Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Sawai : Surga di sudut pulau Seram

30 May Posted by in Ambon, Budaya, Maluku, Photography | 99 comments
Sawai : Surga di sudut pulau Seram

 

senja

Senja yang tak akan terlupakan di Sawai

Peringatan Postingan ini sangat panjang sekale ditambah foto2 narsis yang aduhai nan menggoda. titik, jangan salahkan saya kalo anda ngamuk2 😀

“Nekat” adalah kata pertama yang terlintas di pemikiran untuk jalan2 ke beberapa tempat di Ambon saat Trip ke Sawai dilaksanakan padahal beberapa hari kemudian saya harus mencapai Namlea untuk sebuah urusan juga, tercapai kata sepakat dengan beberapa teman yg ingin ke Sawai juga, maka akhirnya dengan nekat kami menyebrang ke Pulau Seram menggunakan Kapal Cepat untuk ke pulau Seram sebelum memakai mobil ke Saka sebagai jalur terdekat untuk ke Sawai.

Negeri Sawai merupakan sebuah negeri adat yang terdapat di Kecamatan Seram Utara Kab. Maluku Tengah Provinsi Maluku, dengan memiliki petuanan dan 5 anak dusun yaitu Masihulang, Rumaolat, Besi, Opin dan Olong. Desa Sawai juga masuk dalam daerah Taman Nasional Manusela sehingga tidak heran kondisi alamnya sangat terjaga, meski seperti pada tebing2 karang yang menjulang terlihat coretan2 tangan yang mengotori dinding alam ini. Untuk mencapai desa Sawai dapat menggunakan dua cara dari Masohi Ibu kota kabupaten Maluku tengah yaitu dengan menggunakan mobil lansung ke Masohi – Sawai dengan rute melalui pegunungan yang terkenal dengan lekukan SS yang lumayan bikin merinding sekitar 4 Jam, atau mengambil rute ke Masohi – Dusun Saka sekitar 2 Jam perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Long Boat sekitar 30 menit untuk mencapai Sawai.

Bersama teman2 kami sepakat untuk menginap di penginapan Lisar Bahari milik Pak Ali, Penginapan ini adalah pilihan alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana desa, terletak diujung kampung  dan berdiri diatas laut berbentuk rumah panggung selain tenang akan tetapi tidak terisolir dari orang2 lokal, di sekeliling penginapan masih terlihat warga kampung yang melakukan aktifitas sehari-hari sehingga pilihan untuk berlibur sekaligus memotret Human Interest dapat terlaksana. Sesampainya di penginapan kita disambut oleh kicauan burung-burung yang masih liar di gunung sebelah belakang penginapan juga bunyi suara ikan yang berebut makanan di laut. Menurut Pak Ali Penginapan ini sudah berdiri lumayan lama sejak tahun 90-an, pengungjung yang datang kesana rata2 adalah orang Bule, sedangkan pengungjung dari Indonesia bisa dihitung dengan jari saja. Yang mengejutkan menurut Pak Ali, kami adalah orang-orang Ambon yang bisa dibilang pertama kali datang ke situ untuk menikmati Alamnya, biasanya yang datang ke daerah situ hanyalah orang-orang dari luar jika ada orang ambon pun yang datang maka hanyalah melaksanakan tugas, biasanya PNS dari dinas Kehutanan yang paling banyak.

Sambil melepas penat di beranda penginapan, kami pun menikmati alunan senja yang perlahan mulai memasuki malam, meski hujan turun membasahi bumi, akan tetapi di ufuk sana senja terlihat indah tanpa terganggu gerimis itu. Rencana kami malam itu adalah full beristrahat untuk aktifitas 2 hari berikutnya yang cukup panjang dan pasti melelahkan. Jadi kami lebih memilih untuk mengembalikan energi setelah perjalanan panjang tersebut tentunya tidak lupa untuk jepret2 sekitarnya yang kesemuanya menarik untuk di abadikan.

senja saat hujan

Hujan & Senja : Harmoni yang indah.

Selain menyediakan tempat menginap, penginapan ini pun menyediakan semacam paket-paket tour keliling untuk menikmati panaroma dan sensasi alam sawai. Beberapa tour yang disajikan seperti Tour Rumah Pohon (Bird Watching) di Dusun Masihulang, Tour Salawai River untuk menikmati burung-burung di sepanjangan aliran sungai dan buaya liar sungai tersebut, Tour ke Pulau Kelelawar dan Gua Bawah laut. Dan masih banyak lagi.

damai

Ngopi di depan kamar dan disuguhi pemandangan fresh macam begini.

*halah* malah kebanyakan cerita, jadi karena saya ini mengikuti mahzab “biarkan foto bicara” maka sebaiknya dinikmati sajalah hasil jepretan amatir saya ini selama main-main di Sawai. *seperti tak sadar kalo diatas pun sudah ada foto-fotonya* huh!

sawai

Pemandangan yang selalu bikin hati tergetar

*Posting Update*

Sesuai direncanakan maka pada hari pertama kami pun melakukan perjalanan menyusuri sungai Salawai untuk memotret burung dan buaya, menurut penduduk setempat buaya-buaya tersebut adalah buaya liar yang sudah mendiami Sungai Salawai sejak lama. Dulu pada hulu sungai pun sudah ada buayanya akan tetapi dengan semakin ramainya transportasi di Sungai dan dibukanya jalan Trans Seram maka buaya-buaya ini pun makin tersingkir ke bagian Hutan yang semakin jauh ke dalam.  Tipikal sungai salawai tidak sama dengan sungai-sungai yang berada di pulau seram ini *seperti selama ini yang saya tau* Sungai Salawai lebih mirip sungai2 besar di Pulau Jawa, Kalimantan atau Papua, dengan air berwarna coklat dan mengalir dengan arus yang lumayan tenang, Sungai ini pun tidak terlalu lebar mungkin sekitar 6-7 meteran saja dan di tepi sungai  banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon seperti pohon aren atau juga pakis *ga tau sayah :D*.  Semakin ke dalam maka pepohonan pakis/aren di pinggiran sungai berganti dengan pohon2 sagu kadang-kadang ditemui “talaga” atau tempat produksi sagu di bagian pinggir sungai. Setelah melewati Jembatan Tran Seram, maka kita disuguhi pemandangan khas hutan-hutan tropis yang keliatan menyeramkan sekaligus indah. sepanjang perjalanan ini telinga kita dihibur oleh berbagai suara-suara burung dari dalam hutan dipinggiran sungai. dari Burung nuri, burung siang sampai pada bebek-bebek yang beterbangan mencari makan di sepanjang sungai. Kadang-kadang malah terlihat ayam hutan sedang mencari makan juga. Sungai yang berkelok-kelok merupakan tipikal sungai ini, kadang2 kelokan tajam membuat long boat yang kami naiki terpaksa harus melakukan manuver2 yang mengerikan, tidak hanya kelokan2 tajam sungai, akan tetapi halangan2 berupa pohon tumbang yg membuat kami terpaksa menundukkan kepala atau pohon tumbang didalam air membuat long boat terseok2 melewatinya.

