulai muncul lalu kami pun memutuskan melakukan perjalanan tepat jam 2 siang. Rute ke Rumah pohon yang kami lalui adalah menggunakan long boat memasuki teluk sawai sekitar 15 menitan, teluk Sawai bagian dalam ini dipenuhi oleh pohon-pohon bakau, jalan masuk yang digunakan mungkin hanya selebar 2-3 meter saja, sama seperti dengan sungai salawai, jalan masuk itu harus melewati rintangan berupa belokan2 tajam yang ekstrim bahkan pohon2 bakau di sekeliling jalan masuk ini pun terlihat lebih rindang dari pada sungai salawai. Setelah sampai di tujuan perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju dusun masihulan, jalan yang kami gunakan adalah jalan utama menuju desa Sawai dari Jalan lintas Seram melewati pegunungan SS tersebut. Jalan yang dibangun sekitar tahun 90-an dan diaspal sekitar 5 tahun lalu terlihat sudah hancur di mana-mana, bahkan dibeberapa titik terlihat hanya tanah merah belaka dengan gundukan-gundukan yang bisa membuat mobil terpeleset.

Gerbang Masuk Dusun Masihulan

Sekitar 30 menit kemudian kami sampai di rumah Om Buce, Ketua Tim pengelola Rumah Pohon, disana terlihat perlengkapan2 memanjat sudah terhampar di teras rumah beliau, sambil mengambil napas yang sudah ngos-ngosan senin kamis, kami pun menunggu Om Buce yang rupanya tidak menyangka kami akan naik ke rumah pohon ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore itu, Biasanya para pengungjung akan datang lebih siang agar bisa naik ke Rumah Pohon dan turun sore hari, sedangkan dengan waktu2 seperti kita ini biasanya para pengungjung akan menginap diatas rumah pohon. Setelah mengecek perlengkapan dengan baik, beberapa anggota Tim pengelola rumah pohon mulai mengangkut perlengkapan tersebut dan meminta kita untuk segera mengikuti mereka, sementara itu hujan rintik2 mulai turun perlahan-lahan, segala perlengkapan kamera pun kami masukan kedalam tas agar tidak kebasahan.

Perjalanan menyusuri jalanan aspal itu dilanjutkan melewati Lokasi Karantina Burung yang didirikan oleh Pemerintah beberapa saat kemudian kami mulai berbelok dan menyusuri jalanan setapak ala hutan-hutan tropis, melewati perkebunan kakao yang lagi berbuah perjalanan mulai memasuki detik2 menegangkan. Jalan yang becek bikin kaki terasa berat untuk melangkah, efeknya nafas terasa banget tinggal di ujung idung doang :( sedangkan penduduk lokal terlihat begitu santai, meski jalanan tersebut tidak menanjak akan tetapi lumayan berat dilewati bagi orang yg jarang naik gunung macam sayah ini. Ketika di kiri kanan pohon-pohon semakin tinggi dan suara burung makin banyak tiba2 didepan saya muncul tanjakan yang lumayan curam, begitu naik lansung dah saya lemas dan tak berdaya, hanya karena mendengar suara teman2 yang sudah sampai duluan begitu dekat maka ada sedikit harapan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Naik ke puncak ;))

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, riang-riang mulai ribut dikiri kanan menandakan malam yang sudah mulai tiba,  Tim pengelola bergerak cepat untuk mempersiapkan semuanya, Om Buce yang mendadak menhilang udah berada di atas rumah pohon dan memasang tali temali serta mengecek ke amanannya, sedang kita? dibalik napas kembang kempis itu kami mulai khawatir dengan kondisi semua orang (maksudnya kita-kita yang datang bukan penduduk disana)  sambil menenangkan diri kami mempertimbangkan estimasi waktu untuk naik ke atas pohon sekaligus turun serta tenaga yang tersisa yang jika dilihat maka mungkin malam hari baru bisa pulang. Jelas hal itu jelas sangat mengkhawatirkan, tenaga udah habis, perut lapar, jalanan yang tiba2 bikin kami semua trauma dan beberapa pertimbangan lain, akhirnya kami memutuskan soal kembali ke Sawai atau tidak nanti setelah kami semua berada diatas rumah pohon.