Sungai Salawai

Rute Sungai Salawai yang harus dilewati, kadang tertutup dahan2 sagu dari sekeliling sungai

Dalam perjalanan menyusuri sungai ini, kami berlima tidak yakin akan menemukan buaya dalam sungai ini, kami lebih fokus untuk menikmati hutan dan keindahan karena dari informasi penduduk buaya sungai ini lebih sering ditemukan oleh mereka yang menggunakan perahu dayung tanpa keributan. Sedang kami, ah jangan hitung lengkingan mesin 20 Pk di belakang longboat, setiap melihat pemandangan yang indah saja, mulut kami sudah berkicau lebih keras dari pada suara burung di pepohonan. Pada sebuah kelokan tajam, saat mata dan kamera kami lagi siap2 untuk memotret beberapa ekor bebek yang terbang mengiringi kami, tiba Bang Alay, pengemudi longboat berteriak kalo ada buaya didepan kami, saya yang duduk paling depan kaget setengah mati lalu mencari2 dimana buayanya.. rupanya.. omaigat.. hanya berkisar beberapa meter saja dari depan longboat, mungkin sekitar 4-5 meter si buaya sedang asyik berjemur menikmati cahaya matahari di pinggiran sungai.

buaya salawai

Buaya liar sungai Salawai yang kami temukan dalam perjalanan ini. Dengan modal lensa kit dan jarak beberapa meter dari buaya lumayan membuat hati berdebar juga.

Dengan tanpa pikir panjang lansung kamera bergerak untuk menjepret buaya tersebut, hampir 7 menit kemudian saya bertanya-tanya dalam hati ” ini buaya plastik apa ga sih, dari tadi kok ga gerak2,diam seperti patung aja nih” eadalah.. tak sampai dua menit saat perahu yang terkena arus sudah mundur agak jauh dan kami meminta untuk mendekat sedikit, mungkin karena saking ributnya kami ditambah suara mesin, tiba2 dengan kecepatan kilat si buaya lansung meloncat dalam air. “Oh Tuhan, saya baru percaya saya gerakan buaya yang sangat cepat dan itu buaya liar asli dari alam” *gobliks* :mrgreen: Setelah itu tanpa pikir panjang kami pun lansung bilang ke Bang Alay untuk berbalik arah pulang, karena kami ga berani lagi untuk lebih jauh masuk kedalam sungai tersebut. Ngeri harus ketemu buaya2.

Pulau Sapalewa : photo by Alvin Lee Hahuly

Dalam perjalanan pulang kami masih sempat mampir ke sebuah tempat produksi sagu, saya tak menyangka ada tempat seperti itu. Menurut pekerjanya, pada satu bak bisa menampung 100 tumang lebih sagu tumang (tumang : adalah tempat yang digunakan untuk menampung sagu mentah). Setelah mampir dan photo2 sebentar kami pun melanjutkan perjalanan untuk menikmati kelapa muda di Hulu sungai salawai ini. perut lapar dan stamina yang mulai melemas adalah kombinasi tepat untuk menikmati kelapa muda. :))

Saat melihat jam yang sudah menunjukkan waktu 12 siang, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Kecil Sapalewa untuk menikmati makan siang, pulau kecil tanpa penghuni ini pemandangannya sangat indah, dengan

Pantai di Pulau Salawai

komposisi pasir putih di sekeliling pulau dan pepohonan rindang membuat pulau ini terasa sejuk sekali, apalagi masih terdengar suara2 burung makin menambah nikmatnya pulau ini. Setelah makan siang lalu beristrahat, tak lupa kopi dibuat untuk menikmati suasana alam pulau sapalewa ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Kelelawar, tapi sebelumnya kami berencana untuk Birding di sebuah gundukan pasir alam di tengah laut yang biasanya menjadi tempat persinggarahan burung2 laut, akan tetapi kami harus kecewa karena pulau pasir itu tertutup air laut yang sedang pasang. Jadi kami pun melewatkan photo2 burung disitu dan terus menuju pulau Kelelawar.

Beberapa anak kecil sedang membersihkan rumput laut

Mendekati Pulau Kelelawar kita melewati beberapa pulau kecil, dari kejauhan terlihat ada beberapa rumah warga yang keliatannya sebagai tempat atau gudang penyimpanan rumput laut *bener tidak? soalnya ane tidur selama perjalanan dari Sapalewa ke Pulau Kelelawar nih* Terbangun beberapa saat kemudian setelah mendekat ke Pulau kelelawar, Pulau kelelawar ini bisa dibilang bukan sebuah pulau tapi lebih

Jalan masuk kedalam untuk melihat kelelawar *abaikan yang lagi pingsan ditengah itu*

mirip kumpulan tanaman bakau sejak dulu sehingga bisa menjadi saran bagi kelelawar Sawai.  sedang pulau-pulau disekeliling pun terlihat seperti itu ditambah pasir laut. Perjalanan ke pulau kelelawar hanya bisa dilakukan pada waktu air laut sedang pasang, jika air laut surut maka longboat tidak bisa masuk karena lautnya sudah dangkal, penduduk menanami sekitar pulau2 itu dengan bakau serta juga tanaman Rumput laut.

Terdapat sebuah dermaga dari kayu berbentuk huruf T menyambut longboat yang merapat ke pulau ini, dermaga kayu sekaligus pintu masuk kedalam pulau kecil ini dibangun pemerintah setempat untuk para pengunjung melihat kelelawar dari jarak cukup aman. Keseharian dermaga ini selain pintu masuk pulau kelelawar penduduk sekitar menggunakan tempat ini untuk membersihkan bibit ataupun hasil panen rumput laut sebelum di bawa pulang ke Desa Sawai. Selama perjalanan menggunakan Long boat ini pemandangan di sekitar sangat rugi kalo terlewatkan, aktifitas penduduk maupun burung2 di sela pepohonan memberi kesan sendiri dalam perjalanan ini.

Burung Laut (By Mas Nanang)

Di pulau ini habitat kelelawar sangatlah banyak, mereka tinggal di beberapa pohon Bakau yang besar-besar, sayang jika dilihat pembuatan jalan masuk tersebut sedikit mengganggu karena menebas  pohon-pohon bakau untuk mendekati pohon besar tempat berdiamnya para kelelawar ini, mungkin jika dibuat dengan konsep alam tanpa perlu merusak terlalu banyak bakau-bakau tersebut suasananya akan lebih menyeramkan kali yah 😀

habitat kelelawar

Setelah dari pulau kelelawar, karena kondisi badan sudah sangat capek, kami pun memilih beristrahat sambil ngobrol2 dengan beberapa nelayan rumput laut yang baru saja membeli bibit rumput laut dari sebuah desa. Rencana istrahat sebentar rupanya tidak cukup, setelah membuat kopi *lagi* untuk dinikmati, rupanya teman2 tidak tahan untuk lansung menggulingkan badan beralaskan papan dermaga, capek + angin sepoi2 + musik lawas jaman 80-an jadi obat manjur untuk mata lansung tidur. Saya yang lagi menikmati suasana lansung menjepret teman2 yang sudah tidur duluan ;)) tapi rupanya nasib ga berpihak, setelah menjepret beberapa kali dan berniat tidur. Ealah, abang tukang long boat udah meminta kita untuk segera balik karena laut makin surut sehingga dikhawatirkan longboat tak bisa pulang ke Sawai. Di langit, awan gelap perlahan mulai muncul dari sebelah timur meski di sebelah barat langit masih terlihat cerah sekali. Apalagi kami masih harus menyimpan energi untuk perjalanan besok ke Rumah pohon maka kami pun segera kembali secepatnya dengan niat tentunya tidak ingin istrahat tetapi snorkeling di sekeliling penginapan yang tenang serta jepret senja tentunya.

Rumah Pohon

Platform Rumah Pohon aka Bird Watching Taman Nasional Manusela setinggi 45 meter; dari Sawai berjalan kaki sekitar 1 jam untuk menuju lokasi ini

Keesokan harinya, menurut rencana perjalanan ke Rumah Pohon di Dusun Masihulang Desa Sawai dimulai setelah makan siang, maka pagi setelah sarapan dan jalan-jalan di sekeliling penginapan untuk jepret2 sana sini kami pun kembali istirahat dengan tenang, tenang itu maksudnya tidur dengan nyenyak tanpa perlu khawatir terganggu oleh suara bising. Tapi akibatnya lumayan nendang, sakit kepala akibat kebanyakan tidur mulai kerasa akhirnya jam 11 siang, karena isi kepala mulai berdenyut2 saya pun memutuskan bangun dan bikin kopi di depan teras penginapan sambil menikmati aktifitas para nelayan disekeliling penginapan. Saat jam mulai menunjukkan tepat tengah hari, awan gelap perlahan mulai muncul, rasa khawatir terhadap rencana ke Rumah pohon mulai menyelusup, jika hujan turun maka kami akan sangat kesulitan sekali berjalan kesana dibawah guyuran hujan.

Setelah menikmati makan siang, hujan turun perlahan, oleh Pak Ali kami disarankan untuk menunggu hujan reda sedikit sebelum memulai perjalanan, laut yang terlihat pasang sampai bebrapa sentimeter dari biasa hampir menenggelamkan jembatan kecil di depan penginapan tersebut. Akhirnya hujan berhenti meski di langit masih terlihat awan berarak

Rute bakau teluk dalam

tapi matahari sudah mulai muncul lalu kami pun memutuskan melakukan perjalanan tepat jam 2 siang. Rute ke Rumah pohon yang kami lalui adalah menggunakan long boat memasuki teluk sawai sekitar 15 menitan, teluk Sawai bagian dalam ini dipenuhi oleh pohon-pohon bakau, jalan masuk yang digunakan mungkin hanya selebar 2-3 meter saja, sama seperti dengan sungai salawai, jalan masuk itu harus melewati rintangan berupa belokan2 tajam yang ekstrim bahkan pohon2 bakau di sekeliling jalan masuk ini pun terlihat lebih rindang dari pada sungai salawai. Setelah sampai di tujuan perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju dusun masihulan, jalan yang kami gunakan adalah jalan utama menuju desa Sawai dari Jalan lintas Seram melewati pegunungan SS tersebut. Jalan yang dibangun sekitar tahun 90-an dan diaspal sekitar 5 tahun lalu terlihat sudah hancur di mana-mana, bahkan dibeberapa titik terlihat hanya tanah merah belaka dengan gundukan-gundukan yang bisa membuat mobil terpeleset.

Gerbang Masuk Dusun Masihulan

Sekitar 30 menit kemudian kami sampai di rumah Om Buce, Ketua Tim pengelola Rumah Pohon, disana terlihat perlengkapan2 memanjat sudah terhampar di teras rumah beliau, sambil mengambil napas yang sudah ngos-ngosan senin kamis, kami pun menunggu Om Buce yang rupanya tidak menyangka kami akan naik ke rumah pohon ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore itu, Biasanya para pengungjung akan datang lebih siang agar bisa naik ke Rumah Pohon dan turun sore hari, sedangkan dengan waktu2 seperti kita ini biasanya para pengungjung akan menginap diatas rumah pohon. Setelah mengecek perlengkapan dengan baik, beberapa anggota Tim pengelola rumah pohon mulai mengangkut perlengkapan tersebut dan meminta kita untuk segera mengikuti mereka, sementara itu hujan rintik2 mulai turun perlahan-lahan, segala perlengkapan kamera pun kami masukan kedalam tas agar tidak kebasahan.