Ceria meski lapar 😀

Akhirnya dengan digeret satu persatu kami pun menaiki rumah pohon, dimulai dari Saya sebagai test case pertama jika selamat maka yang lain pun akan selamat *nangis darah*, Singgih, Yesco, Mas Nanang dan Bang Alvin terakhir merupakan urut-urutan, nanti posisi ini pun saat pulang tetap digunakan alhasil saya yang pertama menjdi kelinci percobaan beneran dengan turun kebawah tanpa tali pengaman utama (tali master) *nangis lagi* #abaikan.

Makan malam & wajah kelaparan

Dan ternyata orang terakhir yang sampai di atas terlihat waktu sudah menunjukkan tepat jam 6 sore. Dengan mempertimbangkan semuanya kami memutuskan menginap alias tidur di rumah pohon. Logistik? jangan di tanyain, Om Buce berbaik hati akan pulang dan mengambil makan malam kepada kami, karena jelas nekat sekali kami menginap diatas rumah pohon tanpa persiapan apa-apa, jaket & jas hujan mungkin iya (meski ada teman yang salah kostum karena hanya memakai baju kaos yukensi + celana pendek doang), tapi makanan? selain satu bungkus permen hexos yang dibeli di Masohi pas berangkat juga ada termos air panas beserta temannya kopi & gula sudah cukup bagi kami bertahan. Dari hasil hitung-hitungan kasar paling lambat Om Buce akan balik dengan makan malam sekitar jam 10 malam maka logistik tadi sudah cukuplah. Setelah ada kesepakatan kami pun mulai menjepret kiri kanan.

persiapan motret

Langit berbaik hati malam itu untuk kami, setelah disuguhi pemandangan indah senja dan kabutnya, perlahan bulan muncul, kekhawatiran terhadap hujan pun sirna. Bulan itu membuat kami tetap bisa melihat dalam kegelapan tanpa perlu senter atau penerangan lainnya. Oh iya di atas platform rumah pohon ini juga tersedia MCK darurat untuk hajat lain-lain itu, meski kami gunakan dengan yah begitu deh ;)) ngerti kan maksud sayah?. Semakin malam suguhan keindahan oleh alam makin indah, tapi rupanya ada satu yang membuat risau, suguhan kopi yang memakai ranting sebagai pengganti sendok yang lupa dibawa untuk mengganjal perut lapar + ngemut permen agar energi tak habis tidak bisa bertahan lama. Semakin malam suara-suara alam mulai ditimpali suara dari perut kami sendiri.

bangun tidur narsis lagi

Meski begitu, kami tetap mengajak Bang Ferly, seorang penduduk Masihulan untuk ngobrol-ngobrol, banyak kisah menarik dari beliau. Dari mulai kisah pengalaman beliau menangani klien dari bule sampai kepada tamu2 dari Jepang, yang paling menarik adalah kisah beliau tentang sejarah negeri Masihulan dan suku Huaulu di lembah itu. Tak terasa jam 10 sudah lewat, sedang makanan belum juga datang, kami pun mencoba tidur tapi tidak bisa. Lalu akhirnya sekitar jam 11.30 malam, sajian makan malam yang dinanti pun tiba, dengan cara digeret seperti kami tadi makanan pun dinaikkan lalu kami pun menikmati makanan paling nikmat selama ini di atas rumah pohon.

Minum kopi pagi

Paginya, ah tak usah dibilang, selain menikmati burung2 ciri khas Taman Nasional Manusela seperti : kakatua, pombo, nuri, rangong alias burung taong-taong dalam bahasa Ambon, kami pun menjepret sepuasnya sambil menunggu Om Buce dan timnya dari Masihulan untuk menurunkan kami sekaligus berjalan kaki pulang.