Perjalanan menyusuri jalanan aspal itu dilanjutkan melewati Lokasi Karantina Burung yang didirikan oleh Pemerintah beberapa saat kemudian kami mulai berbelok dan menyusuri jalanan setapak ala hutan-hutan tropis, melewati perkebunan kakao yang lagi berbuah perjalanan mulai memasuki detik2 menegangkan. Jalan yang becek bikin kaki terasa berat untuk melangkah, efeknya nafas terasa banget tinggal di ujung idung doang 🙁 sedangkan penduduk lokal terlihat begitu santai, meski jalanan tersebut tidak menanjak akan tetapi lumayan berat dilewati bagi orang yg jarang naik gunung macam sayah ini. Ketika di kiri kanan pohon-pohon semakin tinggi dan suara burung makin banyak tiba2 didepan saya muncul tanjakan yang lumayan curam, begitu naik lansung dah saya lemas dan tak berdaya, hanya karena mendengar suara teman2 yang sudah sampai duluan begitu dekat maka ada sedikit harapan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Naik ke puncak ;))

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, riang-riang mulai ribut dikiri kanan menandakan malam yang sudah mulai tiba,  Tim pengelola bergerak cepat untuk mempersiapkan semuanya, Om Buce yang mendadak menhilang udah berada di atas rumah pohon dan memasang tali temali serta mengecek ke amanannya, sedang kita? dibalik napas kembang kempis itu kami mulai khawatir dengan kondisi semua orang (maksudnya kita-kita yang datang bukan penduduk disana)  sambil menenangkan diri kami mempertimbangkan estimasi waktu untuk naik ke atas pohon sekaligus turun serta tenaga yang tersisa yang jika dilihat maka mungkin malam hari baru bisa pulang. Jelas hal itu jelas sangat mengkhawatirkan, tenaga udah habis, perut lapar, jalanan yang tiba2 bikin kami semua trauma dan beberapa pertimbangan lain, akhirnya kami memutuskan soal kembali ke Sawai atau tidak nanti setelah kami semua berada diatas rumah pohon.

Ceria meski lapar 😀

Akhirnya dengan digeret satu persatu kami pun menaiki rumah pohon, dimulai dari Saya sebagai test case pertama jika selamat maka yang lain pun akan selamat *nangis darah*, Singgih, Yesco, Mas Nanang dan Bang Alvin terakhir merupakan urut-urutan, nanti posisi ini pun saat pulang tetap digunakan alhasil saya yang pertama menjdi kelinci percobaan beneran dengan turun kebawah tanpa tali pengaman utama (tali master) *nangis lagi* #abaikan.

Makan malam & wajah kelaparan

Dan ternyata orang terakhir yang sampai di atas terlihat waktu sudah menunjukkan tepat jam 6 sore. Dengan mempertimbangkan semuanya kami memutuskan menginap alias tidur di rumah pohon. Logistik? jangan di tanyain, Om Buce berbaik hati akan pulang dan mengambil makan malam kepada kami, karena jelas nekat sekali kami menginap diatas rumah pohon tanpa persiapan apa-apa, jaket & jas hujan mungkin iya (meski ada teman yang salah kostum karena hanya memakai baju kaos yukensi + celana pendek doang), tapi makanan? selain satu bungkus permen hexos yang dibeli di Masohi pas berangkat juga ada termos air panas beserta temannya kopi & gula sudah cukup bagi kami bertahan. Dari hasil hitung-hitungan kasar paling lambat Om Buce akan balik dengan makan malam sekitar jam 10 malam maka logistik tadi sudah cukuplah. Setelah ada kesepakatan kami pun mulai menjepret kiri kanan.

persiapan motret

Langit berbaik hati malam itu untuk kami, setelah disuguhi pemandangan indah senja dan kabutnya, perlahan bulan muncul, kekhawatiran terhadap hujan pun sirna. Bulan itu membuat kami tetap bisa melihat dalam kegelapan tanpa perlu senter atau penerangan lainnya. Oh iya di atas platform rumah pohon ini juga tersedia MCK darurat untuk hajat lain-lain itu, meski kami gunakan dengan yah begitu deh ;)) ngerti kan maksud sayah?. Semakin malam suguhan keindahan oleh alam makin indah, tapi rupanya ada satu yang membuat risau, suguhan kopi yang memakai ranting sebagai pengganti sendok yang lupa dibawa untuk mengganjal perut lapar + ngemut permen agar energi tak habis tidak bisa bertahan lama. Semakin malam suara-suara alam mulai ditimpali suara dari perut kami sendiri.

bangun tidur narsis lagi

Meski begitu, kami tetap mengajak Bang Ferly, seorang penduduk Masihulan untuk ngobrol-ngobrol, banyak kisah menarik dari beliau. Dari mulai kisah pengalaman beliau menangani klien dari bule sampai kepada tamu2 dari Jepang, yang paling menarik adalah kisah beliau tentang sejarah negeri Masihulan dan suku Huaulu di lembah itu. Tak terasa jam 10 sudah lewat, sedang makanan belum juga datang, kami pun mencoba tidur tapi tidak bisa. Lalu akhirnya sekitar jam 11.30 malam, sajian makan malam yang dinanti pun tiba, dengan cara digeret seperti kami tadi makanan pun dinaikkan lalu kami pun menikmati makanan paling nikmat selama ini di atas rumah pohon.

Minum kopi pagi

Paginya, ah tak usah dibilang, selain menikmati burung2 ciri khas Taman Nasional Manusela seperti : kakatua, pombo, nuri, rangong alias burung taong-taong dalam bahasa Ambon, kami pun menjepret sepuasnya sambil menunggu Om Buce dan timnya dari Masihulan untuk menurunkan kami sekaligus berjalan kaki pulang.

 

 

 

 

Sawai dalam lensa *sedikit*

[Gabungan photo teman2 yg ikut jalan ke Sawai]

Saat malam, Bulan perlahan muncul dari balik awan.

Puncak Hatu Sukun - Barisan pegunungan di belakang Sawai

selamat pagi

Saat pagi menyambut dari jendela kamar.

Selamat pagi...

 

pergi mengaji

Rumah penduduk disekitaran penginapan, terlihat dua orang anak kecil berangkat mengaji menyusuri jembatan2 kayu.

tangkap ikan

Memancing.. motret dari depan kamar, laut sangat jernih sampai koral-koral karang dapat terlihat dengan jelas

 

Bukan Underwater Photography, Foto ini di ambil dari atas penginapan, laut sangat jernih sehingga bisa melihat koral2 dan ikan dibawah laut

temans-temans

Narsis kala senja

 

*lirik ke atas* naudzubillah.. panjang sekali *cuek bebek*

Jadi untuk lebih memperpanjang ini posting, saya tambahin sedikit Tips jika anda berniat berlibur ke Sawai Maluku Tengah dengan aman, nyaman, nikmat dan tentu sepuas-puasnya.

Tips Berlibur Ke Sawai :

1. Rencakan perjalanan anda
Ini termasuk dengan mempertimbangkan akomodasi transporatsi, cuaca dan tour yang ingin anda isi di Sawai. Termasuk juga kesiapan fisik tentunya.