 

 

 

 

Sawai dalam lensa *sedikit*

[Gabungan photo teman2 yg ikut jalan ke Sawai]

 

Saat malam, Bulan perlahan muncul dari balik awan.

Puncak Hatu Sukun – Barisan pegunungan di belakang Sawai

selamat pagi

Saat pagi menyambut dari jendela kamar.

 

 

 

 

 

 

Selamat pagi…

 

 

 

 

 

 

 

pergi mengaji

Rumah penduduk disekitaran penginapan, terlihat dua orang anak kecil berangkat mengaji menyusuri jembatan2 kayu.

tangkap ikan

 

Memancing.. motret dari depan kamar, laut sangat jernih sampai koral-koral karang dapat terlihat dengan jelas

 

Bukan Underwater Photography, Foto ini di ambil dari atas penginapan, laut sangat jernih sehingga bisa melihat koral2 dan ikan dibawah laut

temans-temans

Narsis kala senja

 

*lirik ke atas* naudzubillah.. panjang sekali *cuek bebek*

Jadi untuk lebih memperpanjang ini posting, saya tambahin sedikit Tips jika anda berniat berlibur ke Sawai Maluku Tengah dengan aman, nyaman, nikmat dan tentu sepuas-puasnya.

Tips Berlibur Ke Sawai :

 

1. Rencakan perjalanan anda
Ini termasuk dengan mempertimbangkan akomodasi transporatsi, cuaca dan tour yang ingin anda isi di Sawai. Termasuk juga kesiapan fisik tentunya.

2. Cek Cuaca & kondisi
Waktu kunjungan terbaik sekitar bulan september – oktober atau bulan-bulan februari, akan tetapi sebaiknya anda melakukan cek ulang sehingga lebih valid, jangan sampai anda disana hanya menikmati rintik hujan saja :)

2. Cari informasi transportasi dengan baik.
Transportasi dari kota Ambon ke Masohi agak lancar dengan kapal cepat dua kali sehari pagi dan sore, sedikit kesulitan tranportasi saat rute Masohi – Sawai dan rute Masohi – Saka – Sawai sebaiknya transportasi sudah siap ketika anda masih berada di kota Ambon, sehingga saat sampai di Masohi anda tidak perlu pusing untuk tawar menawar mobil menuju Sawai ataupun Saka, jika anda mengambil rute ke Saka, maka pastikan dari pihak penginapan sudah mengetahui kedatangan anda dan mereka bisa menjemput/menunggu anda di Saka.
Dan paling penting, jika anda menggunakan mobil negosiasikan sekaligus transportas penjemputan sehingga anda tidak sibuk saat pulang untuk mencari transportasi lagi. Jangan lupa untuk meminta nomor telp si Supir untuk menjalin komunikasi.

3. Sebaiknya hari pertama tiba rencanakan untuk beristrahat dan mengenali daerah sekitar penginapan sehingga anda dapat santai dan benar2 menikmati suasana.

4. Hari kedua & seterusnya silahkan nikmat paket tour-tour yang anda pilih, sesuaikan waktunya agar anda dapat beristrahat dengan baik.

5. Sinyal yang ada di Sawai & sekitarnya masih satu operator yakni X*, sedangkan operator lainnya tidak ada, jadi pastikan anda membeli kartu perdana untuk persiapan disana jika ada keperluan penting.

apa lagi yah… engggggg… *ingat2* kalo mo kesana sekalian ajak aku biar jalan bareng2 hihiiihi *ditabok* *ngiler pengen balik lagi kesana* itu saja dulu semoga berguna.

Sebenarnya masih pengen share photo2 banyak lagi, tapi melihat kapasitas halaman yang kalo discrol udah panjang, jadi kapan2 di share lagi deh photo2 pemandangan sawai yang tak termuat di atas ini.. selamat menikmati…. #dihajarmassa

 


Leave a comment