2. Cek Cuaca & kondisi
Waktu kunjungan terbaik sekitar bulan september – oktober atau bulan-bulan februari, akan tetapi sebaiknya anda melakukan cek ulang sehingga lebih valid, jangan sampai anda disana hanya menikmati rintik hujan saja 🙂

2. Cari informasi transportasi dengan baik.
Transportasi dari kota Ambon ke Masohi agak lancar dengan kapal cepat dua kali sehari pagi dan sore, sedikit kesulitan tranportasi saat rute Masohi – Sawai dan rute Masohi – Saka – Sawai sebaiknya transportasi sudah siap ketika anda masih berada di kota Ambon, sehingga saat sampai di Masohi anda tidak perlu pusing untuk tawar menawar mobil menuju Sawai ataupun Saka, jika anda mengambil rute ke Saka, maka pastikan dari pihak penginapan sudah mengetahui kedatangan anda dan mereka bisa menjemput/menunggu anda di Saka.
Dan paling penting, jika anda menggunakan mobil negosiasikan sekaligus transportas penjemputan sehingga anda tidak sibuk saat pulang untuk mencari transportasi lagi. Jangan lupa untuk meminta nomor telp si Supir untuk menjalin komunikasi.

3. Sebaiknya hari pertama tiba rencanakan untuk beristrahat dan mengenali daerah sekitar penginapan sehingga anda dapat santai dan benar2 menikmati suasana.

4. Hari kedua & seterusnya silahkan nikmat paket tour-tour yang anda pilih, sesuaikan waktunya agar anda dapat beristrahat dengan baik.

5. Sinyal yang ada di Sawai & sekitarnya masih satu operator yakni X*, sedangkan operator lainnya tidak ada, jadi pastikan anda membeli kartu perdana untuk persiapan disana jika ada keperluan penting.

apa lagi yah… engggggg… *ingat2* kalo mo kesana sekalian ajak aku biar jalan bareng2 hihiiihi *ditabok* *ngiler pengen balik lagi kesana* itu saja dulu semoga berguna.

Sebenarnya masih pengen share photo2 banyak lagi, tapi melihat kapasitas halaman yang kalo discrol udah panjang, jadi kapan2 di share lagi deh photo2 pemandangan sawai yang tak termuat di atas ini.. selamat menikmati…. #dihajarmassa

 

99 comments

  • almascatie says:

    buset.. panjang kali ni posting :))

  • Ketut says:

    Kurang panjang reportasenya Mas… foto2nya juga kurang banyak. Dari dulu pengen bikin blog tapi gak bisa2. Nggak bakat nulis keknya :((

  • Chic says:

    Aaaaaaaal.. photonya epic! kecuali beberapa photo di bagian bawah sih… 😆

  • isti says:

    gileeee..photonya keren2 bangett…..

  • singgih orajelazz says:

    ekspedisi yg tak terlupakan… ditunggu untuk adventure selanjutnya.. 🙂
    salam..

  • aRuL says:

    wah gila keren banget fotonya, apalagi pemandangan alam yg di foto, ah bang almas selalu bikin ngiler ke maluku nih, dari pinggir pantai sampai pegunungan di sana keknya keren banget.. ah damai liat fotonya2, apalagi kalo ke sana 🙂
    *eh kameranya juga keren2

  • Liputannya mantap.
    jadi pengen jalan2 ke sawai.
    cuma bugdetnya gila.

    foto2nya mantap Bung Tanase.
    kapan arumbai di ajak kesana lai?
    *senggol bang hari sama mas dharma*

  • Amd says:

    Anjrit abis pemandangannya! Kapan ya bisa ikut Almas ke sana?

    etapi foto-foto terakhir itu beneran bikin ilfil *pletak*

  • giewahyudi says:

    Indahnya..

    Apalagi bisa memainkan dawai gitar di desa Sawai.. 🙂

  • almascatie says:

    @Bli Ketut
    wuah.. capek mas, ini aja posting udah ditahan2 1 minggu kan :)) tapi gpp.. ditambahin perlahan2 mas biar lengkap.
    walah mas, ga harus tulisan formal kan. aku ae tulisan ancur2 tetep PD aja yang penting ngeblog :))

    @Chic
    halah.. kan udah ada peringatan jangan diliat =))

    @Isti
    main kesini yuk Is 😀

    @Singgih
    Setuju.. Namlea, Kei, TUal, MTB belom kita jamah semuanya 😀

    @Arul
    waktu terhenti disana setau saya =_=
    makasih Om 😀

    *lirik posting terakhir arul*
    arghhhhhh… *ga jadi BlogWalking* 😆

    @iki
    mau budget murah mirip ekspedisi ke Buano bisa saja kie, 150 ribu oto dari ambon sawai, tapi syaratnya harus ada tamang disana.. anana iain ada dari Sawai seng? kalo ada katong jalan kesana murah meriah 😀

    @Bang Amed
    ayoh nabung. masak ke Jogja bsa.. ke Ambon ga bisa?? mentang2 di Jogja ada Anto ama deking sih *dikeplak*
    =))

  • almascatie says:

    @Gie
    tanpa gitar saja sudah indah.. kalo bawa gitar berarti harus sama ehemm.. ehem.. biar makin romantis :))

  • giewahyudi says:

    Nah itu maksudnya.. 😛

  • wes7ohn says:

    Itu buaya memang kayak buaya plastik 🙂 (tes kore pi)

  • almascatie says:

    @Gie
    asyekkk.. bulan madu disini yah ;)) *lirik mbak e* N:))

    @Wes
    hahahahha.. iyah e. lia dia pu dalam mulu beta kira plastik. pas balumpa, lia la kaki gomotar nih 😆

  • Artikelnya luar biasa panjang 😛

    Tapi, terbayar dengan gambar-gambarnya yang aduhai…berepa gambar pernah dapat dari teman yang emang asli sono, tapi tak seindah ini (terang aja wong dia cuma pake kamera Hp, he he)

    Keknya….tak lama lagi daku bakal meluncur kesana…insyaallah 🙂

  • Yari NK says:

    Wah itu foto yang After the Rain dan Hujan & Senja benar2 bersuasana romantis deh, seperti di dalam mimpi: sepi, “aneh”, “mengerikan” tapi indah luar biasa…. Mungkin selain alamnya yang indah, yang ngambil gambar juga berseni banget, so pasti! 😀

  • wien says:

    puas liat foto2nya yg keren abis…ngeri donk masih ada buaya liar begitu…

  • ysalma says:

    artikelnya panjang, tapi sangat menggoda untuk dipelototin sampai akhir, pertanyaannya, Kapan saya bisa menikmati keindahan itu ya?

  • noell_vb says:

    wah..mantap nich..awal bulan Mei kemarin ane juga ke sana..nginap juga tuch di penginapannya….hhmmm…asyik banget sob..nama tuch Penginapan..Wisata Bahari Lesar…kayaknya pingin lagi kembali ke sana coz pemiliknya Pak. Ali ngajak i untuk main lagi ke sana..mantap sob…

  • Akiko says:

    Hiks, begitu berhasil buka laman ini, langsung dapat sms kalo quota habis. :'(

    BTW, dari kualitasnya gambar-gambar di atas hasil editan kan? Kombinasi warna jigga terang dan biru itu kontras sekali untuk benar-benar alami.

  • almascatie says:

    @PendarBingtang
    hei nona.. kalo sampe di kota Ambon kasih kabar yah.. kopdar ama teman2 arumbai disini 😀
    datang kesana dan siapkan pena serta kertas untuk menulis kesan2 yah heheheh

    @Pak Yari
    dari foto mungkin sedikit terambil, apalagi kalo disaksikan lansung pak. 🙂

    @Wien
    gpp win. saya ga ngeri kok. buaya poto buaya =)) #kabur

    @Ysalma
    saya tunggu loh bu 😀

    @Noel
    😀 tadi teman2 separuh sudah meluncur kesana. bulan2 ini belum kesana agenda dekat namlea dulu 😀

    @Akiko
    hah?? maafkan mba 😐 🙁

    yaks, kontras dan ketajaman ditambah sedikit, kalo jingga sama biru kayaknya dari asli rada ga beda jauh sih. twilight setelah hujan yg berlansung beberapa menit saja. karya alam

  • Asop says:

    Wow… fotonya bening-bening, indah-indah… *terharu akan keindahan alamnya* 😥 😥

    Dan lagi, itu buaya bener2 hidup ya….. 😯

  • speechless..bener2 keren abiss…

  • indobrad says:

    haduhhh Almas, jadi pengen pulang kampung dehhh.

  • Dharma says:

    Saya mau nyemplung dilautnya itu *korekkorekpasir*
    Kapan ya bisa kesana *aslisumpahakumupengbanget*
    Aku tau tempat itu dari buku Extremely Beautiful Maluku ditambah ini deh….
    Ada satu tempat lagi yang asik yaitu Tebing Batu Sawai…
    eh abis itu mandi-mandi di Aer Belanda…

  • dewi ketujuh says:

    keren bangeeeettttt…
    *ngiler*
    *nunggu dikirimin tiket ke sana :))*

  • indahjuli says:

    Iriiiiiiiii, kapan ya bisa ke tempat-tempat indah seperti Sawai ini.
    Foto-fotonya keren, kecuali yang buaya 😀

  • Kakaakin says:

    Subhanallah…
    Indah2 banget pemandangannya…
    Apalagi yang dasar lautnya bisa terlihat itu… 😀

  • morishige says:

    gile lautnya jernih banget.
    liat fotonya jadi pengen nyeburrr..

  • @nonaedda says:

    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    gw mau kesana
    gw mau kesana
    gw mau kesana
    gw mau kesana
    gw mau kesanaaaaaaaaaa >,<
    *cekek2almascatie*

  • Rizal says:

    HHmmmmm,,,,,,foto2nya indah banget,,,jadi rindu pengen pulkam,,,,
    Oh,,,sawaiku,,kapan pulang,,,,hiks,,hiks,,

  • alinaun says:

    OMG, tempatnya bagus! Ah, dulu waktu kecil sempat tinggal di Ambon 2 Mingguan 😐 saya jadi kangen Irian

  • Michael Edward says:

    Ini foto pasti ada antua muka..kecuali yg Marsegu..hehehehe

  • DYON R.SORENG says:

    WAH MANTABZ ABIS KMPNG BT,,,, HEHEEHEHE,,,, MAKASI YAH UDA MAU PROMOSI KMPNG SAYA,,,, MAKASI,

  • ibnu says:

    indah nian pemandangan artikel yang panjang ini (eh?) pemandangan alamnya subhanallah bikin pingin

  • Arman says:

    poto2nya keyen….

    :melongo

  • budi santosa says:

    wah jadi kepinginn kesana dengan keluarga,didampingi si bolang singgih ora jelas.,tks:-)

  • noped says:

    Menarik sekali postingan nya.
    Kapan ya bisa maen kesitu.
    Harus prepare segalanya.

    Salam dari kuta Bali

  • giewahyudi says:

    Gilak nih, udah super duper panjang, fotonya juga keren-keren, eh yang pingsan itu siapa Mas?

  • baburinix says:

    woiii….keren abis…kapan ya bisa jjs ke Sawai?

  • retno says:

    posisi lagi disawai nieeeeee, bareng keluaga dan mas Singgih ora jelas, best recomanded dehhhhhh kereeeeen abisssssss dan penuh tantangan juga rintangan 🙂

  • Hei bang , itu camera keren amat -__-”
    boleh pinjem untuk dokumentasi produk yang aku pasarin ?
    hehe
    produknya bagus sihh , tapi publishingnya kurang menggoda …
    ayo dong pinjemin camerana …
    *maksa

  • aem says:

    aduh keren banget…..rencananya mau ke sawai bareng temen2 dalam waktu dekat ini sebelum ramadhan…..dan rencananya mau bawa keluarga masing2.oia,klo bawa batita umur 2 tahun n bayi 10 bulan bisa gak y…..??? hehehe…thnks

  • Singgih Susbi antoro says:

    memang tempat yg sangat indah.. bener2 indah..

  • Randy Michael says:

    Memang Surgax di ujung Seram….. pengen datang lagiii, trims teman ku sibolang Singgih Ora Jelas

  • SAWAI emang luar biasa..!!

  • Abied says:

    Beneran dah panjangnya. :mrgreen:
    Mantap pemandangannya Bang. Yang buaya itu warnanya lebih coklat dari yang biasa saya lihat. Saya seringnya liat buaya agak putih, dengan ekor buntung. hahah .. buaya darat.
    Nulisnya berapa lama ni?
    Ckckck …
    Salut untuk photography-nya deh. Bang Almas memang joZZ!

  • Abied says:

    Moga kapan-kapan bisa ke sana Bang. Pengen. 🙂

  • prischa kezia says:

    What a beautifull my MOLUCCAS..

  • Ruslan says:

    Bang …
    total butuh budget berapa ya kesana ???
    mupeng pengen keliling daerah maluku selatan 🙁

  • almascatie says:

    @all
    thanks yah 🙂

    @Ruslan
    Kemaren pas kita kesana untuk 3 hari 3 malam 1.5 juta per orang bro. itu sudah termasuk degnan tour menyusuri sungai salawai buat liat buaya itu dan juga tour rumah pohon.
    🙂

  • rainy says:

    Menarik sekali ..Saya jadi kepikiran mau ke sana lebaran besok… boleh minta no telp Pak Ali? Thanks ya…

  • almascatie says:

    @rainy
    engg.. aku cari dulu yah Bu, maaf, hp kemaren rusak nomor beliau ilang 🙁
    tapi temen2 sering kesana sih dan info terakhir sebaiknya cek dulu karena bulan2 depan ini termasuk bulan ramai pengunjung.

  • naldhy says:

    sawai negeri tercinta,,,, kecamatan seram utara maluku tengah ,,, tepapnya di kecamatan WAHAI,,,,,negeri yg elok akan keindahan wahana hutan, pantai, laut, gunung, air,,,dll,,,,
    HATUPUTI ASINAHU

  • anto says:

    wah mas tulisannya dan fotonya mangstapss banget, sedikit koreksi yaa mas, Sawai tidak masuk kawasan TN. Manusela mas, tapi sawai termasuk desa penyangga kawasan,hehee,,ditunggu kkunjungannya di Manusela Selatan yaa,, hehee,, atau di puncak 3027 mdpl Binaya,, hehee,, salam buat teman2 aja,,makasih

  • diori says:

    subhanallah.. indah banget.. mas aku minta no telp pak ali ya. sama kalo boleh dikasih tau rincian budgetnya buat liburan kesana.

  • almascatie says:

    @Anto
    semoga ada kesempatan saya naik ke Manusela. bisanya baru lewat bagian bawah nya aja nih 😀

    @Diori
    sila di cek emailnya yah pak 🙂

  • iin says:

    cantik banget tempatnya,
    Indonesia mang T O P B G T

  • Rio Indrawan says:

    @Almascatie,

    salam kenal,
    boleh tanya kalau dari Masohi ke Sawai apa ada angkutan/kendaraan yang bisa disewa dari pelabuhannya ?
    boleh share lebih lengkap atau ada nomer kontak kendaraan yang bisa disewa ke Sawai ?

  • almascatie says:

    @iin
    makasih 🙂

    @Rio
    Salam kenal juga Bung, angkutan ada, sewa juga ada kok pak. tapi lebih baik kalo cari sewa di terminal masohi, soal harga sekitaran 500-600 ribuan sekali trip ke Saka.
    kalo angkutan sektiaran 70-80 ribu.

    eng.. kalo info lebih lanjut dll bisa hubungi ke Email sayah pak di almascatie[at]yahoo.com
    makasih. 🙂

  • Lieke says:

    2 minggu yang lalu baru, saya baru dari sawai.. duuhh..!! kerennya mampus..!!! Lisar Bahari adalah penginapan yang sangat amat diREKOMENDASIKAN..!! bapa ali dan mama sal, juga sangat baik..!!
    January mau balik lagi kesana, kemaren cm # hari dan persiapan kurang, jadi ga bisa ke platform atau ke salawai.. ayoo, yg mau ke sawai, akyu ikuuuttt.. 😀

  • DANIEL T. says:

    MANTAP………………….

  • tri says:

    wahhh betul …….
    saya sudah 8 bulan dipulau seram
    taggal 20 september saya baru ke sawai
    memeang keren bgt…..

  • tri says:

    wahhh betul …….
    saya sudah 8 bulan dipulau seram
    taggal 20 september saya baru ke sawai
    memeang keren bgt…..
    beta pung no tlp pak ali he he he

  • purple says:

    indah bangeeettt
    mauuu kesanaaaa….

  • almascatie says:

    @tri
    selamat menikmati…

    @purple
    kapan?

  • Joe says:

    Adakah jasa Agen tour yang dapat kita gunakan hingga siap bayar aja, pokoknya langsung ngunjak Sawai..??????
    kagak tau siapa dan bagaimana soal Sawai jadi gitu..
    aku suka sangat dengan menginjak daerah baru..
    dalam Rencana, mau Reunian dengan teman SMP di ORI, tetanggaan Sawai katanya tapi kita kalah cepat, lokasi da penuh…
    Segala Sesuatu dah aku jadikan Promo Juga baik dari kata “Nekat” adalah kata pertama yang terlintas di pemikiran untuk jalan2 hingga photo2 pemandangan sawai yang tak termuat di atas ini.. selamat menikmati….Thanks..Maluku Go Go Go..!!!

  • almascatie says:

    @Joe
    kalo ke sawai belum ada, tapi kalo mau saya bisa bantu 🙂

  • tieka says:

    my kampoeng 😀

  • Soraya says:

    Sawai That is Beautiful My Village :-))

    Apalagi kalo udah mandi ” air asinahu ” and piknik ke tempat2 yang bagus & indah di sekitaran sawai , beeeeh mantaaap banget dah buat liburan , foto2 dan menghilangkan rasa penat 😀 like this ^o^/

    kalo udah pulang ke sawai mah , rasa2 males balik ke jakarta 😀

  • almascatie says:

    @Tieka
    rumah sebelah mana? sesekali katong mampir e 😀

    @Soraya
    🙂 kapan pulang/

  • dskania says:

    duh jd mengingat waktu dulu ke sawai… emang beneran tak terlupakan dan bikin kangen terus 🙂

  • rifan says:

    bulan desember n januari durennya ghy mna,,,,,,,,,,,,,
    jadi pengen pulang ngumpul mha keluarga di sna,,,,,,,,,,, kangen smuanya

  • rifan rumasoreng says:

    habis duren sambung mha langsa yach,,,,,,, asyik thu

  • Andi Parenrengi says:

    Menarik juga baca ceritanya ke Sawai. Saya ada teman seorang Jerman ingin ke Sawai dan dia berikan rute sbb:
    Hari 1: Tiba di ambon
    Hari 2: Ambon-Saparua-Mahu
    Hari 3: Mahu Amahai-Sawai
    Hari 4: Sawai-Kasawari-Sawai
    Hari 5: Sawai-Masohi-Ambon

    Entah dari mana dia dapat rute ini. Bisa bantu saya dan ada saran mengenai rute ini atau ada saran yang lebih baik?
    Terima kasih sebelumnya.

    Salam dari Makassar

  • almascatie says:

    @Pak Andi
    uhmm… kalo dari rute yg beliau kasih, sepertinya itu trip yang dilakukan adalah muter2 keliling tuh, Desa Mahu sendiri berada di wilayah Pulau Saparua, beda pulau dengan Sawai yang di Seram,
    soalnya kalo pengen lansung ke sawai rutenya : Ambon – Masohi – Sawai aja, tapi kalo ingin muter2 sih bisa pake rute yg beliau kasih.

    salam :O

  • kelvin says:

    sori bu, , , kalau bu katakan sawai merupakan negeri adat saya keberatan akan hal itu,,, klw di katakan sebagai desa okey,,,, karna bu tidak tau akan sejarah di seram khususnya di bagaian swa dan rumah olat dan sekitarnnya,,, kalau emang bu katakan swai negeri adat coba bu minta buktinya kalu betul dia neger adat… sebentar lagi akan terungkap siapa yang negeri adat sebenarnya,,, samapi dha terbukti saya akan kasi tau identitas saya yang sebenarnya. . . kalau bu mau moment terindah cobalah ke solomena dan hualu,, disithu bu akan temukan cerita yang sebenarnya, , ,

  • Theresia says:

    Saya Theresia Farneubun, Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Jurusan kehutanan
    Saya boleh minta rute perjalanan ke Taman Nasional Manusela tidak???
    sekalian dengan aksesibilitas dan harganya, karena akan ada ekspedisi studi konservasi lingkungan mahasiswa Institut Pertanian Bogor ke TN Manusela dan saya masih belum tau kondisi di sana.
    Terima kasih sebelumnya!

  • almascatie says:

    @nabila
    hayok nulis lagi.

    @Bung Kevin
    untuk keberatannya mungkin bung bisa kasih penjelasan dikit tentang itu.. saya orang luar sih jadi kurang paham mengenai perdebatan tentang itu 🙂

    @Theresia
    hi Thereasia, sila kontak ke email saja yah di almascatie@yahoo.com biar ngobrolnya bisa lebih enak.. thanks nona 🙂

  • chanee says:

    sumpah indah bos..kalo aja bisa cuti…

  • MEMEY says:

    pengen pulang ke sawai tapi, tak ada yang temani….

  • Ranny says:

    waaa… kece banget. Jadi ga sabar menuju sawai.
    2 hari termasuk perjalanan ke sawai kayaknya kurang ya..
    Maaf mas mau tanya, kira2 kita harus pergi jam berapa dari lisar bahari u/ perjalanan balik dari sawai menuju masohi mengejar speedboat jam 2 siang?
    Terimakasih banyak

  • almascatie says:

    2 hari? duh bukan kurang lagi tuh tapi cuman dapat capeknya aja mbak Ran hehehheehhe
    setidaknya kalo hari pertama mbak baru dari ambon maka sampai di sawai sekitar jam 3 sore. Besok paginya sekitar jam 7-8 pagi sudah harus kembali lagi agar bisa dapat kapal cepat (bukan speedboat) ke ambon itu mbak 🙂

    makasih.

  • Ranny says:

    Makasi mas responnya.
    Iya ya klo cuma 2hari pp dapet capenya doang.. *sedih*
    Klo punya waktu 5 hari di Maluku, ada rekomendasi gak rute perjalanannya kemana aja? Soalnya tadinya mau bagi 2 pulau ambon – seram utara.
    Terimakasih 🙂

  • almascatie says:

    @Ranny
    eh mbak kenal ama Yuli yah? 😀
    kemaren ngobrol2 sama dia juga sih disini..

    mungkin pulau osi bisa di jangkau deh, 2 hari ambon 2 hari ut ke pulau osi di seram dapet deh 😀

  • almascatie says:

    @ranny
    argghhh saya lupa tanya mbak sampe di ambon pagi apa siang? sebenernya mbak bisa maksimalin 5 hari itu sih, dari jakarta ndak singgah ambon tapi langsung sawai, 3 hari disana dan balik ke ambon jalan2 dalam kota dll bisa 2 hari sebelum brangkat. itu maksimal sih kalo mau lima hari disini

  • fitry anggriani ayal says:

    pengen ke taman nasional manusela….

  • satry says:

    sungguh indahnya teluk sawai itu, sudah lama Q tidak k sana, padahal Q orang bagian sana….. huuuufffft pengen k si2

  • Usman says:

    Waaah, indah.. ^^
    Minta lamannya ya, buat dipajang laman wajah, ^^

  • Usman says:

    Di laman wajah maksudnya, ^^

  • freshly pangau says:

    wah keren nih…bisa ngalahin Raja Ampat…
    aq rencana ke sawai awal bulan mei…
    ada yg mau ikut?

  • virna says:

    hi lagi nyari org yg bisa bantu nemenin foto2 di sawai, sy hny ada libur terbatas, bln Juli 1-8. Tempat yg ingin dtuju tree canopy dan ora resort (sehari aja dsini takut kmahalan..he3) Kalo ada cewenya yg hobi foto lbh oke lagi:)

  • almascatie says:

    @Virna

    halo mbak Vir, uhmmm aku kirim emel di gmail yah mbak 🙂
    biar diskusinya ndak ga ganggu disini hehehehe
    dan semoga saya bisa membantu :

  • fia letahiit says:

    Desa sawaiku tercinta sungguh elok panoramamu..

  • fia letahiit says:

    kevin emangnya kamu tau apa tentang desa sawai, tau sejarah dari mana kamu, kalau saudara tau coba di jelaskan, hati – hati kalau berbicara tentang sejarah kalau pengetahuan saudara hanya sedikit.

  • Valent says:

    heellloooo..
    heheheee.. lucu jg nie blognya mas..
    salam kenal,ini valent dr Smg..
    rencana sih skitar bln Nov kita mo kesana ma tmn2..
    backpackeran.. kira2 estimasi smpe brp ya klo kita nginap+tour disana..???
    aku dpt info dr tmn2 view dan alamnya msh asli jd cucok buat refresh hahahaaaa…

  • almascatie says:

    @Valent
    😀 hayok mas.. kesinilah, kirim emel aja mas, nanti aku bantu buat estimasinya sampe disana, bekpekeran to mas? makin murah deh :D, aku udah kesana dgn bekpekeran.

  • Valent says:

    aduh mas…
    saya bukan mas hahahahahaaa…
    oke aku email…


Leave a comment